
Tatapan nyalang tidak senang dilayangkan pada Yeni, kerabat yang ada di sana jelas tidak senang dengan keberadaannya di sini.
"Gadis sombong ini, siapa yang membawanya datang kemari? Padahal banyak orang yang tidak menyukai dirinya tapi tetap saja dia membuat keributan yang tidak berarti di sini," bisik seorang wanita gendut pada wanita di sebelahnya.
"Entahlah! Mungkin kakaknya tuan muda ke-empat yang membawanya kemari, aku dengar dia belajar kedokteran. Mungkin dia ingin menyombongkan semua itu pada kita yang ada di sini, dia kan suka pamer." Wanita itu membalas dengan sangat tidak ramah.
"Benar sekali! Setiap datang kemari dia selalu memancing keributan, dia bahkan menampar dan memperlakukan pelayan dengan sangat tidak baik seolah ini adalah rumah orang tuanya." Wanita gendut itu tidak berbicara keras karena takut akan menyinggung Rajendra.
Mata mereka beralih pada perhiasan yang dibawa oleh Yeni, jelas benda yang dibawa Yeni tidak memiliki nilai jual tinggi. Mereka bahkan tidak kekurangan semua itu di sini, tapi dengan sombongnya Yeni merasa barang yang dibelinya jelas sudah berkelas dan paling mahal di sini.
"Ayo kita ke tempat Nenekku! Aku akan memperkenalkan dirimu dengannya, dia pasti senang saat mengetahui kemampuan yang kau miliki. Nenek memiliki penyakit yang sukar untuk disembuhkan," bisiknya kemudian takut terdengar oleh orang lain.
Raquel menggeleng, "tidak perlu, aku di sini saja. Lagipula seorang dokter hebat dan sekolah di sebuah universitas ternama sedang memeriksa Nenek untuk apa aku mengganggu merekw, biarkan saja."
Yeni melirik ke arah Raquel, sebuah ide melintas di benaknya. Karena Yeni tidak tahu siapa Raquel dan belum mendengar kabar tentangnya Yeni berniat untuk mempermalukan Raquel.
"Nenek! Siapa wanita muda itu? Aku baru pertama kali melihatnya di sini, dia anggota keluarga ini juga kah?" Dengan manis Yeni bertanya pada nenek sembari mendekatkan dirinya seolah mereka sudah kenal dekat sekali.
Nenek tersenyum kecil pada Raquel, dia menggerakkan matanya memberi kode pada Raquel untuk membiarkan Yeni melakukan apa pun yang dia inginkan.
"Halo Raquel! Apa kabar? Kau baik-baik saja kan?" tanya kerabat dengan begitu manisnya.
Mereka bersikap begitu ramah pada Raquel, sikap yang berbanding terbalik dengan yang Yeni terima.
"Kami belum sempat mengucapkan terima kasih padamu tentang yang terjadi hari itu, kami menyadarinya setelah kau pergi." Wanita gendut berbicara dengan sangat lembut dan baik hati.
Semua orang tertawa senang dan berusaha untuk bersikap ramah pada Raquel, mereka tahu mencari perkara dengan Raquel saat ini adalah sebuah kerugian yang begitu besar.
Beberapa orang mulai berkerumun di sisi Raquel, mereka menanyakan ini dan itu untuk menghidupkan suasana dan agar bisa dekat dengan Raquel. Walau apa yang mereka katakan hanya dibalas Raquel sepatah atau dua patah kata saja, mereka tetap antuasias berada di sekitar Raquel.
Yeni yang melihat itu merenggut tidak suka, dia meremas gaun yang dipakainya dan sesekali akan menghentakkan kaki.
'Ada apa dengan semua orang ini? Seharusnya mereka memuji diriku, aku ini lulusan terbaik sebuah universitas ternama, aku pintar kedokteran dan aku juga kaya.' Yeni tidak habis pikir dengan perlakuan yang diterimanya.
Saat antusias orang-orang mulai redup Raquel berjalan ke sisi Nenek.
"Halo, Nek! Aku membawakan hadiah untukmu, aku harap kau menyukainya." Raquel menyerahkan hadiah yang dibawanya tadi.
Sekilas hadiah itu memang tampak biasa saja dan tidak istimewa, namun jika dilihat lebih teliti lagi orang-orang yang menyukainya pasti akan tahu harga barang itu.
"Cih, benda apa yang kau berikan pada Nenek? Itu tidak istimewa sama sekali," celotehnya dengan raut wajah kesal.
Nenek mengabaikannya, dia memegang benda itu dengan erat sembari melayangkan senyum ceria.
"Ini set peralatan makan yang digunakan oleh Ratu Kuno kan? Kau berhasil mendapatkannya?" tanya Nenek dengan raut wajah yang antusias.
Semua orang terkejut mendengar apa yang Raquel katakan, mereka tidak mengira apa yang didengarnya adalah sebuah kebenaran.