
Raquel yang terburu-buru untuk pergi merasa kesal, dia mendecakkan lidahnya dengan mata memutar malas. Raquel menengok ke belakang dengan kebencian yang diperlihatkan di kedalaman matanya, dia tersenyum aneh pada Riana yang membuat Riana melangkah mundur dengan cepat.
Lidah Riana tercekat, kerongkongannya terasa kering. Pandangannya terlihat begitu aneh pada Raquel, hal ini tentu saja memunculkan senyum sinis di bibir Raquel.
Raquel maju ke depan dengan cepat diraihnya tubuh Riana, Riana langsung dihempaskan di lantai dengan keras membuat suara ringisan keluar dari bibir merah mudanya yang memikat. Riana memegang bagian tubuhnya yang terasa sakit, air matanya mengalir deras.
Belum pernah dia diperlakukan kasar seperti ini dan Raquel adalah orang pertama yang melakukan semua hal ini padanya dan dia merasa tidak sanggup untuk menahan rasa sakit. Apalagi tekanan yang diberikan Raquel padanya semakin meningkat, Riana mencoba menjangkau Raquel berniat untuk melakukan hal yang sama namun tangannya langsung ditahan oleh Raquel.
"Apa? Kau mau membalasku ya? Memangnya kau mampu? Apa kau memiliki kekuatan sendiri?" cemooh Raquel dengan tawa mengejek.
"Le-le-lepaskan aku Raquel, kau tahu kan saat ini kau berurusan dengan siapa? Aku jelas memiliki dukungan dan keluarga yang berdiri di belakangku, sedangkan kau, siapa yang menginginkan dirimu ha?" tanya Riana sengaja memancing kemarahan Raquel.
Raquel semakin menekan dengan kuat bagian tubuh Riana yang diinjaknya, dia menatap sekeliling pada wajah pucat anak-anak yang mengganggu dirinya.
"Hari ini aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main dengan kalian semua, aku ingin sekali menghabisi kalian tapi aku ada keperluan yang sangat mendesak." Raquel melepaskan Riana dan merapikan kembali pakaiannya.
Raquel berusaha untuk mengatur napasnya agar kembali normal seperti tadi, Raquel melihat ke arah pagar. Dia menggosok dagunya sembari memperhitungkan tembok bagian mana dan cara dia menaiki tembok dengan aman, Raquel jelas sangat ingin meninggalkan tempat ini.
Riana berdiri dengan cepat, dia merapikan pakaiannya juga. Raquel mendekati tembok yang dekat dengan sebatang pohon, dia berencana akan memanjat pohon itu untuk bisa sampai ke tembok namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Riana yang begitu menantang dirinya.
"Anak pembawa sial seperti dirimu kenapa bisa begitu bangga ya? Apa karena kakak kedua mendukungmu kau jadi besar kepala ha? Kau lupa siapa dirimu selama ini? Perlakuan yang kau terima serta rasa sakit yang kau dapatkan akibat pengabaian mereka?" Riana tanpa berpikir panjang langsung mengatakan semua itu dengan begitu lancarnya.
"Bagaimana caramu menjelaskan pada mereka? Apa yang akan kau katakan dengan reputasimu yang hancur itu? Semua orang sudah melihat foto-foto memalukan itu, guru kita, kepala sekolah dan bahkan semua murid di sini sudah melihatnya. Kau tidak memiliki masa depan lagi," ejek Riana dengan bangganya.
Dadanya membusung ke depan, dia berdiri dengan tangan terlipat di dada terlihat angkuh karena yakin Raquel pasti akan kalah telak hari ini.
"Riana!" panggil Raquel lembut namun menakutkan. "Apa ibu dan kakakmu tidak menceritakan dengan benar apa yang mereka alami semalam? Apa kau tidak melihat kondisi Kakakmu setelah berhadapan denganku?" tanya Raquel dengan suara datar.
Raquel yang ingin pergi jelas terlihat berubah pikiran, meski tidak berbalik semua orang yang ada di sana kecuali Riana pasti sudah melihat perubahan aura yang dikeluarkan oleh Raquel. Tekanan yang keluar dari tubuhnya jelas berbeda dari tadi, dan sepertinya Raquel berada di puncak kemarahannya sekarang.
'Kau pasti ingin melihat wanita kurang ajar itu menerima konsekuensi dari perbuatannya kan? Kau pasti kesal sekarang? Tenang saja, aku akan membalaskan rasa sakit mu itu sekarang." Raquel berbalik dan tanpa bisa diperhitungkan oleh semua orang dia langsung menarik pergelangan tangan Riana.
Gerakan cepatnya tidak mampu dihindari oleh Riana hingga dia terjebak, Raquel mengerahkan kekuatan dari permata yang dimilikinya untuk memeriksa kondisi tubuh Riana. Raquel terkejut saat mengetahui hasil yang dia dapatkan bahkan tubuhnya tersentak namun dengan cepat dia langsung memperbaiki raut wajahnya itu.
'Hahaha, ini kesempatan bagus untuk kita, hari ini aku bisa membalaskan dendammu dan membuat wanita ini menderita tanpa melakukan sesuatu yang dapat dilihat oleh orang lain.' Raquel jelas bahagia dengan temuannya saat ini.
Riana berusaha untuk menarik tangannya menjauh dari genggaman erat Raquel namun dirinya tidak bisa melakukan semua itu, dia kesakitan tapi tidak ada yang berani membantu dirinya.
Raquel mendapatkan hasil yang begitu memuaskan, dia menyadari kalau Riana terkena penyakit Aids, dia akan membuat penyakit itu parah hingga semua orang mengetahui kebusukan Riana.