TOH Level Up

TOH Level Up
Liontin naga Bramasta



Dua kilatan kuning bak cahaya petir namun tetap berwujud manusia. Terus beriring-iringan melompati satu demi satu reruntuhan kota. Dua cahaya kuning tersebut milik Wahyu dan Dwi. Mereka hendak menuju satu tempat dengan aura pertarungan lumayan kuat.


“Dwi sebenarnya aura siapa ini. Kenapa aura ini seakan berbaur menjadi satu, tetapi tetap bergeseran. Siapa sebenarnya yang tengah bertarung?” ujar Dwi terus melompat di samping Wahyu dan kali ini Wahyu yang terus bersama Dwi adalah Wahyu yang asli.


“Kenapa mereka bertarung, bukankah satu dari mereka yang bersifat jahat sudah disegel oleh Abah di atas langit. Lalu yang bersifat baik bukankah dia tengah bertapa di gunung Welirang. Sungguh sangan mengerikan dua kekuatan Dewi ini. Padahal mereka adalah saudara kembar,” ucap Wahyu yang malah tak menjawab pertanyaan Dwi. Wahyu malah menggerutu sendiri tak jelas sambil terus melompati reruntuhan kota.


“Eh, ini bocah gemblung, ditanya orang tua malah enggak jawab. Wahyu, woi, halo, aku bertanya kepadamu loh,” teriak Dwi masih dalam posisi terus melompat di samping Wahyu. Tiba-tiba Wahyu berhenti di satu titik tanah lapang sambil menampakkan wajah berpikir.


Berdiri mematung sambil memegang dagu. Seakan Wahyu tengah memikirkan satu cara untuk menghentikan pertarungan dua Dewi yang ia maksudkan. Wahyu tahu kalau dua kekuatan Dewi yang ia sebutkan saling bertarung. Akan menjadi ancaman tersendiri bagi kota Jombang.


“Wahyu anak ganteng, keponakanku yang cakep. Pamanmu ini bertanya, memang siapa yang sedang bertarung di depan sana. Kenapa aura kedua petarung itu sangat mengerikan?” ujar Dwi mendekati Wahyu lalu kembali bertanya. Tetapi tetap Wahyu tak menjawab dan tak menghiraukan pertanyaan Dwi dan terus dalam posisi memikirkan sesuatu untuk mencari satu cara.


“Oh cah gemblung, bocah stres, ditanya pamanya malah melamun. Dasar anak Jaka ya begini, Jaka-Jaka kok sifat geblekmu ikut turun ke anakmu ini. Kan jadi stres begini, ah sudahlah!” ujar Dwi malah duduk bersila di atas tanah sambil memanyunkan bibirnya.


“Halah Paman ini sudah tua kok malah mengambek. Enggak pantas malu sama petarung-petarung muda lainnya. Malu sama anak buahmu yang jumlahnya ratusan petarung itu loh,” timpal Wahyu malah menyindir Dwi.


“Ya kamu aku tanya dari tadi enggak menjawab. Memangnya siapa sih yang bertarung di depan itu Wahyu. Jadi penasaran aku, kenapa auranya begitu terasa mengerikan. Terakhir kali aku merasakan aura seperti ini di saat Umimu bertengkar dengan Tantemu Sari. Ya walau mereka tak serius dan hanya beda pendapat. Tetapi sudah cukup membuat ngeri beberapa orang di sekitarnya, hahaha begitulah aura Emak-Emak,” sahut Dwi kembali berdiri dan kembali bertanya pada Wahyu.


“Nah aku dapat ide, iya benar, benar. Kenapa tidak aku panggil saja orang tua mereka. Sebenarnya siapa juga yang membuat cerita kalau orang tua mereka sudah mati. Eh sebetulnya mereka ini orang tua asli apa angkat ya. Baiknya nanti aku tanyakan pada mereka langsung siapa mereka?” ujar Dwi kembali tak menjawab pertanyaan Dwi malah ngomong sendiri sambil berteriak.


“Woi...! Kaget aku, Wahyu ah bodo amat,” ujar Dwi sambil menyulut rokok dan duduk di atas sebuah batu yang ada di dekatnya.


“Teknik pemanggilan...!” Wahyu malah mengeluarkan satu jurus untuk memanggil satu makhluk. Tetapi kali ini Wahyu menepakkan ke dua telapak tangannya ke atas tanah yang berarti Wahyu memanggil dua makhluk sekaligus.


Ternyata bukan hewan langit atau kodam pendamping yang Wahyu panggil dengan teknik pemanggilan. Melainkan dua sosok orang tua sebaya usia empat puluh lima tahun yang ia hadirkan dan munculkan dengan teknik pemanggilan.


“Loh Madam Sahara dan MR. Co, Wahyu kenapa kau memanggil dua legenda petarung kota Jombang di masa lalu ini. Mereka bukannya para pesilat tangguh sebelum ada era TOH. Mereka bukannya para penjaga kota ini sebelum kita ada?” ujar Dwi yang tersentak kaget langsung berdiri mendekati wahyu.


“Benar Paman Dwi, mereka adalah pasangan legendaris sebelum kita ada. Bahkan sebelum era Abah dan paman ada. Tetapi sejak dahulu mereka berdua adalah teman-temanku. Mereka selalu berinkarnasi sepertiku dan mereka jua makhluk abadi dari konteks arti tak sesungguhnya tentunya. Karena hanya Sang Maha Pencipta sajalah yang abadi,” ujar Wahyu berjalan mendekati dua sosok legenda Madam Sahara dan MR. Co.


“Assalamualaikum Mr. Co dan Madam Sahara. Maaf aku jadi memanggil kalian dari negeri alam sebelah. Maaf aku jadi mengganggu peristirahatan kalian. Tetapi sungguh saya membutuhkan bantuan kalian berdua,” ucap Wahyu dengan penuh sopan santun pada kedua legenda pendahulunya tersebut.


“Nak Satria aku sudah mengetahui maksud dan tujuanmu memanggil kami berdua. Tidak usah kau meminta maaf pada kami berdua. Memang ke dua anak kami tersebut selalu saja membuat masalah di dunia kalian. Kami seharusnya yang meminta maaf pada kalian. Akan kami bawa pulang untuk kedua anak kami tersebut. Agar kalian dapat meneruskan peperangan ini dan memenangkannya,” ucap Madam Sahara sambil tersenyum pada Wahyu.


“Nak Satria Oh ia beberapa waktu yang lalu. Kami sempat ditemui gurumu Sang Petapa Tanpa Nama. Beliau menitipkan sebuah pusaka pada kami untuk di serahkan padamu. Kata beliau berpesan, senjata ini sangat mematikan. Bahkan manusia buatan tak akan mampu melawanmu saat senjata ini ada di tanganmu,” ucap Mr. Co mengulurkan sebuah pusaka aneh berbentuk kalung dengan liontin emas berukir pasangan naga hitam dan putih.


“Bramasta, apa benar yang aku lihat ini. Alhamdulillah terima kasih Mr. Co dan Madam Sahara. Tolong sampaikan salam rinduku pada beliau bila kalian berjumpa lagi dengan beliau,” ujar Wahyu menerima kalung berliontin naga. Lalu memakainya melingkar di lehernya.


Sedangkan Dwi hanya melongo mendengar percakapan tiga legenda yang terus berinkarnasi di depannya tersebut. Tiga tokoh dari masa lalu yang terus terlahir kembali demi menegakkan kedamaian di alam manusia.


“Mari kita hentikan pertempuran kedua putri kalian. Sebab telat sedikit saja bisa sangat berbahaya bagi kelangsungan seluruh alam di kota Jombang ini. Karena pertarungan mereka bisa mengganggu keberlangsungan ekosistem seluruh spesies di kota ini. Bukan hanya manusia yang akan hilang dan berpindah alam. Tetapi hewan, tumbuhan bahkan mikro organisme lain akan berpindah alam,” ujar Wahyu mengajak Mr. Co dan Madam Sahara untuk pergi menuju tempat dimanah kedua pertarung yang dimaksudkan oleh Wahyu berada.


Tiba-tiba ketiganya menghilang meninggalkan Dwi yang masih melongo. Dwi tiba-tiba gelagapan tak karuan sebab tengah ditinggal Wahyu sendirian.


“Woi, ah benar kan bocah stres, Wahyu tunggu!” teriak Dwi menyusul tiga legenda tersebut.