The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
69. Senjata Makan Tuan



Tere berusaha untuk menolak permintaan Raquel untuk meminum air yang sudah ia berikan tadi, Tere berniat untuk pergi ke belakang demi menghindari keinginan Raquel namun dia langsung ditahan oleh Raquel.


"Mau ke mana? Minum dulu air ini! Atau jangan-jangan kau menaruh sesuatu di dalamnya ya? Jika tidak bagaimana mungkin kau menolak untuk meminumnya?" Raquel berbicara dengan begitu manis tanpa merasa bersalah sedikitpun.


'Apa jangan-jangan gadis ini tahu kalau aku memasukkan sesuatu ke dalam minuman ini? Tapi kenapa bisa begitu? Jelas dia tidak berada di sana, hanya Aku dan ayahku? Atau mungkin aku yang terlalu takut sehingga berpikir yang aneh-aneh?' Tere membatin dengan tatapan mata tertuju pada gelas yang berada di atas meja.


Raquel terlihat malas, tangannya menopang dagu dengan mata terkulai memandang Tere untuk segera bertindak mengikuti apa yang dia inginkan. Tere menggeleng dan mencoba untuk tersenyum meski apa yang dia perlihatkan sangat aneh dan sangat tidak natural.


"Tidak, mana mungkin aku menaruh sesuatu ke dalam minuman itu? Jangan menuduhku sembarangan, aku bisa saja melaporkan dirimu atas tuduhan pencemaran nama baik." Tere mencoba menggunakan ini untuk mencegah Raquel memaksa dirinya lebih jauh lagi.


Karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan Raquel terus mendesaknya untuk meminum air itu Tere terpaksa mengulurkan tangan untuk mengambil gelas. Dia berencana untuk menjatuhkan gelas itu hingga tidak jadi untuk meminumnya dan dirinya pun selamat tanpa mengalami kerugian dan tidak dicurigai oleh siapapun.


Tapi perhitungannya salah, Raquel jelas sudah mempertimbangkan segala macam tindakan yang akan diambil oleh Tere. Tanpa berbasa-basi Raquel langsung berdiri memegang gelas dengan erat di tangan kirinya dan mencubit dagu Tere, dengan paksa Raquel memasukkan air itu ke dalam mulut Tere hingga beberapa tertelan olehnya.


Ayah Tere yang sejak tadi bersembunyi di belakang pintu langsung muncul keluar saat melihat putrinya dianiaya oleh Raquel, pria itu melihat sekeliling mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membantu putrinya lepas dari tangan Raquel.


Secara acak dia mengambil sendok panjang berniat untuk membentuk putrinya secara mati-matian agar tidak dianggap remeh oleh Raquel namun dengan satu gerakan tangan Raquel saja pria itu sudah terhempas ke belakang dan sendok yang dipegangnya jatuh dengan bunyi denting yang cukup keras.


Merasa terjepit dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi sebuah ide terlintas di benak Tere, dia langsung menangis mengiba dengan kedua tangan di depan dada memandang Raquel dengan mata memohon.


"Maafkan kami jika berbuat salah? Harusnya kau berbicara baik-baik bukannya menindas kami seperti ini, ayahku sudah tua tapi kau masih saja bermain tangan dengannya. Apa kau tidak memiliki perasaan?" Tere berbicara dengan cukup keras untuk menarik perhatian beberapa pengunjung yang berdiri agak jauh dari mereka.


Kebetulan karena keributan yang dibuat oleh Raquel mata para pengunjung tentu saja terarah pada mereka dan telinga mereka ditajamkan agar bisa mendengar pangkal keributan ini terjadi. Mereka langsung berbisik satu sama lain tentu saja untuk menjelek-jelekkan Raquel tanpa melihat fakta yang sebenarnya, Tere merasa apa yang sudah di buat berhasil untuk menghentikan gerakan Raquel.


'Mampus! Jelas-jelas aku pintar dalam bermain trik, beraninya gadis ini mencari masalah denganku akan kubuat kau menyesal karena sudah memperlakukan diriku dengan buruk seperti ini.' Tere berbicara di dalam hati berikut dengan senyum penuh kemenangan meski air mata terus mengalir di pipinya dengan kepala menunduk.


Dia benar-benar terlihat seperti dianiaya, menyedihkan dan sangat membutuhkan bantuan dari orang sekitarnya.


"Buka mata kalian lebar-lebar sebelum menuduh orang seenak hati kalian, lihat apa yang terjadi padanya setelah dia meminum sendiri minuman yang disuguhkannya padaku!" tunjuk Raquel pada ruam merah yang terbentuk di sekujur tubuh Tere.


"Setelah ini apakah masih ada dari kalian yang ingin berbicara buruk tentangku, aku tidak melarangnya silakan kalian mengatakan apapun yang kalian suka. Lagi pula aku tidak peduli dan tidak ingin tahu tentang itu, itu hak kalian untuk menilai seseorang dengan mata kalian sendiri." Raquel tersenyum penuh arti melirik Tere yang mulai menggaruk tubuhnya sendiri.


Semua orang hanya bisa menunduk dengan malu, ya beginilah hidup, mereka hanya bisa menilai tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Sebab dan akibat terjadinya perlawanan serta efek dari tindakan yang sudah mereka lakukan, Tere bener-bener jatuh sekarang.


"Ah Kalian juga bisa memeriksa dapur, bisa jadi kalian menemukan sesuatu yang berharga di belakang sana. Hitung-hitung menambah penilaian kalian tentang seseorang, yah bagiku semua tidak ada artinya sih aku juga tidak mendapatkan untung dari semua ini." Raquel awalnya tidak berniat untuk menghancurkan restoran ini sekarang.


Tanpa menunggu lama-lama Raquel langsung membawa beberapa orang ke dapur untuk memeriksa keadaan di dalam sana, beberapa orang langsung mengikuti Raquel dari belakang dengan penuh minat. Tentu saja mereka menyukai sesuatu yang menantang dan dapat memuaskan keinginan mereka akan kekacauan dan kehancuran seseorang.


Ayah Tere berusaha mencegah orang-orang itu untuk memasuki dapur, namun karena dia kekurangan jumlah orang tentu saja dia kalah. Orang-orang itu memeriksa dapur, memeriksa tong sampah dan juga hidangan yang sudah tersedia, di tong sampah mereka menemukan kecoa yang sudah matang.


Dengan cepat seseorang mengambil gambar bahkan ada juga yang mengambil rekaman video yang nantinya akan digunakan sebagai bukti mungkin.


"Dasar penjual curang! Beraninya kalian melakukan ini pada pelanggan, pelanggan itu adalah raja dan kalian harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka agar mereka mengunjungi tempat ini lagi." Orang yang tadinya berbisik dan menjelek-jelekkan Raquel langsung bersuara.


Telunjuknya mengarah pada Tere dan ayahnya, mata bulatnya melotot itu membuat beberapa orang takut termasuk Tere.


"Apakah kalian sudah sering melakukan ini?" Seseorang melontarkan pertanyaan dari balik kerumunan.


Tere dan ayahnya tentu saja menggeleng mana mungkin mereka mengakui perbuatan buruk ini yang jelas-jelas dapat menghancurkan bisnis mereka sekaligus hidup mereka. Jika seperti ini impian kaya untuk tujuh tahun ke depan rasanya tidak akan terwujud.


Air mata Tere Bahkan tidak dapat meredakan kemarahan para pengunjung yang sudah naik kita melihat keadaan dapur, mereka tidak menyangka restoran ini benar-benar kotor dan tidak layak untuk disinggahi.


Tere menggaruk tubuhnya yang gatal, meski mencoba menahannya tapi godaan yang terus berdatangan membuat ia tidak bisa berhenti. Beberapa tempat terlihat berdarah, kukunya juga sudah berdarah.