The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
41. Drama Yang Melelahkan



Raquel tertawa mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Yenny, dia menelengkan kepala untuk melihat wajah percaya diri. Kelopak matanya terangkat ke atas dia tersenyum jahil menertawakan kemalangan yang dialami Yenny untuk ke depannya.


Wajah Raphael menunjukkan perubahan, dia dengan dingin menatap Yenny memberikan peringatan yang diabaikan oleh Yenny.


"Sebelum masuk ke jamuan makan dia bersamaku, apa yang salah? Apa kau menuduhku melakukan yang tidak-tidak juga?" Raphael memberikan jawaban sembari menunjukkan ekspresi wajah datar.


Yenny mengerutkan alisnya, jelas tadi saat merencanakan semua rencana ini dengan matang dia mendengar dari orang-orang kalau hanya Raquel saja yang ada di sana.


"Apa? Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan, kau bisa pergi ke taman itu untuk melihat apa yang terjadi." Raphael mendengkus.


Kepala Raquel langsung berpaling ke arah Raphael, bola matanya melebar sempurna dengan mulut terbuka. Raquel jelas tidak melihat keberadaan Raphael di sana tadi, di antara alis Raquel terdapat kerutan yang membuat kecantikannya hilang.


'Bagaimana dia bisa mengetahui apa yang aku kerjakan di taman belakang?' Raquel bertanya di dalam hati.


Reina yang mendengar semua itu langsung bergegas keluar menuju ke kerumunan, "tidak, tidak ada yang boleh ke sana. Cegah orang-orang itu untuk pergi, Bu!"


Reina panik dan tidak membolehkan orang-orang itu untuk pergi, dia memegang erat tangan Yenny dengan kepala terus menggeleng.


Yenny memegang tangan Reina dan tersenyum, dia memberikan kode lewat mata yang belum di mengerti oleh Reina.


"Tidak apa-apa, Ibu sudah mempersiapkan sesuatu di sana. Kau tidak perlu takut, Ibu tidak akan membuatmu berada dalam bahaya." Yenny berbisik di telinga Reina menenangkan putrinya.


Yenny tentu saja tidak takut, dia sudah mempersiapkan segalanya dan memberikan instruksi pada anak buahnya agar apa yang dia rencanakan matang.


'Hari ini aku sudah datang dengan persiapan yang matang, aku sudah merencanakan semuanya dengan baik. Aku akan membuat Raquel diusir dari kediaman ini dan tidak mendapatkan apa-apa,' batin Yenny bangga.


Ketika semua orang pergi yang tersisa hanyalah Raphael dan Raquel, dia menatap Raphael lama dengan alis yang hampir menyatu.


"Aku baru tahu kau adalah kakak ke-tigaku, jika tidak ada acara ini kita pasti tidak akan pernah bertemu dan saling kenal." Raquel menengadah untuk melihat wajah tampan Raphael.


Raphael tersenyum, "aku ke sini untuk mencarimu tidak seperti yang mereka katakan. Aku tidak membutuhkan warisan pria tua itu, aku bisa mencari kekayaan itu sendiri." Raphael memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang Raquel katakan.


Bibir Raquel mengerucut, dia jelas tidak menanyakan itu. Raphael tersenyum melihat tingkah manis Raquel, dia mengusap rambut Raquel membuat Raquel marah sekaligus kesal.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan tapi percayalah aku tidak menginginkan warisan itu sama sekali," ujar Raphael memperjelas.


Hal itu semakin membuat Raquel menunjukkan ketidaksenangannya. Mereka berdua akhirnya memilih untuk ikut ke taman.


Orang-orang yang tadinya berada di sana sudah menghilang, batang hidung mereka tidak terlihat sama sekali. Jejak di tanah pun sudah tidak ditemukan, pekerjaan yang mereka lakukan sangat rapi dan patut diacungi jempol.


Yenny membalik tubuhnya untuk melihat Raphael, dia tersenyum mencemooh menunggu Raphael untuk berbicara. Yenny merasa dirinya sudah berhasil mengelabui Raphael dan Raquel sehingga orang-orang ini percaya dengan apa yang dia katakan tadi.


"Tidak ada apa-apa di sini, bahkan jejak kaki saja tidak tertinggal. Apalagi yang ingin kau katakan ha? Kau mau membodohi siapa lagi sekarang," ejek Yenny bersemangat.


Raphael tidak memberikan jawaban, dia melipat tangannya di dada menatap Yenny datar.


"Kau dari tadi di sini kan? Apa kau melihat ada yang datang kemari? Apakah mereka berdua benar-benar ke sini tadi?" tanya Yenny melirik pada asisten rumah tangga yang bekerja di sana.