TOH Level Up

TOH Level Up
Ambon sekarat



“Diam ya sayangku Seruni sakitnya enggak lama kok nanti juga lama-lama enak,” celoteh Ireng mulai mengarahkan rudal tempurnya ke arah area paling sensitif milik Seruni yang sudah tidak memakai busana sehelai benang sekali pun. Begitu jua dengan Ireng yang hendak memasukkan rudal tempur miliknya ke dalam sebuah gua keindahan yang paling diminati para pemuda.


Cek, cepek, cepek crek,


Tanpa disadari oleh Ireng ada langkah kaki berlari di atas aliran air sungai di bawah tebing tempat ia memaksa Seruni melayani nafsu bejatnya. Sebuah langkah kaki berlari yang begitu cepat lalu melompat ke arah Ireng.


Ternyata langkah kaki berlari di atas air itu milik Elang sang kakak lelaki Seruni. Elang dengan cepat melompat ke arah Ireng. Tangan Elang seakan mencabut sesuatu dari ubun-ubun Ireng.


Ternyata yang tercabut dari ubun-ubun Ireng adalah ruh inti dari tubuh Ireng. Elang jua sempat menyelimutkan kain sarung bermotif batik warna hitam untuk menutupi tubuh sang adik Seruni.


“Argtz, Argtz, kau Elang, kapan kau ada di sini. Loh, loh, loh, tubuhku. Kau mengambil ruhku Elang, kenapa aku tak menyadari kehadiranmu?” omel Ireng yang dalam wujud ruh dan tengah di seret oleh Elang.


“Sebab kau manusia yang hanya mementingkan hawa nafsu setan durjana semata. Seharusnya kau tahu pengertian cinta sebenarnya bukan hanya antara tubuh dan nafsu semata. Maka aku datang bukan sebagai kakak dari Seruni. Tetapi aku datang sebagai penghukum manusia bejat sepertimu Ireng. Enyah kau dari muka bumi sampah!” teriak Elang menatap ruh dari Ireng dan ruh Ireng pecah berkeping-keping hancur tak kembali.


Elang berjalan menghampiri tubuh Ireng yang masih ada di atas Seruni. Seruni jua masih tak bisa bergerak sama sekali. Seruni masih dipengaruhi totok jalan darah milik Ireng.


Bruk, byur,


Sekali tendang tubuh Ireng jatuh ke atas aliran sungai yang deras. Tubuh Ireng bahkan hancur terkena bebatuan besar di dasar sungai. Begitu keras efek dari satu teknik jurus yang diturunkan oleh Lurah Dava pada Elang. Teknik tatapan penebusan kesalahan.


Teknik ini bekerja merusak organ dalam dan membekukan darah. Secara otomatis tubuh dari lawan yang terkena tatapan pengguna teknik ini akan membatu. Apabila terkena benturan sekecil apa pun pasti akan hancur seketika.


“Untung masih sempat Dek, maaf Kakak datang agak telat. Sudah jangan menangis Kakak ada di sini. Tak akan aku biarkan siapa saja menyentuh tubuh adikku walau setan sekali pun,” ucap Elang membebaskan totok jalan darah di tubuh Seruni dengan cara yang sama menotok pusat-pusat aliran darah di tubuh Seruni.


“Akak Elang! Aku takut Kak, hikz, hikz, hikz,” ucap Seruni langsung menghamburkan pelukan kepada Elang dengan menangis sejadi-jadinya.


“Sudah-sudah semua sudah aman. Makanya lain kali kalau bertarung jangan pakai emosi. Kamu ini dibilangi selalu mengeyel sih. Sudah ini pakai saja kain ini sebagai bajumu. Aku rasa cukup untuk menutupi seluruh badanmu Dek. Kamu masih punya tenaga bukan, kita bermain sebentar menghabisi padepokan pekuburan. Masih bisa bukan bertarung? Adikku harus kuat tak boleh cengeng,” ujar Elang tersenyum sambil mengusap air mata Seruni.


“Masih Akak, aku masih kuat bertarung. Mas Ambon masih berjuang di pemakaman itu. Kita ke sana Kak, kita habisi semua mereka yang merencanakan untuk menjebak Adek. Mereka merencanakan bertarung terpisah. Sehingga Adek Cuma bertarung berdua dengan Ireng. Lalu terjadilah peristiwa memalukan ini,” jawab Seruni sambil membenahi letak kain yang telah ia lilitkan ke tubuhnya sepenuhnya.


“Loh Mas Wahyu benar-benar sudah kembali Kak, benar kah Kak. Adek kira Akang Ambon hanya bercanda. Tapi kemarin aku sempat bertemu bayangan Mas Wahyu. Aku kira tubuh aslinya masih mengembara dan hanya bayangannya yang ada di kota ini,” tutur Seruni mengambil pedangnya yang menancap di salah satu batu besar tak jauh dari tempatnya semula terbaring beberapa waktu lalu.


“Kamu ini bercanda apa masih dalam pengaruh totok jalan darah. Beberapa saat yang lalu yang menemui kamu itu yang asli Dek,” ucap Elang bergegas berlari cepat menuju ke arah pemakaman.


“Eh Akak tunggu, ia, ia, aku kan tidak bisa membedakan mana yang bayangan dan mana yang asli,” jawab Seruni ikut berlari menyusul Elang.


Sementara itu di area pemakaman Ambon dan Ki Codet masih terus bertarung. Tetapi kali ini Ki Codet dalam kondisi di atas angin. Ambon terlihat sangat kewalahan meladeni jurus-jurus Ki Codet. Sebab Ki Codet dapat memanggil berbagai macam jenis setan dalam jumlah besar.


Karena kalah jumlah melawan murid-murid Ki Codet dan para setan yang dipanggil oleh Ki Codet. Sampai-sampai kelompok Klan Kardi terpojok di tepi-tepi makam. Mereka hampir semua tergeletak tak berdaya terkena serangan-serangan para setan.


Kali ini Ambon tengah dikunci oleh Ki Codet di bagian lehernya. Sedangkan tangan kiri dari Ambon ditekuk ke belakang oleh Ki Codet. Tangan kanan Ambon tampak berusaha melepas golok Ki Codet yang sudah menyayat leher Ambon agak dalam.


Darah tampak mengucur di sela-sela sayatan leher. Merembes melalui sisi luar mata golok milik Ki Codet dan sebagian jatuh ke pundak Ambon. Tampak Ambon sangat kesakitan meronta-ronta.


“Malam ini kau akan mati dimakan oleh golok setan milikku pemuda sombong. Kali ini kau rak akan lagi berbicara dengan mulutmu yang congkak itu,” cetus Ki Codet rupanya memiliki dendam pribadi dengan Ambon.


“Apa yang kau katakan Ki Codet? Bahkan bertemu dirimu baru beberapa kali saja. Seolah-olah kita adalah musuh bebuyutan puluhan tahun lalu,” ujar Ambon merasa ada yang aneh dari ucapan Ki Codet.


“Entah kau atau bukan, tetapi aku pernah dikalahkan beberapa kali oleh wajahmu ini. Saat itu seseorang dengan wajah ini begitu sombong terus mengalahkanku. Jadi malam ini dendamku terbalaskan sudah. Apalagi tentunya Ireng anakku itu bisa saja sedang menikmati indahnya Tuan Putri yang kau jaga itu,” ucap Ki Codet menampakkan wajah semringah merasa menang dan sudah pasti dapat membunuh Ambon.


“Kau salah orang Ki dan kau keliru akan wajah ini. Memang aku dan Ayahku sanggatlah mirip. Tapi aku bangga apabila Ayahku pernah mengalahkanmu beberapa kali. Kau memang pantas untuk dikalahkan dan kali ini kau jua akan dikalahkan Ki,” jawab Ambon mengatakan ternyata musuh Ki Codet puluhan tahun lalu adalah Ayah Ambon sendiri.


“Aku akan dikalahkan dengan kondisi lehermu yang tinggal separuh lagi terpenggal ini. Jangan bercanda anak muda rupanya benar kau sama dengan Ayahmu begitu sombong. Biar aku akhiri penderitaanmu sampai di sini anak muda,” ujar Ki Codet menekan goloknya semakin dalam di leher Ambon.


“Tidak ketua...!” teriak salah satu anggota klan Kardi yang tak jauh dari posisi Ambon. Saat melihat Ambon tengah digorok oleh Mi Codet.