The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
34. Komunikasi



Reina menundukkan kepalanya, di tengah-tengah keramaian seperti ini di mana semua orang tengah memperhatikan mereka dia harus memutar otak untuk menemukan cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian dan pembelaan dari semua orang.


Reina memikirkan semua pandangan buruk orang-orang terhadap Raquel dengan mendalam, dia tahu semua orang tidak pernah memandang dirinya dengan baik dan selalu menyalahkan Raquel.


Dia tidak ingin dianggap lemah tapi tidak ingin jga Raquel lepas begitu saja, Reina memikirkan film sedih yang ditontonnya kemudian wajahnya mulai memerah dengan mata berlinang.


Penampilan menyedihkan yang ditunjukkan oleh Reina memang membuat beberapa orang mengiba.


"Jika yang diambilnya adalah permata yang lain aku tidak akan sedih dan terluka seperti ini, tapi yang dia ambil adalah permata yang ditinggalkan oleh ayahku. Permata itu sudah menemani diriku dari kecil, aku sangat menyayangi permata itu seperti aku menyayangi ayahku." Kata-kata yang Reina ucapkan memang mengundang simpati semua orang.


Tatapan mata orang-orang di sana tertuju pada Raquel yang tidak menampilkan raut bersalah, saat semua tatapan tertuju padanya Raquel hanya mengangkat bahu dan menaikkan alisnya seolah bertanya ada apa pada semua orang.


Jika itu orang lain mungkin dia akan terpengaruh dengan tatapan menuduh itu tapi ini Raquel dia tidak akan merasa peduli karena memang dia tidak melakukan itu.


"Kenapa? Apa yang salah?" tanya Raffertha saat melihat semua orang menuduh Raquel dengan tatapan menyalahkan.


Raquel yang seharusnya melakukan pembelaan malah terlihat seperti orang yang tidak ikut terlibat.


"Permata itu adalah pemberian ayahku yang paling berharga, aku menjaganya dengan sangat baik." Reina sekali lagi mengulangi ucapannya.


Raffertha berkacak pinggang, ditatapnya semua orang yang ada di sana sekali lagi.


"Apakah ada dari kalian yang melihat adikku mengambil permata itu? Bagaimana cara dia mencurinya? Di mana Reina meletakkan permata itu sehingga adikku bisa mendapatkannya?" Raffertha melayangkan pertanyaan.


"Ini jelas merupakan jebakan, adikku tidak akan melakukan semua itu. Dia tidak mungkin melakukan itu karena apa yang dia inginkan selalu kami berikan," ujar Raffertha melakukan pembelaan terhadap Raquel.


"Kami memang tidak melihatnya tapi Reina tidak mungkin berbohong, dia anak baik dan patuh. Dia selalu membantu orang lain, dia bahkan selalu bertutur kata dengan lembut, Berbeda dengan adikmu yang keras kepala dan liar." Kata tajam tanpa perasaan itu menyakiti hati Raffertha.


Yang lain mengangguk mendengar ucapan itu, mereka setuju dengan apa yang terjadi dan saling berbisik satu sama lainnya. Bibir mereka mendekat ke telinga yang lain tidak berani bersuara keras bagi yang tidak memiliki kedudukan tinggi, sedangkan yang menjilat Reina bersuara lantang dan penuh semangat.


Raquel mengambil permata itu tanpa sepengetahuan orang lain, dia merasakan seperti ada arus listrik yang mengalir di tubuhnya dan dia seperti mendengar sebuah suara memanggil dirinya.


"Halo pemilik! Apa kabar? Akhirnya setelah lama menunggu kita bisa bertemu lagi," sapa sebuah suara anak kecil yang bergema di otaknya.


Raquel terkejut, mulutnya terbuka lebar dengan tatapan tidak percaya.


Dia begitu gembira dengan pertemuannya kembali dengan Raquel, Raquel sendiri masih termenung dan tidak tahu harus bagaimana menanggapi semua itu. Ini jelas seperti mimpi baginya.


Hal yang tidak pernah dia alami sebelumnya, betapa menakjubkan semua ini. Padahal dulu permata ini tidak menunjukkan kehebatan seperti ini, Raquel sedang memahami segala yang terjadi.


Richard yang melihat Raquel terdiam dengan kepala menunduk merasakan kekhawatiran, dia takut Raquel terpojok dan menyalahkan dirinya. Apalagi saat dia menemukan botol itu di kamar Raquel dia takut Raquel akan mencelakai dirinya sendiri dan dengan itu berdiri di depan Raquel memasang badan sebagai perlindungan.


"Sekali lagi aku bertanya, apakah ada salah satu dari kalian yang melihat dia mencuri permata itu? Di mana dia mengambilnya dan kapan itu terjadi? Apakah ada video atau foto yang bisa menguatkan dugaan kalian terhadap tuduhan yang kalian katakan." Kali ini Richard yang bersuara.


Dia memberikan tatapan peringatan dengan wajah tidak menunjukkan keramahan sama sekali, Richard yakin tidak akan ada yang bisa menunjukkan bukti itu sebab kedatangan Raquel dan Reina jauh dari arah yang berbeda.


"Tidak ada kan? Lalu kenapa kalian menuduhnya mencuri? Apakah hanya ada satu permata itu saja? Apa kalian mengatakan aku tidak mampu membelikan adikku permata yang seperti itu juga?" Richard melayangkan pertanyaan sekali lagi dengan nada kerasnya.


Hal ini tentu saja membuat semua orang langsung menunduk, ada yang bermain dengan kakinya dan ada juga yang menggulung bajunya dengan jari telunjuknya. Reina terdiam, dia memang tidak memiliki bukti ini selain mengarahkan si pelayan untuk berbicara.


Asisten rumah tangga itu melirik Reina meminta bantuan, dia takut kehilangan pekerjaannya sehingga kakinya mulai gemetar hebat. Reina menggerakkan telapak tangannya ke bawah memberikan kode untuk menahan diri terlebih dahulu.


"Adikku muncul dari taman sedangkan Reina muncul di ruang ganti lalu di mana mereka bertemu, atau kalian hanya ingin menindas dirinya karena dia tidak memiliki dukungan apa pun?" Richard menyakini ini adalah alasan orang-orang ini berani menunjuk hidung Raquel dengan penuh semangat.


Raquel merasakan arus hangat mengalir ke seluruh tubuhnya, dia dapat merasakan ada sesuatu yang membuat dirinya merasakan sensasi yang berbeda.


Reina menunduk, bukan karena rasa bersalah tapi karena iri dan benci. Dia kesal atas dukungan yang didapatkan Raquel dan dia juga kesal karena dukungan yang didapatkan Raquel tidak dia dapatkan padahal dia sudah berbuat baik selama ini.


Reina melirik ke arah pintu masuk, dia berharap ada seseorang yang membantu dirinya untuk menjatuhkan Raquel.


'Cih, apa hebatnya Raquel ini? Nilainya begitu rendah hingga dia tidak layak diperhitungkan, sedangkan aku, aku sudah berusaha untuk terlihat di depan semua orang. Aku memiliki nilai bagus dan bersekolah di sekolah yang bagus, apa kurangnya aku? Kenapa dia mendapatkan pembelaan sedangkan aku tidak?' Reina mengepalkan tangannya marah, dia tidak mau terlihat rendah dibandingkan Raquel.


Reina berdiri, dia menegakkan tubuhnya dan melihat semua orang dengan pandangan mata memohon dan seperti akan menangis kapan saja. Dia meremas bajunya dengan air mata berlinang, berharap mendapatkan simpati lagi.


"Tapi permataku yang hilang memang ada di dekat dia, kalau kau tidak percaya silakan periksa dia. Aku tahu betul seperti apa permata itu karena dia adalah peninggalan paling berharga yang aku dapatkan dari ayahku." Reina enggan untuk menyerah.


Kekuatan permata mulai menunjukkan reaksi, Raquel dapat merasakan hal itu dan menegakkan kepalanya untuk melihat Reina yang terus menyebabkan kegaduhan.