The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
24. Mengakui Leluhur



Wajah kakak laki-laki Raquel menunjukkan sedikit perubahan ekspresi setelah dia melontarkan pertanyaan, dia tampak marah dan tidak senang atas apa yang sudah dilakukan oleh Raquel.


Raquel yang merindukan kebebasan dan tidak suka melaporkan tentang kegiatannya pada orang lain sedikit tidak senang dengan pertanyaan ini namun karena kondisinya sedikit berbeda dia harus melakukannya kali ini. Raquel menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dari hidung dengan kuat.


Agar orang lain tidak melihat keanehannya dia terpaksa menggunakan alasan pemilik tubuh asli yang selama sini selalu dijadikannya sebagai alasan.


"Aku tidak suka ke sekolah, keuntungan apa yang bisa aku dapatkan di sana? Selain membuat pr dan latihan tidak ada hal lain lagi yang bisa dikerjakan," jawab Raquel cepat dengan santai dan tanpa rasa bersalah.


Kakak laki-lakinya mengembuskan napas kasar, dia menatap Raquel lekat dengan berbagai pemikiran berkecamuk di otaknya. Dia memandang penampilan Raquel dan merasa sedikit terhibur dengan raut wajahnya itu.


Cukup lama hening dan tidak ada percakapan hingga kakak laki-laki Raquel mengeluarkan sebuah botol obat yang dia temukan di kamar Raquel. Melihat obat itu Raquel terkejut dan merasa tidak nyaman, dia lupa menyimpan obat itu hingga akhirnya ketahuan.


Padahal dia sudah melihat obat itu kemarin, ya, obat itu adalah obat antidepresan yang dikonsumsi oleh pemilik tubuh asli karena tekanan yang dia terima.


"Ini milikmu kan? Aku menemukan ini di kamarmu tadi, obat ini sudah berkurang dan artinya itu sudah digunakan. Kenapa kau tidak memberitahu diriku soal ini dan hanya menanggungnya seorang diri?" Richard bertanya dengan nada suara yang sedikit berbeda.


Raut kasihan tercetak di wajahnya dengan rasa iba yang begitu kentara, Richard seperti sedang mengasihani keadaan Raquel saat ini.


"Katakan! Kenapa kau diam saja? Apa yang aku alami hingga kau harus mengonsumsi pil ini? Apakah ada banyak masalah di sekolah atau ada teman yang menyakiti dirimu? Katakan padaku dan aku akan menyelesaikannya untuk," ujar Richard melembutkan suaranya.


Dia mulai bersikap lunak pada Raquel dan tidak memperlihatkan raut wajah seperti tadi lagi.


"Aku hanya berpura-pura saja," jawab Raquel cepat dengan senyum tulus yang manis.


Tangannya bergerak-gerak di depan dengan ekspresi panik berusaha menjelaskan tentang keberadaan obat itu.


"Kau tidak perlu takut katakan saja padaku! Aku akan menangani orang itu tanpa dia tahu apa yang sudah terjadi padanya? Cerita saja dan aku akan mendengarkannya!" Richard berusaha untuk menghibur dan mendapat jawaban.


Richard pikir Raquel takut dia akan khawatir tentang keadaannya sehingga Raquel berbohong tentang kondisi tubuh dan mentalnya saat ini.


"Sungguh aku tidak apa-apa, Kakak tidak perlu khawatir! Aku baik-baik saja dan tidak mengalami kendala apa pun, jika pun ada aku masih bisa menangani semua itu dengan baik. Jangan hiraukan aku!" Raquel berusaha untuk tersenyum manis dan menjelaskan yang terjadi padanya dengan terburu-buru.


Raquel ingin membalaskan dendam yang ada di hatinya dengan tangan sendiri tanpa bantuan orang lain, dia merasakan kepuasan tersendiri saat melihat lawannya tidak berdaya dan memohon ampun.


Richard melempar obat yang tadi dipegangnya ke tong sampah, "ganti bajumu! Hari ini aku akan membawamu untuk mengenali leluhur keluarga kita," ujarnya setelah membersihkan tangan dengan tisu.


Perubahan di wajah Raquel begitu jelas, Raquel terlihat tidak senang dengan apa yang sudah dikatakan oleh Richard barusan.


"Bisakah aku untuk tidak pergi? Tiba-tiba aku merasakan tidak enak badan, kepalaku pusing dan aku ingin muntah." Raquel mencoba mencari alasan agar dirinya tidak pergi ke rumah mewah itu.


Dia teringat isi diary yang dibacanya tadi malam beberapa kali dia sudah menerima percobaan pembunuhan dari keluarganya itu.


Pertama kali saat dia hampir saja ditabrak oleh sebuah mobil, awalnya mobil itu mengikuti dirinya dari belakang namun dia mengabaikan semua itu karena berpikir orang di dalam mobil mengarah ke tempat yang sama dengannya.


Siapa yang tahu saat dia akan melintas mobil itu malah hampir menyerempet dirinya, beruntung dia memiliki refleks tubuh yang bagus hingga bisa terhindar dari kecelakaan fatal yang bisa merenggut nyawanya di tempat.


Kejadian kedua saat dia pergi mendaki gunung bersama teman sekolahnya, dia tersesat di hutan dan hampir tidak bisa pulang ke rumah akibat petunjuk jalan yang dia terima sudah diubah oleh orang lain.


Bahkan baru-baru ini minumannya dicampur dengan sesuatu beruntung dia belum sempat menyentuh minuman itu, jika Dia meminum minuman itu maka sudah bisa dipastikan dia tidak berada di dunia ini lagi. Dan Raquel yakin permasalahan yang terjadi malam itu juga ada campur tangan dari keluarganya sehingga banyak orang mengabaikan dirinya dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang ia alami malam itu.


"Kau harus pergi bersamaku malam ini juga, nenek tengah sakit dan mungkin saja nyawanya tidak panjang dia akan membacakan wasiat yang ditinggalkan untuk kita semua. Karena itu kau harus hadir di sana untuk mendengarkan tentang apa yang sudah ditulisnya," bujuk Richard dengan senyum manis dan sebaik mungkin.


Dia tahu tentang apa yang dialami Raquel dan membuat Raquel tidak ingin kembali ke rumah besar itu, bahkan dia pernah menolong Raquel agar tidak dicelakai oleh orang-orang yang membenci Raquel dan menginginkan dia untuk tidak ada di dunia ini.


"Apakah itu perlu? Bukankah kita memiliki pengacara?" Raquel bertanya dengan gestur tubuh menunjukkan ketidakinginan yang begitu besar.


"Ya, kehadiranmu di sana sangat penting agar kau tahu apa yang ditinggalkan untukmu ada apa yang dia berikan untuk orang lain." Richard terus melancarkan aksinya untuk membujuk Raquel agar mau pergi bersamanya.


Setelah berpikir cukup lama serta menimbang sebab dan akibat yang akan terjadi untuk ke depannya pada akhirnya Raquel setuju untuk pergi ke rumah besar di mana neneknya tinggal.


Raquel berjalan ke kamarnya meninggalkan sang kakak yang mengeluarkan teleponnya untuk menghubungi seseorang, sesampai di kamarnya Raquel langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dipilihkan oleh Richard.


Gaun itu adalah gaun yang di desainnya di kehidupan sebelumnya dan ia buat dengan tangannya sendiri, gaun cantik berwarna putih itu memang pas dan sesuai dengan bentuk tubuhnya.


Hiasan di gaun untuk menunjang kecantikan juga sesuai porsi dan tidak berlebihan sehingga gaun itu meskipun bahannya sederhana tapi ia terkesan mewah dan mahal. Raquel tersenyum miris dengan apa yang terjadi, perbandingan hidup diantara kedua tubuh ini terlalu sangat mencolok.


Dulu dia di agung-agungkan dan dibangga-banggakan oleh semua orang tapi sekarang dia dihina dan direndahkan, semua perlakuan buruk ia dapatkan tanpa bisa membalas perbuatan orang itu.