The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
83. Permen



Rajendra yang melihat antusiasme Nenek pada Raphael langsung bergerak mendekati Raphael.


"Kak, bagaimana kalau kita pergi ke tempat balap?" Rajendra merapatkan tubuhnya pada Raphael dengan penuh semangat.


Wajah cerianya menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa, matanya berbinar cerah, semua orang melirik pada Raphael dan Rajendra jelas hubungan ke-duanya terlihat sangat akur. Raphael melirik pada Raquel, dia tersenyum lembut walau sebentar saja.


"Maaf tapi aku tidak bisa!" tolak Raphael dengan cepat.


Dia menyerahkan set makan pada anak buahnya yang langsung membawa itu ke tempat yang aman, dia harus bisa melindungi itu semua dari orang-orang yang berniat menghancurkan pemberian Raquel.


"Ayolah, Kak! Aku sangat ingin pergi bersama dirimu, ayolah!" Rajendra tidak menyerah, dia masih berusaha untuk membujuk Raphael walau hal itu tidak pernah terjadi.


Gelengan kepala diberikan oleh Raphael pertanda dia tidak setuju, dia langsung mendekati Raquel berbicara dengan riang.


Rajendra mencoba memikirkan penyebab kenapa dirinya ditolak, dia ingat kalau dirinya menimbulkan banyak masalah pada Raphael jika mereka bersama.


Waktu yang lalu,


Raphael pergi bersama Rajendra ke arena balap, Raphael duduk di tepi lapangan menikmati keributan yang diakibatkan oleh suara geberan gas mobil. Ban yang berderit akibat bergesekan dengan aspal menjadi suara musik tersendiri di antara keributan yang ada, Raphael duduk bersandar sembari mengamati seluruh lokasi.


Rajendra menginjak pedal gas, dia melirik pada lawannya dengan senyum mengejek. Dia sengaja memancing lawannya untuk marah dengan bertingkah sombong, kelakuannya yang seperti itu membuat seluruh orang yang ada di sana bersorak.


Alis Raphael naik sebelah, dia mengamati tingkah nakal Rajendra dengan pikiran yang berkecamuk.


Sesuatu di dalam dirinya membuncah, mobil Rajendra melaju cepat memecah jalanan, para penonton yang ada di sepanjang jalan bertepuk tangan dengan riuh menyemangati pilihannya masing-masing. Rajendra terus menghalangi laju lawannya, dia berkelok di depan mobil lawan dengan sengaja tanpa menambah laju kecepatan mobilnya.


Hal ini tentu saja membuat musuh Rajendra marah dan kesal, dia menekan pedal gas berniat untuk menabrak bagian belakang mobil Rajendra. Hal itu tentu saja berbahaya, jika tertabrak mobilnya pasti akan jatuh ke jurang, Rajendra panik, dia langsung menginjak gasnya untuk melaju cepat ke depan.


"Berhenti! Kau mau jadi jagoan ha?" tanya Raphael dengan mata melotot marah.


Dia memasang badan di depan Rajendra, jika saja Rajen bukan adiknya dia tidak akan membantu Rajen sedikitpun karena sudah jelas dia yang salah.


"Dia yang mulai lebih dulu, aku sudah menahan diri tapi dia tetap saja mencari gara-gara." Pria itu melangkah maju dengan tangan terkepal.


Lamunan Rajendra buyar saat Yeni mendekati dirinya dengan senyum manis.


"Kak jangan sedih! Aku pasti akan menemanimu dan tidak akan mengabaikan dirimu seperti dia, orang itu sangat sombong." Yeni berbisik manis pada Rajendra membujuk Rajendra dengan manis dan penuh tipu muslihat.


Rajendra tersenyum manis dan mengangguk, "kau benar, hanya kau yang baik padaku dan mau menemani diriku tanpa mengeluh."


Rajendra memegang tangan Yeni menggenggamnya erat, mereka berdiri di sana memandang segala yang ada di sana.


Raphael mendekati nenek lagi dan bertanya, "Nek! Bagaimana keadaanmu saat ini? Kau terlihat sedikit lebih bersemangat dari yang biasanya."


Nenek mengerucutkan bibirnya, "apanya yang bersemangat? Dasar anak nakal, aku terkena kanker paru-paru stadium lanjut, itu sebabnya kalian harus sering-sering pulang kemari untuk menengok diriku. Bagaimana kalau tiba-tiba aku meninggal mendadak?"


Anak-anak kecil yang mendengar perkataan Nenek langsung menghibur nenek dengan menembakan pistol air, mereka berlari di sekitar nenek dengan gembira.


Salah satu dari anak-anak itu tidak sengaja menyentuh pakaian Yeni, dengan marah Yeni langsung meremas tangan anak itu membuat anak itu meringis kesakitan.


Anak itu berlari menuju ke arah nenek untuk mengadu, "Nek! Kakak itu sangat galak dan pemarah," adunya dengan nada mengiba.


Raquel mengeluarkan permen yang selalu dibawanya memberikan itu pada anak-anak untuk menghibur mereka.