
Raquel berlari pagi di sekitar area tempat tinggalnya, saat sedang berlari mengitari area itu tanpa sengaja dia bertemu dengan seorang pria tua yang hampir terserempet mobil. Dengan cepat Raquel berusaha untuk membantu orang itu, dengan sigap dia berhasil menolong orang itu namun pria yang dia bantu malah berpura-pura jatuh.
Orang-orang yang berlalu lalang di area itu menatap Raquel dengan pandangan mata menuduh, apalagi saat mereka mendengar ratapan sedih yang keluar dari bibir pria tua itu.
"Gadis kecil! Kenapa kau mendorong diriku? Apa yang telah kulakukan hingga kau begitu marah padaku?" tanya pria itu dengan nada mengiba.
Raquel yang awalnya berniat baik menatap orang tua itu dengan pandangan mata dingin tidak bersahabat, niat baiknya nyatanya disalahartikan oleh seseorang dan dia dituduh dengan sangat kejam.
"Aku memang sudah tua dan merepotkan, kenapa kau harus mendorong diriku dengan kasar. Jika kau ingin lewat kau bisa memilih jalan lain," ujar pria itu dengan berurai air mata.
Orang-orang di sekitar yang tidak mengetahui kebenarannya langsung berbisik satu sama lain.
"Wanita kecil ini sangat kasar dan tidak sabaran, bahkan orang tua seperti ini tidak dia lepaskan." Seorang wanita berbicara pada putrinya dengan jari menunjuk hidung Raquel.
"Benar, kalau dia putriku aku pasti sudah memarahi dia menggunakan kayu. Untuk apa membesarkan seorang putri yang tidak berguna?" Wanita lain mengangguk dengan wajah menunjukkan ketidaksenangannya.
"Gadis ini seperti tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuanya, lihat sikap dan cara dia menatap kita! Benar-benar tidak memiliki aturan," hinaan itu semakin menjadi-jadi.
Beberapa orang yang membawa telepon mengambil foto Raquel, mungkin dia bermaksud untuk mengirim foto itu di sosial media seperti yang biasa mereka lakukan.
"Gadis kecil, daripada memperpanjang masalah ini lebih baik kau memberikan aku sejumlah uang untuk biaya kompensasi atas cidera yang aku alami. Kau bisa memberikan aku setidaknya beberapa lembar uang ratusan," ujar pria tua itu dengan senyum.
Raquel tertawa dengan pandangan mata yang begitu sinis, dia jelas tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh si pria tua itu padanya. Raquel menarik pria tua itu dengan paksa menyebabkan pria itu hampir jatuh tersandung ke depan, melihat reaksi yang Raquel tunjukkan pria itu berteriak lalu menangis keras dengan ekspresi ketakutan.
Raquel menggunakan kekuatan permata untuk memeriksa keadaan pria tua, dari kepala, kaki, tangan dan jantungnya semua menunjukkan kalau pria itu baik-baik saja dan tidak mengalami sesuatu yang buruk.
Pada saat Raquel sedang fokus melakukan pemeriksaan pada si pria tua, seseorang maju ke depan memperlihatkan wajah Raquel dan wajah pria tua itu.
"Hei kalian saat ini sedang menonton video saya, saat ini saya berada di jalan umum. Kalian lihat di depan saya! Ya, saat ini ada kasus yang cukup memprihatinkan." Wanita itu berceloteh dengan gembira sembari menampilkan wajah cantik Aleta di depan kamera.
"Gadis di depan kalian sangat tidak memiliki aturan, dia dengan kejam menjatuhkan seorang pria tua. Jangankan memberi kompensasi atau membawa pria ini ke rumah sakit, meminta maaf pun dia tidak. Lihat wajah sombongnya ini!" ujar wanita itu dengan sinis dan keras.
"Hei pria tua! Sampai kapan kau akan bermain drama dan bertindak seolah kau tidak bisa berdiri dengan benar?" tanya Raquel saat melihat pria itu terjatuh lagi.
"Kau tidak mau berdiri ya?" tanya Raquel lembut dengan senyum aneh di bibirnya.
Si pria tua berpura-pura tidak mendengar apa yang Raquel katakan, merasa ada yang salah wanita yang tadi melakukan siaran langsung langsung mematikan kameranya dan menghapus rekaman yang ada.
Dia mundur ke belakang bergabung lagi dengan orang-orang itu, di sisi lain Raffertha sedang duduk dengan tangan menopang dagu. Dia penasaran dengan info yang didapatkannya kemarin di mana beberapa orang pembunuh mengikuti Raquel dan berniat untuk membunuhnya.
"Aku heran, apa yang menyebabkan orang-orang itu berniat untuk membunuh Raquel hingga mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi dirinya. Pasti ada sesuatu yang dia miliki yang menjadi incaran mereka?" tanya Richard pada anak buahnya yang berdiri di sampingnya.
Pria itu mengangguk, "menurut saya juga begitu, Tuan! Gadis kecil seperti Raquel yang sengaja tidak memperlihatkan kemampuan dan kehebatannya tapi tetap saja orang-orang itu merasa terancam. Apalagi dia tidak pintar di sekolahnya dan selalu bertingkah bandel,"
Pria itu juga tidak habis pikir dengan apa yang sudah terjadi, bagaimana mungkin gadis cantik seperti Raquel yang bersifat masa bodoh dan tidak peduli akan lingkungan dan harta warisannya dianggap berbahaya oleh orang-orang itu.
Raffertha pun ikut mengangguk bingung, dia juga heran dengan tingkah bibinya dan para tetua yang sudah rela mengeluarkan banyak trik hanya untuk menjebak Raquel.
Di jalan tadi, Raquel menarik sepatu yang dipakai oleh pria tua itu. Raquel mengeluarkan jarum yang entah di dapatnya darimana dan memegang jarum itu dengan erat sembari mengarahkan ujungnya yang tajam ke arah kaki si kakek.
"Kakek, karena kau bersikeras meminta pertanggungjawaban dariku dan aku juga tidak mau dianggap buruk oleh orang-orang ini maka aku akan mengobati dirimu. Silakan ulurkan kakimu padamu! Aku akan mengobati sakit yang kau rasakan dengan akupuntur." Raquel tersenyum seramah mungkin dengan wajah cantik yang membuat si pria tua ketakutan setengah mati
Dia langsung berdiri dengan mata melotot pada Raquel, pria itu jelas panik dengan senyum dan jarum yang Raquel perlihatkan padanya.
"Jangan macam-macam gadis kecil, aku bisa menuntutmu atas percobaan pembunuhan." teriak pria tua itu.
Dia lupa kalau tadi dirinya berpura-pura tidak bisa berdiri dengan benar, semua orang mengembuskan napas dingin dengan wajah tidak senang. Mereka yang tadi sudah menunjuk dan memarahi Raquel dengan kata-kata kasar hanya bisa menunduk malu.
"Kek! Bukankah kau mengatakan kakimu tidak bisa berdiri, aku juga mengatakan padaku tadi kalau mentalmu terganggu akibat aku dorong dengan sengaja. Lalu kenapa tiba-tiba kau bisa berdiri dengan benar seperti itu?" tanya Raquel heran sembari mengusap dagunya.
Wajah pria itu menghitam, dia terjebak oleh Raquel dan dengan malu menatap sekeliling. Semua orang berbisik tentang dirinya berbanding terbalik dengan apa yang diharapkannya tadi.
"Dasar penipu! Kau mempermainkan kami hingga kami menuduh gadis kecil ini dengan kata-kata kasar dan tidak berperasaan, minta maaflah pada gadis itu!" cemoohan dan teriakan terdengar menggema di sana saling sahut-sahutan.