
Raquel mendorong Marvel masuk ke dalam mobil Raphael, Raquel duduk di sebelah Raphael tanpa melakukan pembicaraan sama sekali. Dia membuka teleponnya untuk menghubungi Derrick dan memberikan kabar tentang keberhasilan dirinya membawa Marvel keluar dari tempat itu.
Keheningan yang begitu canggung dengan aura dingin yang berbeda membuat Marvel merasa tidak nyaman di dalam kendaraan itu.
'Ini, kenapa rasanya begitu aneh? Apa yang terjadi?' Marvel berusaha untuk menghilangkan keberadaannya dari sana agar tidak mengganggu dua orang di depannya.
"Aku ikut masuk ke dalam!" Suara Raphael terdengar memasuki telinga saat mereka sampai di kediaman Derrick.
Dia melihat ke arah depan dengan tidak senang apalagi saat melihat tangan Raquel memegang Marvel dengan erat, aura berbahaya yang keluar dari tubuhnya membuat Marvel merasa tercekik.
"Tidak perlu, aku di sini hanya sebentar saja. Kau bisa pulang lebih dulu karena ada hal penting yang akan ku bicarakan dengan mereka berdua." Raquel tersenyum dengan manisnya berharap Raphael segera pergi setelah mendengar apa yang dia katakan.
Raphael terlihat ragu tapi dia tidak bisa memaksa, dia menatap pada Marvel yang mendapatkan keuntungan dari keadaannya yang lemah dan merasa ini sangat tidak adil.
"Baiklah kalau begitu, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku!" Raphael memberikan pesan sebelum dirinya melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan segera.
Marvel langsung merosot saat melihat Raphael sudah menjauh dari mereka, dia melangkah dengan hati-hati ke dalam rumah dan langsung disambut hangat oleh Derrick dengan tangan terbuka.
"Anda memang sangat hebat, Tuan! Saya tidak tahu kalau Anda bisa membawanya kembali lebih cepat," puji Derrick dengan sungguh-sungguh.
Marvel terkejut melihat interaksi ramah di antara mereka, dia melirik Derrick meminta jawaban namun Derrick memberikan kode lewat mata yang langsung dipahami oleh Marvel segera.
"Kau tinggallah di sini dengan baik hingga sembuh, aku tidak mau kau berkeliaran secara gegabah di luar. Derrick akan menjagamu dengan baik," jelas Raquel bersiap-siap untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Tangan Derrick yang terulur turun lagi, dia tahu Raquel sedang menyiapkan beberapa hal, kata-kata yang tersangkut di bibirnya terpaksa dia tarik lagi.
"Bisakah kita berjumpa lagi, Tuan?" tanya Derrick akhirnya saat melihat Raquel akan pergi dari tempat itu.
Raquel berbalik, dia tersenyum lalu menganggukkan kepala dan langsung melangkah pergi meninggalkan rumah Derrick.
"Kau yakin dia tidak menipu kita? Bagaimana kalau rahasia yang ada antara kita dan tuan bocor ke orang lain dan kebetulan dia mendengarnya?" Marvel mengangkat kepala dengan ekspresi rumit.
Di kepalanya pasti terbersit beberapa hal yang sekarang kacau dan menjadi satu, dia sangat ingin tahu apa yang sebenaenya terjadi dan kenapa bisa semua itu muncul dengan sangat aneh.
Derrick menarik kursi kayu lalu duduk berhadap-hadapan dengan Marvel, dia mengembuskan napas kasar menatap mata Marvel dalam dan penuh keyakinan.
"Dia tidak mungkin berbohong, rahasia itu hanya ada di antara kita kecuali orang itu mencuci otak salah satu dari kita. Kemampuannya juga menunjukkan hal yang sama, cara dia berbicara dan menatap juga tidak berubah." Derrick bersandar pada kursi menatap langit-langit ruangan itu dengan wajah lelah.
Di jalan, Raquel sibuk bermain dengan teleponnya untuk melihat berita terbaru hari ini.
"Cih ini terlalu dibesar-besarkan, padahal aku hanya kebetulan lewat di sana saja. Kalau aku tahu ini akan terjadi lebih baik aku memilih jalan lain tadi," gerutu Raquel saat membaca berita itu.
"Dia terlalu repot, untuk apa membuat pengumuman seperti ini? Apa untungnya? Padahal kita sudah melakukan transaksi yang saling menguntungkan," desah Raquel dengan gaya malasnya.
Dia menyimpan teleponnya kembali dan terus melangkah ke depan, dia ingin beristirahat sebentar saja.