The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
70. Kedatangan Pemilik Tanah



Semua orang semakin maju ke depan untuk memarahi Tere dan ayahnya, telunjuk dan kata makian untuk meluapkan kemarahan ditujukan pada Tere. Tidak ada yang berniat membantu, semua orang mengabaikan kesedihan di wajah Tere dan ayahnya.


"Aku mohon tolong kamia! Aku tahu aku salah, aku sudah memprovokasi orang yang tidak seharusnya aku sentuh." Tere berpindah posisi ke arah Raquel.


Dia berlutut memohon ampun, tangannya Tere menggaruk seluruh tubuhnya yang terasa gatal. Ruam merah tumbuh cepat di seluruh tubuhnya, wajahnya juga mulai membengkak, beberapa tempat mengeluarkan darah karena kuku panjangnya sendiri.


Tere menggaruk bagian lehernya, ayahnya berusaha untuk menghentikan Tere namun godaan untuk terus menggaruk membuat Tere menepis tangan ayahnya.


"Kami mohon tolong maafkan kami! Beri kami kesempatan hal ini tidak akan terjadi lagi ke depannya, kecoa itu jatuh dari atas itu sebabnya makanannya kami buang ke tong sampah. Sedangkan makanan yang lain itu sisa semalam yang tidak habis yang akan dibuang lagi keluar agar tidak meninggalkan aroma," terang Ayah Tere berusaha untuk tidak menimbulkan masalah lainnya.


"Itu urusan kalian bukan urusanku, dan kau aku tidak tahu jika dalam minuman itu kau beri sesuatu. Aku menyuruhmu meminumnya karena gelagatmu yang sangat mencurigakan itu," jelas Raquel cepat.


Raquel mengambil tasnya lalu melangkah pergi dari sana secepat yang ia bisa, sedangkan di dalam sana keributan masih terjadi. Beberapa orang yang masih tidak senang dengan hasil temuan mereka meminta biaya ganti rugi, tentu saja Tere dan ayahnya menolak.


"Kembalikan uang kami kalau kalian tidak ingin dilaporkan ke polisi dan restoran ini ditutup! Cepat kembalikan!" bentak seseorang dengan wajah sangar.


Tangannya terulur ke depan, yang lain juga mengikuti. Padahal beberapa dari mereka jelas sudah menyantap dan menghabiskan makanan yang ada di piring, semua hanya menginginkan keuntungan saja dan tidak mau rugi.


"Tidak mana bisa kalian seperti itu, makanan yang kalian pesan sudah ada yang habis. Bukankah kita sama-sama sudah impas sekarang?" tanya Tere tidak terima.


Karena semua orang masih memaksa Tere yang tangannya berdarah berusaha menjangkau orang-orang terdekatnya. Mereka yang jijik dan takut tertular langsung berlari keluar dari restoran itu dengan panik, mereka tidak lagi memikirkan uang.


Raquel mengambil teleponnya, dia menekan sesuatu hingga layarnya menjadi terang. 17 panggilan tidak terjawab terlihat jelas dan semuanya berasal dari Raffertha, Raquel langsung mengirim pesan balasan pada Raffertha.


"Maaf, Kak! Tadi aku memiliki urusan penting dan sangat mendadak sekali, itu sebabnya aku tidak bisa membalas pesanmu. Maafkan Aku!" balas Raquel melalui pesan yang dikirimnya.


Tidak butuh waktu lama teleponnya berdering dan panggilan itu berasal dari Raffertha, Raquel langsung mengangkat telepon itu dan berhenti di jalurnya.


"Kau di mana? Kenapa kau tidak berada di rumahmu? Ke mana kau pergi dan apa yang kau lakukan hingga kau tidak pulang semalaman?" tanya Raffertha bertubi-tubi tanpa henti.


Raquel menggosok telinganya, dia merasa gendang telinganya hampir pecah oleh teriakan Raffertha.


"Aduh kak bukannya aku sudah membalas lewat pesan, aku memiliki urusan mendadak dan tidak bisa digantikan oleh orang lain. Untuk masa yang akan datang tidak akan terjadi lagi hal seperti ini, aku janji." Aku langsung menjawab ucapan rasa karena tidak ingin memperpanjang masalah.


"Alasan, sekarang pulanglah ke rumah! Jangan keluyuran lagi! Aku dengar kemarin kau juga bolos dari sekolah, kapan kau akan berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik?" Raffertha dibuat sakit kepala oleh tindakan Raquel.


"Ya aku akan segera pulang!" jawab Raquel cepat seperti dia secepat memutuskan panggilan telepon Raffertha.


Raquel menyimpan teleponnya lagi lalu berjalan dengan santai menuju ke rumahnya, dia sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.


"Semoga saja saya sampai di rumah tidak ada yang menghalangi aku untuk istirahat, aku sungguh mengantuk, tubuh ini ternyata masih lemah dan tidak sekuat tubuh lamaku. Aku harus banyak-banyak berolahraga makan vitamin agar kembali kuat seperti dulu, padahal dulu dua hari tidak tidur pun aku tidak mengalami hal seperti ini." Raquel mengepalkan tangan.


Raffertha yang ada di kediaman rumahnya mendesah dan menggosok rambutnya frustrasi, sifat Raquel yang berubah membuatnya merasa sulit untuk mengendalikan Raquel sekarang.


"Anak itu semakin menjadi-jadi dan sulit untuk diatur, apa salahnya sekolah dengan baik. Setidaknya sampai dia lulus saja sudah cukup, aish, aku sepertinya membutuhkan seseorang." Raffertha mengambil minumannya dan langsung menyesapnya hingga habis.


Raffertha berputar beberapa kali di dalam ruangan itu, "benar, aku harus mencari orang untuk mendisiplinkan dirinya. Sudah saatnya dia ditunjukkan mana yang benar dan mana yang salah, harusnya dia cukup pintar memindai situasi."


Raffertha masuk ke kamar mandi untuk mandi, sedangkan Raquel sampai di rumahnya dengan selamat. Dia langsung memasuki kamar tidur, Raquel melempar tas tadi sembarangan.


Dia membuka sepatu, melepas kaos kaki dan juga masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia merasa tubuhnya bau keringat, Raquel mencuci rambutnya. Dia berdiri lama di bawah shower dengan tangan memegang dinding.


"Ke mana hilangnya tubuhku? Apa yang terjadi sebenarnya? Ke mana hilangnya tubuhku saat itu? Apa yang terjadi sekarang? Aku harus menyelidiki apa yang terjadi?" Raquel tidak habis pikir.


Percakapan ambigu yang terjadi antara Tere dan ayahnya tadi mengusik ketenangan Raquel, dia ingin mendapatkan jawaban lebih tapi di mana dia bisa mendapatkannya?


Setelah selesai mandi Raquel memakai bajunya mengeringkan rambut lalu tidur, dia benar-benar larut dalam mimpi melupakan masalah yang terjadi.


"Hei bangun! Buka pintunya! Aku yakin kau ada di dalam kan?" Seseorang terus menggedor pintu dengan sekuat tenaga.


Suara melengking yang dapat merusak gendang telinga itu membuat Raquel terbangun, Raquel duduk di tempat tidur untuk mendapatkan kesadarannya.


Cukup lama dalam posisi seperti itu barulah dia menengok jam di dinding, "sial! Aku baru tertidur lima jam dan orang gila sudah datang membuat keributan, kapan aku bisa hidup tenang coba? Ada-ada saja masalah yang datang," gerutu Raquel.


Raquel bangun, dia membuka pintu menatap pemilik tanah dengan alis terangkat, sama seperti Raquel pemilik tanah juga memandangi wajah Raquel lama.


"Uang sewa tanah untuk ke depannya akan naik, kalau kau tidak sanggup kau bisa segera pergi dari sini. Bayar sekarang!" Wanita itu mengulurkan tangan.


Sudah jelas niat dan caranya bicara berniat untuk memeras Raquel, mungkin dia berpikir Raquel masih sebodoh dulu dan mau menuruti keinginannya segera.