The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
82. Sengaja



Kepala Raquel mengangguk, dia tersenyum dengan tangan di depan tubuhnya. Nenek sangat tahu akan nilai barang dengan baik, dia mengelus set itu dengan lembut seolah sedang membelai anaknya.


Mata nenek berbinar cerah menunjuk tanda suka.


"Nenek menyukainya? Kalau begitu kapan-kapan aku akan mencari yang seperti ini lagi," ujar Raquel dengan senyumnya.


Yeni merasa benci melihat itu, tangannya terkepal dengan marah, dia jelas tidak diakui oleh semua orang tapi Raquel yang identitasnya tidak ia ketahui disambut dengan tangan terbuka. Bibir Yeni semakin mengerucut saat matanya melirik rasa hormat yang didapat Yeni.


"Anak pintar! Di mana kau membelinya ha? Apa kau pikir barang ini bisa didapat dengan mudah, Nenek yakin untuk mendapatkan ini kau pasti membutuhkan perjuangan yang luar biasa." Nenek membelai ringan tangan Raquel.


"Tidak kok, Nek! Ada seorang teman yang mengetahui tentang benda kuno, dia yang mengajakku untuk membeli ini, dia juga sangat mahir dalam membedakan barang asli dan barang palsu." Raquel menggerakkan tangannya dengan manis dan tanpa pura-pura.


Hal itu jelas berbeda dengan intonasi suara Yeni yang dibuat-buat, Yeni merasa tersinggung dengan apa yang Raquel katakan barusan namun karena tidak memiliki dukungan di sana dia tidak berani bersuara langsung.


"Ah anak ini benar-benar tahu cara merendah, sejak kemarin dia menolak untuk diberi pujian. Bahkan setelah menyelamatkan nyawa Nyonya tua dia langsung menghilang dan tidak meminta imbalan apa pun." Seorang kerabat dengan cepat melontarkan pujian.


Yang lain tentu saja mengangguk dengan senang, walau tidak tahu cerita aslinya tapi mereka mendengar dari mulut ke mulut tentang kejadian kemarin.


"Benar sekali, padahal dia sudah berkontribusi besar pada keluarga ini tapi tetap saja dia terlihat rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Lihat saja hadiah yang dibawanya, padahal itu jelas mahal dan memiliki nilai jual tinggi tapi dia tidak mengakui itu." Wanita gendut tadi terus memuji Raquel dan sengaja menaikkan suaranya agar bisa didengar oleh Yeni.


'Apalah wanita ini adik tidak sahku? Perlakuan Nenek dan Moreno jelas berbeda padanya, ya, dia pasti gadis kecil itu.' Rajendra sepertinya menyadari apa hubungan Raquel hingga datang kemari dan mendapatkan pujian yang begitu luar biasa.


"Nek! Aku bantu meletakkan ini di tempat yang aman, bagaimana kalau dia tidak sengaja tersenggol dan jatuh?" Yeni berusaha berprilaku laki baik dan berniat untuk menyingkirkan set lengkap di tangan nenek.


"Ya, terima kasih! Tolong letakkan di atas meja sana! Lebih mudah bagiku untuk melihatnya dari sini," ujar nenek sembari menyerahkan set makan yang ada di tangannya.


Yeni dengan lemah lembut menerima itu, awalnya dia memperlakukan set makan dengan sangat hati-hati dan menjaganya dengan baik. Tapi kemudian saat orang-orang tidak lagi melihat tindakannya dia berpura-pura terkandung, dengan sengaja Yeni menginjak kakinya sendiri hingga set makan itu terlempar ke depan.


Raquel berniat untuk menyelamatkan set makan itu namun Raphael lebih dulu menangkapnya.


"Kau datang? Apa yang membawamu kemari ha?" tanya Nenek dengan antuasiasme yang lebih tinggi.


"Benar, sangat sulit untuk melihat rupanya dan sekarang dia datang sendiri ke sini." Yang lain ikut bersuara.


Padahal baru-baru ini Raphael sudah pulang ke rumah besar dua kali, kedatangannya kali ini benar-benar tidak terduga dan menjadi sebuah kejutan besar.