
Masih gelap di kota Jombang, masih hujan walau gerimis dengan intensitas agak deras. Masih berkabut dan suara gelegar guntur juga petir masih terdengar jelas.
Teriakan dan jeritan masih terdengar di setiap sisi kota. Darah jelas terlihat setiap sudut beberapa ada yang menjadi genangan pada aspal-aspal yang berlubang.
Tumpukan-tumpukan mayat serta tulang belulang masih berserakan. Ada beberapa burung pemakan daging dan bangkai beterbangan ke sana-ke mari kadang hinggap di salah satu tumpukan mayat. Mencuil satu lalu pergi, kadang menetap agak lama. Sambil mematuk-matuk satu sisa tubuh yang terkapar.
Bau anyir darah jelas menyengat kini di seluruh bagian kota. Bau bangkai dan suasana yang menjijikkan sudah lumrah jadi pemandangan.
Tetapi sunyi di kota mati ini semakin menjadi-jadi. Hanya ratapan angin yang seolah menggambarkan derita atas kematian para punggawa dan warga dan para kesatria kota Jombang. Menjadi irama kengerian tersendiri dengan mendendangkan melodi kematian khas tanah pekuburan.
Masih ada bayangan-bayangan satu atau dua melintas milik setan dan siluman dan jin dan hantu yang lewat. Mereka datang mengambil satu potongan mayat sambil tertawa terbahak-bahak lalu pergi kembali.
Setelah raungan rasa marah dari setiap bayangan Wahyu. Kali ini tidak ada lagi bangunan yang benar-benar utuh berdiri. Karena suara tangisan dari rasa kepahitan dan kepedihan. Lalu bertumpuk menjadi satu menjadi kemarahan.
Membuat teriakan pemuda nomor satu di antara seluruh pejuang yang tengah berperang di kota Jombang tersebut begitu menggetarkan kota Jombang. Buminya terguncang dan seakan langit terbelah beberapa saat kala raungan rasa marah Wahyu terdengar mengerikan bergema.
Bahkan teriakan pilu tersebut, membuat beberapa tanah dan aspal di beberapa tempat retak-retak. Membuat seluruh bangunan yang masih berdiri roboh semua dan kota Jombang benar-benar runtuh rata tanah.
Pada sebuah tempat bekas sebuah taman kota bernama Kebon Rojo yang tak jauh beda dari tempat lain. Hancur berantakan dan tiada sisa bangunan yang berdiri. Padahal sebelum perang, tempat ini begitu indah, rindang dan asri. Sebelum perang tempat ini adalah taman rekreasi tengah kota.
Pada tempat ini tak jauh beda dari tempat lainnya. Sudah barang tentu ada satu atau dua petarung tengah mengadu kekuatan di sana. Kali ini di bekas taman Kebon Rojo tengah kota. Terjadi pertarungan sengit pula antara saudara kembar namun berbeda aliran.
Antara satu orang pendekar wanita yang jua termasuk salah satu panglima Srikandi TOH era Level Up. Lalu yang ia lawan adalah saudara kembarnya yang notabenenya pemimpin para dukun wanita yang sangat melegenda.
Satu sisi dari golongan putih bernama Yayu Yuwana. Lalu satu sisi dari golongan hitam jua bernama Yayu Yuwana. Mereka sebenarnya kembar identik dari sisi segala bentuk tubuh, rupa dari ujung rambut sampai ujung kaki semua sama tiada beda. Tetapi entah mengapa sifatnya sangat bertolak belakang.
Satu lebih tua beberapa jam saja memilih jalan hitam. Menjadi dukun wanita sakti yang terkenal begitu kejam. Bahkan beredar cerita lawannya tiada pernah utuh bila mati di tangannya.
Satu lebih muda beberapa jam saja memilih golongan putih. Jua sangat tinggi teknik dan seni pengetahuan bela diri silat gaib. Jua salah satu kaki tangan kepercayaan Ibu Sari selain Sekar Arum.
“Kakak sudahlah bertobatlah dan hentikan semua keburukan sifatmu. Hentikan semua kebiadaban tingkahmu, serta kejahatanmu yang sudah menggunung itu,” ucap Yayu Yuwana yang menyandang sebagai adik dari golongan putih.
Yayu Yuwana yang berstatus adik tengah terengah-engah sambil membawa pedang di tangan kanannya. Bajunya sudah compang-camping dan ada luka sayatan di beberapa tempat. Namun dia tetap tegak berdiri dan masih mau terus meladeni kakaknya.
Yayu Yuwana yang berstatus adik adalah salah satu petarung wanita ahli pedang selain Sekar Arum dan Ibu Sari. Bahkan disebut-sebut pedangnya pernah membunuh ratusan setan.
“Jangan bercanda kau Adikku bicara apa kau. Selama ini aku yang menemanimu hingga kau menyandang nama besar seperti sekarang ini. Selama ini semenjak Ayah dan Ibu kita tiada puluhan tahun silam. Aku yang menemanimu suka maupun duka. Aku mengizinkanmu belajar teknik silat gaib golongan putih, aku yang mengantarkanmu saat belajar di padepokan Haji Jaka di ponpes As Salam. Apa seperti ini balasanmu pada Kakakmu ini Adikku!” teriak Yayu Yuwana yang berstatus Kakak begitu marah dengan wajah dan pandangan kecewa berat.
“Ingatlah Kakakku aku selalu patuh kepadamu. Tak pernah sekali saja aku melawan perintahmu dan aku selalu menghormatimu. Hingga saat ini aku masih memanggilmu Kakak dan akan tetap menganggapmu Kakak dari saudara kembarku. Karena tulisan di langit seperti itu dan akan tetap seperti itu. Tetapi jikalau masalah keyakinan dan keimanan yang kau ajukan kepadaku. Maka dengan terpaksa aku memilih bertarung melawanmu. Walau pada akhirnya di antara kita akan ada yang mati. Akan tetap akan aku lakukan Kakak Yayu Yuwana,” ucap Yayu Yuwana yang memiliki status sebagai Adik. Dia mulai berlari ke arah Yayu Yuwana yang memiliki status sebagai Kakak. Menyerang dengan pedangnya yang memiliki energi petir.
“Akan kuberi kau ganjaran yang setimpal Adikku. Karena melawan Kakakmu sendiri, ingatlah siapa yang pertama kali memberimu julukan Sang Dewi pedang dari kota Jombang. Bersiaplah Adikku kali ini Kakakmu ini tak akan segan-segan lagi. Aku kakakmu tak akan berbaik hati lagi untuk membiarkanmu hidup. Kali ini akan aku kirim kau ke tempat Ayah dan Ibu di alam baka,” teriak Yayu Yuwana yang berstatus sebagai Kakak. Ikut berlari menyongsong sang Adik dengan senjata tongkat arwah andalannya.
Dar, dar, dar, ting, ting, tang, ting,
Suara-suara benturan kedua kekuatan saudara kembar akhirnya kembali bergema. Setelah beberapa saat mereka beradu argumen akan sikap dan komitmen mereka masing-masing dan pandangan dari sudut pandang keyakinan mereka masing-masing.
Kekuatan pedang petir dan tongkat arwah yang melegenda terus beradu dan sama kuatnya. Kali ini mereka berdua tengah beradu kekuatan dan sama-sama dalam posisi menangkis serangan.
“Selama ini aku diam dan tak mengungkapkan rasa kekecewaanku padamu Kakak. Aku tahu sebenarnya kau yang membunuh ke dua orang tua kita demi ilmu hitammu yang sesat itu bukan?” teriak Yayu Yuwana yang berstatus Adik melepaskan tangkisan pedangnya dan melompat ke belakang.
“Hendak ke mana kau Adikku, kau tak mengerti duduk permasalahannya bukan. Asal kau tahu guru ilmu hitam yang aku kuasai hingga aku memiliki posisi sekarang ini adalah Ibu kita sendiri,” ucap Yayu Yuwana yang tiba-tiba sudah menjadi dua sosok. Satu di belakang Yayu Yuwana yang berstatus Adik. Sambil mengunci leher dan menekuk tangan kanannya ke belakang. Memegang tangan kiri Adiknya dengan cara mengarahkan pedang Adiknya sendiri ke arah lehernya.
“Dengan begini sudah selesai Adikku sayang,” ucap Yayu Yuwana yang berstatus Kakak tersenyum menyeringai merasa dirinya sudah menang dan bakalan mampu membunuh Adiknya. Seperti yang ia inginkan selama ini dan belum kesampaian, karena selalu dihalangi oleh Halilintar.
“Kakak kau!” ucap Yayu Yuwana yang berstatus Adik dengan wajah kaget.