
Raquel mengambil secarik kertas, dia meresepkan satu resep obat dengan beberapa bahan yang perlu dikumpulkan. Dia memberikan resep itu pada kakek membuat kakek begitu bahagia dengan wajah berseri-seri.
"Semoga setelah meminum ini kondisi tubuhnya sedikit lebih baik," ujar Raquel menarik tangannya kembali.
Semua orang di sana takjub melihat cara Raquel mengobati nenek, gerakan tangannya sangat lihat dan begitu cekatan dalam melakukan akupuntur. Dia bahkan tidak terlihat seperti pemula, semua orang penasaran dari mana Raquel mempelajari semua itu.
"Dari mana dia mendapatkan kemampuan? Dia sangat pemalas dan nilainya rendah, bagaimana bisa seperti ini? Dia suka berkeliaran di malam hari, kenapa aku tidak yakin dia mampu?" Seseorang berbisik pada rekannya dengan nada suara jelek yang tidak disembunyikan sama sekali.
Rekannya memberikan kode lewat mata yang membuat dia mencebik kesal, Richard yang bangga akan kemampuan adiknya tersenyum semringah tanpa menutupi ekspresinya sama sekali. Sedangkan Raffertha mengembuskan napas lega dengan tangan terus menggosok dadanya, sekarang dia terlihat sedikit lebih tenang daripada tadi.
"Itu adikku!" tunjuk Raffertha pada orang di sebelahnya dengan dada membusung.
"Cih, tadi saja kau diam dan tidak berkutik. Dasar sampah," ejek Richard sembari memukul bahu Raffertha yang begitu sombong.
Raffertha tertawa canggung, Richard melotot tidak senang mendengar ucapan Raffertha. Raphael yang sejak tadi memperhatikan apa yang Raquel lakukan sekarang mengembuskan napas lega, dia senang dengan apa yang sudah dilakukan oleh Raquel.
"Katakan apa yang kau inginkan? Kakek akan memenuhinya, sebutkan saja dan kau tidak perlu merasa sungkan." Kakek tampak begitu bersemangat.
Dia dengan gembira menunggu jawaban dari Raquel namun Raquel malah melihat ke arah Raphael yang terus membantu dirinya selama beberapa hari ini, Raphael tersenyum padanya meski itu tidak terlihat jelas.
Sekali lagi Raquel melirik pada Raphael, Raphael menaikkan alisnya. Dia merasa Raquel merencanakan sesuatu untuk dirinya tapi dia tidak tahu apa yang Raquel rencanakan.
"Aku sering di-bully, difitnah dan disakiti oleh beberapa orang dan dia selalu membantu diriku. Aku hanya berharap Kakek memberikan wasiat milikku pada dirinya," ujar Raquel dengan senyum penuh keyakinan dan kepercayaan diri.
Semua orang terkejut mendengar apa yang Raquel katakan, dia begitu berani dalam berbicara dan sangat percaya diri. Apa yang Raquel ucapkan benar-benar diluar nalar semua orang, di saat yang lain memperebutkan harta warisan Raquel malah memberikan miliknya secara cuma-cuma.
"Tidak mau, aku sudah mendapatkan bagianku kenapa aku harus mengambil milikmu juga? Pikirkan saja dirimu sendiri, kau membutuhkan semua itu agar dirimu bisa dihormati dan tidak diejek lagi." Raphael tentu saja menolak hal itu dengan tegas.
Dia terus menggelengkan kepalanya dengan sangat tidak setuju, Richard juga tampaknya tidak senang dengan keputusan yang diambil oleh Raquel namun dia tahu Raquel membuat keputusan ini setelah berpikir lama.
"Tidak, aku melakukan ini karena tidak ingin berhutang budi terlalu lama padamu. Aku berharap ini dapat membayar kebaikan yang kau lakukan padaku walau hanya sedikit," ujar Raquel dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi.
Raquel melihat semua orang yang ada di sana, dia bukanlah orang bodoh dan tidak mampu berpikir mana yang benar dan mana yang buruk. Dia ingin membantu Raquel asli untuk membuktikan kebenaran dan ingin membuat para tetua hormat padanya, Raquel memberikan senyuman terindah miliknya.
Raquel menunduk lagi, dia meraih tangan kanan nenek untuk memeriksa tubuh nenek lagi. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat nenek bertahan kurang lebih tiga bulan lagi, dia ingin mengetahui kebenaran dari kasus percobaan pembunuhan yang dilakukan nenek padanya.
Untuk mendapatkan jawaban dia harus bisa menyembuhkan nenek, dia yakin semua orang akan mencarinya lagi untuk mengobati nenek nantinya.