
Raquel memutar matanya malas, dia mendorong Raphael untuk menjauh dari dirinya.
"Awas sana! Aku harus segera pergi dari sini, aku tidak mau terlambat pergi ke sekolah nanti gara-gara tertahan lama di sini bersamamu." Raquel melihat pergelangan tangannya dia lupa kalau dia tidak memakai jam hari ini keluar rumah.
Dia melihat ke segala arah dan memandang ke langit untuk mengetahui jam berapa sekarang, setelah menentukan pukul berapa sekarang Raquel mengerucutkan bibirnya tidak suka.
"Aku akan pergi ke sekolah dan jangan ikuti aku, aku tidak mau identitasku terekspose lebih cepat, aku lebih suka seperti dulu untuk saat ini, aku tidak bisa menahan gelombang kebencian lain." Raquel hendak melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan segera namun bahunya ditahan oleh Raphael.
"Aku hanya ingin melindungi dirimu, ada seseorang yang mengikuti dirimu dan sepertinya dia berniat untuk membunuh dirimu. Dari kemarin dia terus memburumu," ujar Raphael lembut mengingatkan Raquel.
Raphael hanya ingin melindungi Raquel, dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Raquel. Raphael memperhatikan raut wajah Raquel, sama seperti sebelumnya dia masih melihat Raquel dengan tatapan datar dan tanpa ekspresi miliknya.
Raut wajah ke-duanya terlihat begitu jelas berbeda, yang satu dengan kelembutan yang entah dia dapatkan dari mana dan yang satunya lagi dengan raut wajah kesal dan marahnya.
"Ngomong-ngomong, kau ingin melindungi diriku kan. Lindungi dulu dirimu, kau juga sama berbahayanya dengan diriku. Musuhmu bahkan bisa lebih banyak dari diriku, kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku karena aku bisa menjaga diri sendiri." Raquel tentu saja menolak untuk diawasi.
Pergerakannya akan terhambat dan dia tentu tidak bisa sebebas biasanya, ke mana pergi dia akan diiku dan hal itu tentu saja membuatnya sangat tidak nyaman. Di dalam mobil tadi, pria itu melihat dengan saksama pertikaian antara Raquel dan Raphael, dia merasa apa yang sedang di tontonnya sangat menarik perhatian.
Raphael membuka telapak tangannya setelah Raquel pergi, di sana ada alat pelacak yang diambilnya dari tubuh Raquel dan sepertinya Raquel tidak menyadari itu. Mungkin alat itu dipasang saat terjadi keributan, Raphael memeriksa sekitar namun dia tidak menemukan apa pun.
Raquel menyentak tangan Raphael lalu meninggalkan tempat itu dengan segera, dia menghilang di gang dan langsung menuju rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian agar bisa segera ke sekolah. Dalam hitungan menit dia sudah selesai dan segera berlari menuju ke sekolah, Raquel yakin apa yang terjadi semalam pasti akan menjadi sebuah berita besar.
Di tempat tadi, tidak jauh dari lokasi keributan seorang wanita tua langsung pergi meninggalkan tempat itu saat alat pelacak yang dia pasang di tubuh Raquel ketahuan oleh seseorang. Dia tidak ingin tertangkap dan dengan kecepatan penuh meninggalkan lokasi keributan menuju ke sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari sana.
Di jalan wanita tua itu sempat berhenti dan menengok ke belakang, dia berusaha untuk menemukan apakah ada orang yang menyadari kehadirannya di tempat itu dan mengikutinya.
"Syukurlah tidak ada yang mengikuti diriku, aku takut ketahuan oleh pria tadi. Aku pikir gadis itu tidak memiliki dukungan sama seperti gosip yang beredar tapi nyatanya dia dilindungi oleh seseorang." Wanita tua itu dengan suara serak berbicara sembari menggosok dadanya.
Raphael meminta anak buahnya untuk memeriksa keadaan sekitar berharap orang yang memasang alat pelacak di tubuh raquel ditemukan namun anak buahnya kembali dengan tangan kosong dan kekecewaan.
Raphael mengepalkan tangannya kesal, andai saja dia bergerak cepat pasti dia bisa menemukan apa yang dicarinya. Dia marah karena sudah melepaskan mangsa yang ada di depan matanya, Raphael naik kembali ke mobil tadi diikuti oleh bawahannya.
"Kasihan," ejek teman Raphael dengan senyum menggoda.
Mendengar itu Raphael mencebik, dia memutar matanya kesal dengan wajah datar. Hilang sudah kelembutan yang tadi dia berikan pada Raquel, dia memilih diam dan merapikan pakaiannya.
Mobil pun pergi meninggalkan tempat itu dengan segera, wanita tadi akhirnya sampai di rumah sakit. Dia berhenti di tempat parkir dan sekali lagi melihat ke belakang dengan waspada, dia memastikan tidak ada yang mengikuti dirinya kemudian masuk ke rumah sakit dengan segera.
Dia menuju ke lantai 3 rumah sakit di mana ada ruang VIP berada, dia memasuki sebuah ruangan kamar kemudian menutup pintu rapat. Dia melepas topeng kamuflase yang dipakainya memperlihatkan wajah aslinya, pria di depannya menaikkan alis dan melihat ke belakang seperti sedang mencari sesuatu.
Ternyata dibalik wajah wanita tadi adalah seorang pria, dia menyimpan topeng itu dan menunduk hormat ke pria yang berbaring di ranjang rumah sakit.
"Maafkan saya, Bos! Saya tidak bisa membawanya ke sini, dia dilindungi seseorang dan saya tidak bisa mendapatkannya. Tapi saya berhasil mendapatkan fotonya," ujar pria itu pada bos besar yang sedang menjalani perawatan.
Pria itu menerima foto yang diberikan padanya, dia melihat dengan teliti dan sedikit terkejut. Ada ketidakpercayaan di wajahnya saat melihat foto itu, dia melirik anak buahnya dengan alis terangkat sebelah.
"Apa kau yakin dia yang sudah menolong wanita tua itu? Kau yakin dia dokter genius itu?" tanyanya memastikan.
Pria itu langsung menganggukkan kepalanya, "benar Tuan! Dia adalah orang yang sudah menyelamatkan nenek tua itu, dia yang memberinya perpanjangan usia dari target yang dikatakan oleh dokter rumah sakit."
"Apa kau yakin?" tanya pria itu dengan wajah penasaran.
"Ya, Tuan! Saya yakin dia pasti bisa menyembuhkan penyakit Anda, kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk membawanya untuk bertemu dengan Anda." Pria itu yakin Raquel mampu menyembuhkan penyakit tuannya.
Di dalam kelas Raquel keributan sedang terdengar, beberapa anak sibuk menceritakan tentang gosip yang mereka dengar kemarin. Mereka membuat beberapa kelompok untuk bisa bercerita lebih leluasa, Raquel masuk ke dalam kelas dengan santai dan duduk di kursinya seperti biasa.