The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
28. Pembohong Kecil



Reina menggelengkan kepalanya menolak untuk mengakui kebenaran dari apa yang Raquel katakan, wajah putih itu memerah seperti ditampar karena rasa malu yang datang akibat ucapan Raquel yang begitu berani.


"Kau mengaku dirimu terpelajar dan berkelas tinggi tapi kau tidak memiliki sopan santun sama sekali, apa orang tuamu tidak mengajari dirimu sopan santun ha?" tanya Raquel lagi setelah suasana berubah.


Pembalikan kata-kata yang Raquel ucapkan membuat Reina takut dirinya akan dihina dan direndahkan, dia melihat sekeliling berharap tidak mendapatkan tatapan menyedihkan yang sama dengan yang selalu Raquel dapatkan selama ini.


Raquel tertawa dengan tangan menutupi mulutnya, 'ya, beginilah cara ampuh untuk menjatuhkan mental mereka yang seperti merak. Cukup jatuh harga diri mereka dan mereka akan panik lalu membuka kedok mereka dengan sendirinya," ujar Raquel di dalam hati dengan senyum sinis.


"Kau berpura-pura anggun dan manis tapi nyatanya kau garang, wajahmu sanggar dan keriput. Siapa yang mau mempersunting dirimu? Wajah jelek begini tidak diinginkan oleh siapapun, apalagi dengan watak kejam dan mulut pedas itu. Aku yakin mereka yang mendekat langsung kabur duluan," ujar Raquel santai.


Reina marah mendengar penuturan Raquel, dia kesal sekaligus membenci Raquel yang begitu tidak tahu diri. Dia melirik Raquel dari atas ke bawah dengan pandangan menilai, Reina tersenyum mendengkus jelas kalau dia mencemooh penampilan Raquel yang begitu sederhana dan tidak berkelas menurutnya.


"Cih masih mending diriku daripada dirimu, pakaian bermerek dengan harga jutaan dan kualitas terjamin. Bandingkan dengan dirimu yang hanya memakai pakaian murah, aku yakin pakaian ini kau beli di emperan bukan?" tanya Reina dengan senyumnya tidak kalah sinis.


"Jangan menilai buah dari kulitnya dan jangan melihat buku hanya dari sampulnya, belum tentu yang terlihat berkelas memiliki pendidikan yang sesuai dengan penampilannya." Raquel menyindir Reina.


"Apa kau bilang? Lihat tampilanmu! Apanya yang bisa dinilai dari dirimu? Aku memakai perhiasan mahal sedangkan kau tidak memakai perhiasan apa pun, kita jauh berbeda dan tidak mungkin untuk disanding. Jika pun seseorang ingin memilih tentu saja dia akan mengarah padaku yang memiliki harta daripada dirimu," jelas Reina dengan begitu angkuh dan percaya dirinya.


Reina mengibaskan rambutnya ke belakang dengan anggun, sengaja memperlihatkan pada orang-orang kalung mewah dan anting gerai yang melekat di tubuhnya. Ya tubuhnya memang dipenuhi dengan perhiasan perhiasan tapi tidak ada yang tahu apakah itu palsu atau asli.


"Siapa yang akan tahan dengan dirimu? Jangan-jangan nanti mertuamu malah Kau jadikan budak kau suruh ini dan itu untuk menuruti keinginanmu," ejek Raquel balik.


"Mana mungkin, aku tentu saja menikah dengan seseorang yang sesuai dengan level ku. Tentu saja akan ada pelayan yang akan memenuhi keinginanku, tidak seperti dirimu siapa yang akan mau menikahimu?" Adu mulut itu semakin memanas.


Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya, Rena dengan keras kepala dan sikap pongahnya dan Raquel yang begitu santai dan tidak terintimidasi sama sekali di bawah tatapan tajam orang-orang yang ada di sana.


"Wah Reina! Permata yang ada di dadamu terlihat bersinar dan berkilau, begitu indah dan memukau." Pengikut Reina berseru dengan mata bersinar cerah.


Bukannya senang Reina malah terlihat panik, yang Reina tahu giok yang dipakainya adalah barang palsu yang didapatnya dari seseorang. Sedangkan Raquel semakin yakin kalau giok yang dipakai oleh Reina adalah permata miliknya di kehidupan lampau.


Reina yang menyadari arah pandang Raquel menutupi permata itu dengan tangannya, dia takut Raquel menyadari sesuatu dari raut wajahnya.


"Apa kau lihat-lihat ha? Permata ini sudah ada sejak aku masih kecil dan ini selalu bersamaku sampai saat ini," jelas Reina dengan cepat.


"Sekarang kau sudah sadar kan apa perbedaan kita? Dari kecil aku penuh kemewahan, semua yang aku inginkan dapat aku raih dengan mudah. Tak perlu berusaha dengan keras seperti dirimu, kau bahkan menjual tubuhmu untuk bisa sekolah." Reina semakin menjadi-jadi.


Diabaikannya tatapan dingin dan tidak bersahabat Raquel, dia tidak menanggapi ocehan Reina dan sibuk melihat permata miliknya itu.


"Kau tahu Kimberly kan? Ah aku lupa pasti kau tidak tahu, mana mungkin orang udik seperti dirimu mengetahui orang hebat seperti dirinya. Tapi tidak masalah Aku akan memberitahumu betapa hebatnya dia, apa saja yang sudah berhasil dia raih." Reina memamerkan Kimberly di hadapan Raquel.


Reina menyalahartikan kerutan di kening Raquel, dia pikir Raquel tidak tahu siapa Kimberly. Reina tersenyum puas dan semakin membanggakan dirinya, dia senang dengan tatapan kagum yang dilayangkan orang-orang di sini.


"Dia adalah pewaris kaya yang merupakan satu-satunya cucu dari pemilik perusahaan besar, dia mendesain baju dengan harga yang tidak bisa ditawar oleh orang miskin seperti dirimu." Reina semakin senang.


"Yakin kau benar-benar dekat dengannya?" tanya Raquel lembut seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua tapi mampu membuat raut wajah Reina berubah.


Mata Reina melotot dengan wajah memerah, dia melihat sekeliling takut orang-orang itu mendengar apa yang dikatakan oleh Raquel barusan.


"Baju yang aku pakai ini di desain olehnya, aku dan dia berteman dengan sangat baik. Berbeda dengan dirimu, siapa yang mau berteman dengan tidak ada kan?" ejek Reina bahagia.


"Benarkah?" Raquel pura-pura bertanya dengan raut wajah antusias.


Hal itu membuat Reina mengembuskan napas lega, sejak tadi Reina takut kalau Raquel mengetahui kebenaran yang tidak diketahui oleh orang lain.


"Tentu saja untuk apa aku membual padamu, tidak berguna dan juga tidak ada manfaatnya. Bahkan baju yang aku pakai mendapatkan diskon yang tidak pernah ia berikan pada orang lain, apa menurutmu aku tidak bangga berteman dengannya?"


Raquel mendengarkan ucapan Reina dengan mata bersinar cerah, dia menunggu Reina jatuh dalam perangkap yang ia buat. Dalam hati Raquel menertawakan kebodohan Reina, dia membanggakan diri pada orang yang salah.


Raquel melihat Reina seperti badut yang tengah menghibur dirinya, tontonan gratis untuk membuatnya bahagia tanpa harus membayar.


"Beberapa barang-barang di rumahku adalah pilihan darinya dan juga hadiah yang dia berikan padaku secara cuma-cuma, kami sering berbelanja bersama membeli hal-hal yang menarik. Dia sangat baik dan royal pada temannya, tidak cocok dengan orang seperti dirimu yang miskin dan suka menahan selera." Reina semakin menghina Raquel dengan gembira.


'Gadis kecil ini benar-benar pembohong yang ulung, sayang sekali dia harus berhadapan dengan diriku. Orang yang dipamerkan oleh dirinya di depan orang-orang bodoh ini, bagaimana jika aku mengatakan tentang kebohongannya? Dia pasti akan malu,' batin Raquel.