
“Aku tidak menyangka kalau kau juga petarung handal Dokter. Selama ini aku telah salah menilaimu sebagai Dokter keluarga Jaka, uhuk, uhuk,” Pak Bupati Bagus tampak memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Bajunya sudah tak ada lagi dan beberapa bagian telah robek. Kedua tangannya telah tertebas oleh kampak dan pedang Dokter Dono beberapa hari yang lalu.
“Aku juga tak menyangka kalau kekuatan orang yang menyandang penasihat ketua pusat. Orang yang sebenarnya dan seharusnya duduk dipuncak terkuat petarung kota Jombang. Bahwa kekuatannya sangat mengerikan dan aku akui itu. Kau adalah orang bahkan makhluk pertama yang dapat memojokkanku hingga seperti ini. Aku sampai harus mengeluarkan semua simpanan kapsul hewan peliharaanku, sial aduh,” ucap Dokter Dono.
Dokter Dono tampak lebih parah lagi keadaannya dibandingkan dengan Pak Bupati Bagus. Sebenarnya Dokter Dono apabila tak ditopang dengan tubuh mesinnya. Tentu dia sudah habis beberapa hari yang lalu.
Tapi kali ini tubuh robotnya sudah mati, karena hantaman keras dari pukulan terakhir dari gada Hanoman beberapa saat lalu. Dimanah Hanoman telah dipanggil oleh Bupati Bagus dan sekarang sudah kembali lagi. Karena masa pemanggilan tentu sudah habis dan hanya terbatas.
Duel antara Pak Bupati Bagus versus Dokter Dono. Ternyata sudah berlangsung berminggu-minggu lamanya. Bahkan sudah banyak kesatria yang tumbang di medan perang area kota Jombang dari kedua belah pihak.
Dokter Dono sudah tak dapat bergerak kembali dan dia tengah terkapar di antara reruntuhan bekas kantor Bupati. Tapi dia masih dapat tersenyum dibalik rasa sakitnya.
Seakan ia menyimpan satu kartu As. Menyimpan teknik terakhir untuk mengakhiri perlawanan Bupati Bagus.
“Kau sudah tak berdaya Dokter dan lebih baik sudahi semua ini. Kembalikan jasad-jasad para petarung TOH dan para saudaraku. Aku akan mengampunimu dan membiarkanmu seperti ini hingga kau mati dimakan burung,” ujar Bupati Bagus menyeimbangkan berdirinya dengan susah payah.
“Jangan terlalu sombong kau Pak Bupati. Bahkan kau tak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kau atau aku yang akan mati tak akan ada yang tahu bukan yang jelas saat ini kita sama-sama tak berdaya,” jawab Dokter Dono.
Tiba-tiba ada seseorang yang datang dengan cara melontar dari kejauhan. Seakan dilontarkan oleh meriam dari arah gunung Anjasmara area kecamatan Wonosalam.
Dar,
“Dokter Dono, Dokter Dono, lama sekali kau menyelesaikannya. Aku sudah lelah menunggumu di Brankas hitam milikmu. Tentu aku tak punya banyak waktu dan cepat selesaikan dengan segera,” ucap seseorang yang datang dengan cara melontarkan diri.
Ternyata dia adalah Mr. Toni sendiri yang datang. Seorang miliarder dan jua petarung gaib dari kota Surabaya. Mr. Toni adalah otak dan pendana utama dari penelitian Dokter Dono. Tentang pembuatan manusia robot atau manusia buatan.
Mr. Toni sendiri sebenarnya sudahlah sama seperti Dokter Dono. Badannya sudah bukanlah asli badan manusia. Bahkan kepalanya sudah ditanam selayaknya robot sungguhan.
“Pak Toni akhirnya kau datang juga. Lama sekali kau baru datang Pak Toni,” ucap Dokter Dono yang sudah tak berdaya.
“Halah kau sudah terkapar seperti itu masih saja banyak bicara. Biar aku selesaikan Pak Bupati Bagus ini dan kau diam saja di situ,” ucap Mr. Toni berjalan ke arah Bupati Bagus yang sudah begitu terluka dan tengah bersandar pada bekas reruntuhan.
“Pak Bupati aku datang, mari selesaikan saja denganku,” ucap Mr. Toni seakan mengejek Bupati Bagus dan seakan sudah memastikan kemenangan.
“Heh, akhirnya dari semua akhir perjuanganku tuntas di malam ini. Semoga arwahmu tenang di sana Dek Vivi dan maaf. Kali ini aku akan menyusulmu dan jikalau kita bertemu nanti. Jangan lagi kau marahi aku ya sayang, karena aku sudah berjuang sedemikian rupa. Tetapi kau tahu tubuhku masihlah manusia bukan robot,” gerutu Bupati Bagus tampak pasrah.
“Matilah kau Pak Bupati Bagus!” teriak Mr. Toni melayangkan gergaji besi ke arah kepala Bupati Bagus.
Teng,
Tapi ternyata masih ada kesatria TOH yang datang menghalangi niat dari Mr. Toni untuk membunuh Bupati Bagus. Sosok macan alas bertubuh hitam legam. Seolah manusia setengah macan tersebut terbuat dari batu.
Sebab sosok tersebut menangkis gergaji mesin dari tangan Mr. Toni hanya dengan tangan kosong saja tanpa satu senjata di tangannya.
“Lukman, kau kah itu?” samar-samar Bupati Bagus melihat sosok tersebut tersenyum.
“Tidak baik seorang pemimpin tertinggi menyerah begitu saja Mas Bagus. Mungkin kalau Jaka masih hidup dia tak akan menyerah begitu saja. Walau tinggal satu kaki di badannya,” ucap sosok setengah manusia setengah macan yang berdiri di depan Bupati Bagus.
“Apa kau Lukman, bukankah Lukman temanku sudah lama mati?” tanya Bupati Bagus mencoba berdiri kembali dengan susah payah.
“Teknik ini memang hanya aku dan Mas Lukman yang menguasainya. Aku Pendik Mas masal kau lupa dengan model rambutku. Walau kami berubah wujud seperti ini, tetapi rambut kami tetaplah sama seperti wujud manusia. Istirahatlah Mas Bagus biar aku yang melanjutkan pertarungan,” ucap Panglima Pendik yang kali ini datang dengan wujud manusia harimaunya.
“Entah kau siluman atau manusia harimau. Bahkan setan pun tak mampu menghadapi mesin. Maka dari itu masa kejayaan petarungan manusia dan setan sudahlah berakhir. Sekarang masanya mesin berkuasa dan bangkitlah pasukan mesinku,” koar Mr. Toni membangunkan ribuan manusia mesin dari dalam tanah.
Manusia-manusia mesin itu bergerak menuju Bupati Bagus dan Panglima Pendik yang hanya berdua saja. Bahkan seribu manusia mesin semua sama berwajah Haji Jaka. Hanya saja mereka semua bertubuh mesin.
“Pendik akhirnya aku jua tak bisa beristirahat. Semoga anak-anak kita di masa depan mampu menghadapi mereka ini. Semoga kota Jombang tetap berdiri dari generasi ke generasi. Pendik kali ini tinggal kita berdua di kota ini. Mari kita berjuang sampai akhirnya kita sudah tak mampu lagi walau hanya untuk bernapas,” ucap Bupati Bagus tersenyum pada Panglima Pendik.
“Mari Mas Bagus demi anak cucu kita di masa yang akan datang. Agar mereka berkata bahwa kita leluhur mereka sekarang. Tidaklah berpangku tangan dalam menjaga keutuhan kota Jombang. Mari kita lakukan Mas dengan sisa-sisa tenaga dan kekuatan terakhir kita,” ujar Panglima Pendik jua tersenyum pada Bupati Bagus.
“Ah banyak bicara kalian berdua, wahai pasukan mesinku serang mereka berdua!” teriak Mr. Toni mengawali perintah serangan dari seribu manusia mesin dan malam ini adalah malam akhir TOH era tua. Sebab malam-malam berikutnya adalah sebuah kegelapan bagi kota Jombang. Sebuah kengerian berkepanjangan yang seakan tiada habisnya.