
Tere mendekati Raquel namun belum sempat dia berbasa-basi Raquel dengan sengaja menyenggol gelas minuman di sampingnya hingga semua isi tumpah. Raquel menatap Tere dengan senyum palsu lalu menyerahkan gelas yang dipegangnya pada Tere.
"Uhm, bisakah kau memberiku air hangat suam-suam kuku? Kerongkonganku terasa gatal dan aku membutuhkan itu sekarang," ujarnya dengan kedipan mata polos seakan tidak berdosa.
Tere menghentakkan kakinya, dia benci diperintah seperti ini. Dulu Kimberly yang selalu dia perlakukan seperti ini, Tere akan memasang wajah polos dan manis jika menginginkan sesuatu dari Kimberly.
Tere melangkah masuk ke dalam dapur, dia mengambil tempat untuk merebus air dan dengan gayung kecil bertangkai besi Tere mengambil air di dalam tempat khusus. Tere menunggu air itu mendidih lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, dia memasukkan bubuk gatal ke dalam air itu dengan senyum licik.
Ayah Tere yang melihat itu bergerak dengan tidak nyaman, sesekali dia akan meremas tangannya dan menggigit bibirnya.
"Kau yakin ini akan baik-baik saja? Bagaimana kalau dia menyadari sesuatu dan melaporkan restoran kita ke polisi, bisa-bisa kita masuk penjara dan bangkrut." Ayah Tere jelas ragu dengan tindakan yang tengah dikerjakan oleh Tere.
Tere mengerucutkan bibirnya, dia menutup obat itu rapat-rapat lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Dia melirik ayahnya dengan wajah tidak senang dan tatapan tajam yang membuat pria paruh baya itu menciut.
"Ayah tenang saja, ini tidak akan ketahuan dan juga tidak akan ada jejaknya. Sebenarnya aku sudah lama menyiapkan bubuk gatal ini, aku ingin menggunakannya pada Kimberly, dengan obat ini aku yakin wajahnya akan rusak. Aku benci melihat kecantikan yang menggoda itu apalagi dengan senyum palsu di bibirnya itu." Tere mengaduk air itu hingga bubuk gatal larut dan tidak terlihat lagi.
Sesuai dengan yang dia katakan tidak ada aroma yang tertinggal, air juga masih jernih seperti biasa.
"Wanita menyebalkan itu malah menghilang sekarang, dia seperti tidak pernah ada. Aku kesal jika mengingatnya, karena sekarang dia tidak ada maka aku akan mencobanya pada orang lain dulu. Semoga yang terjadi sesuai dengan apa yang aku harapkan," ujar Raquel dengan senyum penuh kemenangan.
"Apakah pada sahabatmu yang mempunyai pacar kaya itu?" Ayah Tere tampak penasaran.
Dia kehilangan rasa takutnya dan menjadi bersemangat.
Tere mengangguk, "aku mendekatinya karena itu, aku rasa dia tidak cocok dengan lelaki kaya itu. Dia tidak pantas lebih tepatnya, Deon terlalu berbeda dengan Kimberly itu." Tere merasa dirinya yang pantas bersanding dengan Deon.
Diambilnya gelas yang baru, dengan hati-hati Tere memasukkan air tadi ke dalam gelas mencampurnya dengan air biasa lalu mengaduknya kembali.
Raquel yang mendengarkan percakapan itu merasa semua yang dia lakukan dulu begitu lucu, dia menyesal karena tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakeknya sejak kecil.
Tere di sisi lain menengok ke arah ayahnya, dia tersenyum penuh arti namun dengan binar mencurigakan di dalam matanya.
Ayahnya mengangguk senang, dia membayangkan kehidupan mewah yang dijanjikan putrinya.
Dia memikirkan sedang berada di atas tumpukan uang dan emas, dia menunjuk orang-orang untuk melakukan ini dan itu sesuai dengan keinginannya. Dia juga membayangkan memiliki rumah mewah dan besar, pelayan yang banyak dan penjaga dengan seragam lengkap.
"Benarkah? Ayah sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba, hinaan yang kita terima. Perlakuan buruk dari orang-orang sekitar Ayah akan mengembalikan semua itu pada mereka lagi, Ayah tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk mendekati kita dan mengambil keuntungan dari kita." Ayah Tere mengepalkan tangannya.
Tere membusungkan dadanya bangga, dia meletakkan gelas itu di atas nampan lalu melangkah keluar dengan penuh percaya diri. Dengan hati-hati dia memindahkan gelas berisi air itu ke atas meja menunggu Raquel dengan senyum merekah yang begitu cerah.
Wajahnya begitu sembrono menunjukkan isi hatinya, aura yang keluar dari tubuhnya sudah menjelaskan niat jahat yang dia miliki.
Raquel melahap makanan yang tersedia di atas meja dengan gerakan tenang, dia bahkan sengaja mengabaikan keberadaan Tere di sana berharap Tere kehilangan kesabaran.
'Ah, dia benar-benar tidak berubah, gadis yang malang. Seharusnya dia belajar menyembunyikan isi hatinya, dia harus bisa mengendalikan raut wajahnya itu.' Raquel berbicara di dalam hati merasa miris dengan kepercayaan diri Tere.
Raquel memotong dan melahap makanan dengan gerakan lambat seolah dia menikmati setiap gigitan yang masuk ke lidahnya, dia memejamkan mata dengan gerakan anggun yang membuat Tere meradang marah.
"Kau masih tidak pergi? Apa yang kau tunggu? Kau terlihat penasaran, apa kau ingin makan-makanan ini juga?" tanya Raquel santai namun mata tajamnya itu membuat detak jantung Tere meningkat.
'Sial! Apakah dia tahu aku memasukkan sesuatu ke dalam air minum yang dimintanya, tapi itu jelas tidak mungkin. Aku tidak melihat seseorang mendekati dapur,' batin Tere dengan keringat mulai bercucuran di keningnya.
"Minum ini!" tunjuk Raquel pada gelas yang dibawakan oleh Tere barusan.
Tere menggelengkan kepala dan langsung melangkah mundur dengan cepat, dia melihat sekeliling dan menghembuskan napas lega karena di sana belum banyak orang.
"Tidak, bagaimana bisa aku meminum air yang disuguhkan untuk pelanggan. Kau saja yang minum! Kebetulan aku sudah minum di belakang dan sekarang aku tidak haus." Tere langsung menolak dengan cepat.
Dia berusaha tersenyum senatural mungkin, sayangnya Raquel bukanlah orang yang tidak tahu apa-apa. Dia bahkan lebih licik dan lebih kejam, trik murahan Tere tentu tidak akan mempan menghadapi dirinya.