The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
73. Ingin Ikut



Raquel menjadi penasaran, dia bersemangat untuk ikut pergi bersama Raphael. Raquel hanya pernah mendengar tentang tempat itu tapi belum sampai ke sana untuk melihat, bagaimana mungkin dia bisa mengabaikan kesempatan indah begitu saja.


Raphael yang melihat senyum aneh di bibir Raquel tentu saja merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Bolehkah aku ikut denganmu? Aku janji aku tidak akan membuat masalah?" pinta Raquel mencoba bersikap manja dan manis.


Tentu saja Rafael langsung menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju dengan keinginan Raquel yang menurutnya berbahaya, Raquel didorong menjauh oleh Raphael dengan lembut takut untuk menyakiti dirinya.


"Aku tidak bisa membawamu ke sana! Tempat itu terlalu berbahaya untukmu, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu yang menyebabkan aku menyesal di kemudian hari." Raphael berusaha untuk membujuk Raquel untuk berubah pikiran.


Sayangnya gadis yang berada di depan Raphael jelas tidak seperti gadis-gadis menurut lainnya.


'Aku harus ikut bagaimanapun caranya, akan ku tunjukkan padanya kalau aku mampu dan tidak akan menjadi beban baginya di sana.' Kini giliran Raquel yang melihat sekeliling ruangan.


Dia melihat pipa saluran air, tanpa berpikir panjang Raquel melangkah ke sana dan dengan tangan kosong dia mematahkan pipa air. Tidak cukup sampai di sana Raquel juga menghancurkan kita dengan tangan kosong tanpa memakai alat apa pun, Dia terlihat bangga setelah melakukan tindakan itu senyum puas di bibirnya jelas membuat Raphael sakit kepala.


Raphael terkejut saat melihat tindakan berani Raquel, dia dengan cepat mengangkat tangan Raquel untuk melihat apakah tangan itu terluka. Raphael bahkan menekan beberapa bagian untuk melihat apakah Raquel mengalami sakit atau cedera patah tulang, tidak puas sampai di sana Raphael bahkan menggoyang-goyangkan tangan Raquel sembari memperhatikan raut wajahnya.


"Apakah kau merasakan sakit di suatu tempat?" tanya Raphael hati-hati setelah tidak menemukan luka.


Raquel menggelengkan kepalanya, dia memberikan senyum manis pertanda semua baik-baik saja.


"Aku ke sana untuk bekerja tidak untuk bermain-main, tempat itu tidak aman bagimu tolong sekali ini dengarkan apa yang aku katakan!" Raphael memohon dan hal ini membuat takjub para pendengar di luar ruangan.


Pengasuh yang melihat interaksi di antara dua orang itu lebih memilih mengeluarkan kain yang sudah dicuci untuk dijemur, dia membawa semua kain itu ke belakang rumah di mana cahaya matahari menerangi tempat itu hingga sore datang.


"Semuanya benar-benar berubah sekarang, anggota keluarga yang dulu mengabaikannya kini bahkan datang ke tempat ini untuk melihat keadaannya walaupun dia tengah bekerja." Pengasuh berceloteh dengan tangan sibuk mengatur jemuran.


Di dalam ruangan Raquel enggan untuk menyerah, dia mencoba bersikap imut untuk membujuk Raphael agar bisa mengizinkan dia pergi bersama. Sungguh dia sangat penasaran dengan tempat itu, dia ingin datang ke sana untuk melihat apa yang terjadi bagaimanapun caranya.


"Baiklah kau boleh ikut, tapi kita harus membuat aturan terlebih dahulu. Kau tidak boleh berada jauh dariku, jangan lakukan tindakan yang sembrono!" Raphael kalah, dia hanya bisa menerima Raquel untuk ikut bersamanya.


"Kau mau pergi seperti itu? Tidak bisa, mandi dan berpakaian yang layak, kalau kau seperti itu lebih baik kau di rumah saja." Raphael jelas tidak senang dengan keadaan Raquel saat ini.


Raquel menunduk, dia baru ingat kalau masih memakai baju tidur dan belum berganti pakaian sejak tadi. Dia bahkan belum mandi dan menggosok gigi, beruntung wajahnya masih cantik dan tidak menunjukkan kekurangannya sedikitpun.


Raquel berlari ke kamarnya dengan cepat untuk mandi dan berpakaian, entah seperti apa cara mandinya tidak sampai setengah jam dia sudah keluar dari ruangan dengan tampilan bersih dan segar. Rambutnya diikat tinggi agar tidak mengganggu kegiatan yang akan dia lakukan nanti, dia memakai sepatu bertumit tinggi dan berjalan dengan santainya tanpa terlihat terganggu sama sekali.


"Ayo kita pergi! Aku sudah tidak sabar melihat tempat itu," ujar Raquel dengan gembira.


Dia menggosok tangannya dengan senyum aneh, Raphael menggelengkan kepala tapi tidak marah akan tindakan Raquel.


Ke-duanya berjalan menuju pintu masuk rumah, Raphael tanpa aba-aba menarik pintu itu ke arahnya dan temannya yang menguping di belakang pintu hampir terjengkang. Dia menggaruk kepalanya dengan wajah malu-malu, dia jelas canggung karena sudah ketahuan oleh rekannya.


"Apa yang kau lakukan? Ayo kita pergi dari sini," ajak Raphael dengan raut wajah datarnya.


Hal ini jelas jauh berbeda dengan penampilannya tadi saat bersama Raquel, rekan kerja Raphael langsung mengangguk. Mereka dengan cepat melangkah pergi meninggalkan lokasi dengan segera, Raphael membawa Raquel masuk ke dalam mobil yang dipakainya.


"Ingat apa yang aku katakan tadi, aku akan mencarikan tempat yang layak untuk kau tinggali di sana untuk sementara waktu selama kita di sana. Aku akan memberikan fasilitas dan perawatan terbaik agar kau nyaman selama aku bekerja," ujar Raphael dengan lembut membelai rambut Raquel.


Tanpa disadari oleh Raquel yang tengah bergembira Raphael mengirimkan pesan pada Raffertha.


"Rencana berhasil, dia sepakat untuk ikut denganku. Sisanya akan kuserahkan padamu, berikan dia semua yang terbaik, aku tidak ingin dia mengalami hal yang sama seperti di rumah lamanya." Isi pesan yang dikirimkan oleh Raphael pada Raffertha.


Tidak lama balasan pesan datang dari Raffertha, "wah kau memang hebat, aku tidak mengira ini akan berhasil dengan begitu cepatnya. Baiklah, aku akan menyiapkan segalanya, kabari aku kalau kau hampir sampai."


"Oke," balas Raphael singkat.


Iringan mobil melaju meninggalkan tempat itu, Raquel membawa beberapa barang yang dia butuhkan di dalam tasnya. Sepertinya dia menyiapkan banyak hal yang menarik.