
Saat keributan besar itu terjadi semua orang melihat ke belakang, mereka terkejut dan berseru dengan mata melotot saat melihat semua bawahan Yenny yang begitu bangga sudah jatuh terduduk. Mereka semua dikalahkan dalam satu serangan oleh orang-orang berpakaian hitam dan juga bersenjata lengkap, Yenny melotot tidak senang.
Dilihatnya keadaan sekeliling untuk melihat bawahannya yang masih bertahan namun sudah tidak ada satu pun yang tersisa, senjata yang ada di tangan mereka sudah direbut dengan paksa dan sekarang mereka jongkok dengan ke-dua tangan di belakang kepala.
"Kenapa bisa seperti ini? I-i-ini ti-ti-tid-tidak mungkin terjadi, jelas-jelas mereka tidak ada dan sudah digantikan oleh bawahanku. Ini jelas sebuah kebohongan," teriak Yenny tidak terima.
Yenny pikir sejak awal dirinya sudah menang namun nyatanya dia ditipu dan dianggap bodoh, Yenny melihat kakek yang terluka dengan mata memerah. Kebencian di dalam hatinya tersulut semakin besar tapi dia tahu tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan saat ini.
"I-i-ini ti-ti-tid-tidak benar kan? Sejak kapan? Kenapa aku dan anak buahku tidak menyadari ini sejak awal?" tanya Yenny tidak habis pikir.
Yenny jatuh terduduk dengan tangan menutupi wajahnya, dia menangis hebat tidak tahu harus melakukan apalagi saat ini. Yenny menatap nanar pada asisten pribadi kakek yang sepertinya sudah ikut tertipu juga, pria tua itu tampak lesu dan kehilangan gairahnya.
Kakek langsung mendorong kursi roda yang dipakai nenek ke dalam ruangan, dia terlihat sangat terburu-buru dan terkesan mengabaikan Yenny dan Reina yang sudah membuat kekacauan di acara besar itu.
"Hehe tapi percuma, pria tua itu sudah tertusuk oleh orang suruhanku, dia tidak akan bertahan lama dan sebentar lagi pasti akan mati." Yenny tertawa saat memikirkan asisten pribadi kakek yang tadi berhasil mengenai tubuhnya.
Sayangnya itu semua berubah kecewa saat Yenny melihat kecepatan langkah kaki kakek menuju ke dalam rumah saat mendorong nenek, Yenny jelas langsung terdiam dengan wajah memerah.
Raphael mengusap dagunya, sejak awal permainan yang menyebabkan dia enggan untuk menyuruh anak buahnya turun tangan karena sepertinya tahu kalau Yenny sedang merencanakan pemberontakan.
"Tebakanku benar kan? Pria tua itu licik dan penuh perhitungan, dia tidak akan mau kehilangan kekuasaannya dengan mudah. Salahkan Yenny yang tidak menghitung semua dengan matang." Raphael tersenyum pada Raffertha yang dibalas Raffertha dengan anggukan kepala.
Yenny yang tahu dirinya tidak akan bisa kabur dan menyelamatkan diri langsung berlari ke dalam ruangan menyusul ayahnya, dia bersujud di kaki ayahnya memohon pengampunan.
"Maafkan aku Ayah! Aku khilaf, aku terbawa nafsu sesaat, ampuni aku! Izinkan aku untuk menebus semua ini." Yenny menangis histeris.
Yenny merangkak menuju ke arah Raphael dan Raquel, dia bersujud memohon agar semua orang yang ada di sana mau memafaatkan Reina.
"Tolong jangan libatkan putriku, dia tidak bersalah. Semua ini rencanaku, tolong jangan libatkan dia dalam masalah kita ini!" Yenny memohon dan bersujud di kaki Raphael.
Raphael mundur dengan cepat, "maaf, tapi aku tidak layak menerima sujudmu itu. Aku sungguh menyesal," tolak Raphael cepat.
Raquel juga melakukan hal yang sama, dia jelas tidak akan memberikan maaf.