
Pengasuh yang melihat keributan itu hanya memilih diam dan sibuk mengerjakan tugasnya, sejak dimarahi hari itu oleh Raquel dan sejak mendengar peristiwa yang terjadi di rumah utama dia tidak lagi berani untuk macam-macam. Bahkan saat Raquel tidak ada pengasuh berusaha untuk tidak bermain-main lagi, jika Raquel ada di rumah dia akan berusaha untuk tidak terlihat.
Pengasuh sekali akan melirik ke arah ruang tamu, dia tidak mengatakan apa pun saat melihat pemilik tanah memeras Raquel.
'Hahaha, aku tidak ingin menjadi korban kemarahannya sendirian, jika orang lain ikut mengalami hal yang sama bukankah itu menyenangkan? Aku yakin pemilik tanah pasti akan dibuat tidak berkutik juga olehnya nanti,' batin pengasuh.
Saat ini dia sedang memanaskan masakan yang dibuatnya tadi pagi, dia juga sudah menyapu lantai dan mengepel sekeliling rumah. Pekerjaannya yang tersisa hanyalah mencuci pakaian dan piring kotor yang akan dipakai untuk makan nanti, rumput di jalanan juga sudah dibersihkan dan disapu oleh tukang kebun beberapa hari yang lalu.
"Berapa kali lipat naiknya?" tanya Raquel dengan alis terangkat sebelah.
Raquel melipat tangannya di dada menunggu pemilik tanah memperlihatkan seperti apa wujud aslinya.
'Ah mungkin dia sudah mendengar dari orang-orang kalau aku tidak diusir oleh kakek dan mendapatkan warisan, dia mungkin memanfaatkan semua itu untuk mengeruk isi kantongku.' Raquel menghela napas dengan kebodohan orang-orang yang ditemuinya akhir-akhir ini.
Di kehidupan sebelumnya dia tidak pernah menghadapi orang yang saya ceroboh di kehidupan kali ini, rata-rata orang yang dia temui sekarang adalah orang yang rakus akan harta dan kekuasaan, orang-orang yang suka mencari muka dengan menjelekkan orang lain dan mereka yang suka bersifat seperti Lotus putih namun berlumpur. Banyak orang yang tidak memikirkan perasaan orang lain hanya untuk mendapatkan sesuatu yang dianggap tinggi dan lebih berarti.
'Ah atau mungkin dulu aku yang tidak berpikir seperti ini, mungkin karena jabatanku sehingga semua orang tidak berani memperlihatkan ketidaksukaan mereka padaku.' Raquel mengangguk-angguk tidak jelas saat berpikir apa yang terlintas di benaknya adalah kebenaran.
"Tiga kali lipat dari kenaikan awal, kalau kau tidak sanggup kau bisa pergi sekarang juga. Kemasi barang-barang yang kau miliki! Aku beri kau waktu sampai malam ini," ujar pemilik tanah bangga.
Raquel masuk ke dalam kamarnya dia mengambil uang yang diberikan oleh Raphael beberapa waktu lalu,dia keluar lagi dan memberikan uang itu pada tuan tanah dengan santainya.
Pengasuh yang melihat Raquel mengeluarkan uang dengan begitu mudahnya hanya bisa melotot tidak rela, andai saja dulu dia berperilaku baik dan tidak melakukan kekerasan pasti Raquel akan baik juga padanya. Menyesal pun sekarang tidak berguna tapi dibandingkan bekerja di tempat lain uang yang dia dapatkan di sini lumayan besar dan pekerjaannya juga tidak sulit, dia masih bisa bersantai dan jalan-jalan ke manapun yang diinginkannya asal sudah selesai mengerjakan pekerjaannya.
Setelah mendapatkan uang bukannya pergi pemilik tanah malah termenung, dia melihat dengan mata bulat besarnya uang itu dan berpikir untuk mendapatkan lebih banyak dari ini.
"Bagaimana kalau kita mengasuransikan furniture di rumah ini?" Jelas sudah ini adalah tindakan pemerasan namun orang yang diperasnya tidak menunjukkan perubahan raut wajah.
Alis Raquel naik sebelah dia jelas memendam remeh pemilik tanah yang isi pikirannya sudah terbaca, Raquel tersenyum sinis lalu berjalan ke dapur untuk mengambil minuman demi bisa membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
Merasa Raquel tidak mengenali sifatnya dan berpikir kalau Raquel tidak memiliki saudara pemilik tanah memiliki rencana buruk untuk menguasai uang dan furniture yang Raquel punya.
Pemilik tanah melihat ke sekitar, matanya bertemu dengan mata si pengasuh dan dia mendekatkan bibirnya ke telinga Raquel untuk berbisik agar apa yang dia katakan tidak didengar oleh orang lain.
"Begini, uang dan perlengkapan yang kau miliki bisa saja dicuri atau dirampok oleh orang lain. Bagaimana kalau kamu menitipkannya padaku aku jamin tidak akan ada orang yang bisa merebutnya, nah saat kau butuh kau bisa meminta uang itu lagi padaku." Dia berbicara penuh dengan percaya diri seolah Raquel akan tertipu dengan apa yang dia ucapkan.
"Maksudku aku bersedia menerima hartamu dan uangmu ah maksudku aku bersedia menerima dirimu." Ralat pemilik tanah dengan senyum yang jelas menunjukkan isi hatinya.
Raquel mengambil susu hangat yang sudah dibuatkan oleh pengasuh, perlahan ia menyesatnya setelah merasa susu itu sudah agak dingin. Dari tindakannya saja sudah jelas kalau Raquel mengabaikan pemilik tanah, dia bahkan memunggungi pemilik tanah.
"Tapi aku tidak mau? Tidak ada keuntungan yang aku dapatkan dari menitipkannya padamu, lebih baik aku menyerahkan pada bank jelas uangku aman di sana." Raquel berbicara dengan santai.
Susu yang masuk ke mulutnya memberikan rasa nikmat, rasa hausnya juga berkurang ditambah aroma yang menyeruak ke hidungnya membuat Raquel merasa segar kembali.
"Ayolah! Percayakan padaku! Aku yakin dapat mengelola uangmu dengan baik, aku akan menjaga dan menyimpannya dengan sepenuh hati, aku juga tidak akan memakainya." Pemilik tanah masih berteriak-teriak tidak jelas berharap Raquel akan mengikuti apa yang dia katakan.
"Tidak baik anak perempuan memegang uang sebanyak ini, bagaimana kalau tiba-tiba ada pencuri yang masuk ke sini dan melukai dirimu? Biarkan uangmu di tempatku agar pencuri dan perampok itu datang menemui diriku." Pemilik tanah masih enggan untuk menyerah.
Raquel mengorek-ngorek kupingnya dengan jari kelingking, dia membuang napas kasar lalu melirik ke arah pengasuh yang sedang memasukkan air ke dalam mesin cuci.
"Apakah selama dia ini dia secerewet itu? Atau baru sekarang dia bertindak seperti itu?" tanya Raquel dengan wajah masam.
Pengasuh yang ditanyai oleh Raquel berbalik, dia terlihat bingung dalam menanggapi apa yang Raquel katakan barusan.
"Mungkin dia bersikap seperti itu setelah melihat uang yang ada di tangan anda, siapapun yang melihat uang sebanyak itu pasti akan menggila seperti dirinya. Toh selama ini semua orang menganggap Anda tidak memiliki dukungan ataupun keluarga sehingga mereka bisa bersikap seenaknya pada Anda." Pengasuh mengatakan seperti apa yang dia lihat dan dia dengar selama ini.
Raquel mengangguk-anggukkan kepala tanda paham, dia berjalan ke ruang tamu dengan sisa susu hangat yang masih ada di genggaman tangannya. Sisa air itu dengan cepat disiramkan ke kepala pemilik tanah membuat baju yang dipakainya basah dan rambutnya menjadi lepek dan lengket, wajah pemilik tanah berubah menjadi buruk.
Tentu saja dia tidak akan menyangka kalau Raquel akan berbuat seperti ini padahal selama ini yang dia dengar Raquel mudah ditindas dan diintimidasi.
"Ah beginilah caraku melayani tamu yang begitu blak-blakan dalam berbicara. Hanya ini yang bisa kulakukan, maafkan aku!" ujar Raquel dengan senyum penuh kemenangan.