The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
84. Cerita



Anak-anak yang tadinya ketakutan akan tingkah Yeni langsung berkerumun di sekitar Raquel, mereka menadahkan tangan meminta permen.


"Kak! Aku juga menginginkan satu, tapi bolehkah kami meminta lebih? Permen yang Kakak berikan kelihatannya enak," ujar anak perempuan dengan gigi depan ompong satu.


"Boleh, ini sepertinya cukup untuk kalian semua." Raquel mengeruk tasnya untuk mengeluarkan permen yang ada di dalam tasnya.


"Aku juga mau lagi," ujar seorang anak menarik-narik ujung baju Raquel, dia terlihat begitu manis dan lucu.


Raquel mengangguk, "ini untukmu dan ini milikmu, kalian jangan takut lagi ya! Dia hanya terkejut, tidak akan terjadi sesuatu pada kalian."


Anak-anak itu mengangguk senang, mereka tertawa gembira saat memasukan permen itu ke dalam mulut. Yeni yang melihat itu jelas tidak senang, dia menghentakkan kakinya meremas gaun yang dipakainya hingga menyebabkan gaun itu berantakan.


'Dasar anak di luar nikah, berani-beraninya dia merebut semua perhatian yang seharusnya menjadi milikku.' Yeni merasa dia sangat tidak dihargai di sana.


Terlebih lagi saat dia melihat sikap sombong Raquel, di luar sana banyak yang memuji dirinya karena berhasil kuliah di sebuah kampus ternama.


Raphael mendekat perlahan pada Raquel, sikapnya yang seperti seekor singa yang sedang mengamati mangsanya. Raphael mengulurkan tangan meminta permen yang sedang dibagikan oleh Raquel, melihat tangan Raphael cibiran halus keluar dari bibirnya.


Raquel merogoh kantong miliknya, saat memeriksa lebih dalam Raquel menyadari di dalam sana sudah tidak ada isinya lagi.


"Kosong," ucap Raquel dengan senyum manis yang membuat wajah Raphael mengerucutkan bibirnya.


Raquel memeriksa kantongnya lagi, dia memang tidak menemukan apa pun lagi.


"Habis, kalau kau sangat menginginkannya minta saja pada anak-anak itu! Mungkin mereka mau berbagi denganmu," sindir Raquel dengan bibir mengarah pada anak-anak yang tengah melompat bahagia itu.


"Baiklah! Tapi aku yakin aku pasti memiliki kesempatan untuk mencicipinya di masa depan," goda Raphael dengan kerlingan mata yang menggoda.


Raquel memutar matanya malas, dia berdiri tenang melihat keadaan di sana yang sudah mulai kondusif lagi. Beberapa orang saling pandang satu sama lainnya karena melihat interaksi yang terjadi antara Raphael dan Raquel.


"Siapa bilang gadis itu tidak diterima di dalam keluarga ini? Lihat saja apa yang Raphael lakukan padanya! Mereka jelas terlihat sangat dekat dan akrab," bisik seseorang pada teman di sebelahnya.


Semua orang jelas tahu kalau selama ini Raquel diabaikan, dia tidak mendapatkan perhatian seperti anak-anak lainnya hal inilah yang menyebabkan Raquel menjadi tidak terkendali dan sangat nakal sekaligus liar.


"Apa Nenek tahu Raquel melakukan berbagai upaya untuk bisa mendapatkan set makan ini, dia bertanya ke sana kemari dan juga melakukan berbagai penyelidikan untuk menemukan set yang asli." Raphael jelas memamerkan kehebatan Raquel di hadapan semua orang.


Nenek memperbaiki posisi duduknya, dengan gerakan memanggil nenek meminta Raquel untuk duduk di sampingnya. Meski ragu Raquel akhirnya berjalan ke samping nenek, dia duduk dan tangannya langsung digenggam oleh nenek.


"Terima kasih sudah melakukan hal ini untukku, kau gadis yang baik kan kami beruntung memilikimu di sini." Kata-kata nenek jelas merujuk pada adegan penyelamatan yang Raquel lakukan padanya waktu itu.


Nenek dan Raquel berbincang-bincang dengan sangat serius, mereka menjadi dekat hanya dalam hitungan menit saja di mana Nenek memiliki kesan yang sangat baik terhadap Raquel.