The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
72. Kedatangan Raphael



Tuan tanah melihat Raquel dengan tatapan tidak percaya, dari yang dia dengar selama ini Raquel adalah penakut dan mudah ditindas tapi sekarang perlakuannya jelas menunjukkan hal yang berbeda. Keberanian yang Raquel tunjukkan jelas sangat jauh berbeda dengan gosip yang beredar, pengasuh yang melihat itu bahkan bertepuk tangan sebelum akhirnya menyadari bahwa dia melakukan kesalahan.


Pengasuh langsung berbalik dia menggaruk kepalanya dengan canggung, beruntung Raquel tidak mengatakan hal apa pun yang menunjukkan kalau perbuatannya salah.


'Bagaimana kalau aku bunuh saja gadis ini? Dia tidak memiliki keluarga dan sanak saudara, Jika dia menghilang maka tidak ada yang akan peduli padanya. Dan aku bisa menguasai brankas tempat dia meletakkan semua uang yang disimpannya,' batin tuan tanah dengan tamaknya.


Tuan tanah melihat ke sekeliling, bertepatan dengan Raquel yang berbalik hendak meletakkan gelasnya lagi. Tidak ada yang memperhatikan mereka dan saat ini tuan tanah berpikir tidak ada yang akan tahu perbuatannya, setelah melihat dan menimbang beberapa kali akhirnya tuan tanah berlari ke dapur.


Dia mengambil pisau dapur yang tadi digunakan oleh pengasuh untuk memotong sayuran dan bahan-bahan lain yang akan digunakannya untuk memasak. Tuan tanah mengambil pisau itu lalu berlari ke arah Raquel dengan gigi bertaut, dia menghujam ke arah jantung Raquel.


Tangan kanan Raquel terangkat, dia menepuk pergelangan tangan tuan tanah hingga pisau yang dipegangnya jatuh ke saluran air. Raquel menendang kaki bagian depan tuan tanah hingga dia jatuh ke samping, keributan yang terdengar membuat pengasuh berteriak keras dan bahkan terjatuh dengan wajag pucat.


Saat itu juga beberapa pria dengan seragam kepolisian kekaisaran masuk ke dalam, mereka menodongkan pistol ke arah tuan tanah membuatnya tidak berkutik dan terdiam.


"Berani sekali kau menyerang seseorang di rumahnya? Apa kau tidak tahu siapa dia?" Raphael muncul dengan gagah berani.


Kemunculan Raphael yang begitu tiba-tiba dengan seragam kerjanya membuat Raquel menatapnya cukup lama.


"Tangkap wanita ini dan penjarakan dia! Hukum dia dengan pembunuhan berencana, ambil pisau itu sebagai barang bukti, pasti ada sidik jarinya yang tertinggal di sana." Raphael masih belum menengok ke arah Raquel.


Setelah si wanita ditangkap barulah Raphael berpaling ke arah Raquel, "apakah penampilanku cukup bagus dengan pakaian seperti ini? Kalau kau mau aku bisa berpakaian seperti ini terus agar kau senang," ujar Raphael dengan senyum menggoda.


"Jangan tegang! Santai saja, semua akan baik-baik saja jika ada aku disini." Raphael menyombongkan diri seperti biasanya.


Raquel mencebik, dia menepis tangan Raphael yang akan menyentuh pipinya yang satu lagi.


"Oh ya, apa yang kau lakukan di sini dengan berpakaian seperti itu? Apa kau memiliki pekerjaan mendadak?" Raquel berusaha mengubah topik pembicaraan, dia tidak ingin membahas masalah yang tidak penting.


Raphael mengerucutkan bibirnya dan mendesah kecewa, "aku hanya mampir sebentar untuk melihat dirimu sebentar saja, Raffertha bilang kau semakin susah untuk dikendalikan."


Raphael memasang sarung tangan putih yang ia ambil dari kantong celananya, dia melihat sekeliling rumah dan terlihat sangat tidak senang.


Perabotan di rumah Raquel terlihat tua, tidak ada benda baru di sana meski harga perabotan terbilang mahal daripada di rumah orang-orang biasa. Tempat ini juga tidak sebesar rumahnya dan kediaman utama.


Di luar tuan tanah melakukan perlawanan, dia berusaha untuk lepas dari kekangan tangan petugas kekaisaran dan terus berteriak keras untuk membela diri. Dia mengatakan berbagai macam hal agar dilepaskan tapi tidak ada yang mau mendengarkan ucapannya.


"Area rahasia di bobol tadi malam, kami akan memeriksa tempat itu. Ada beberapa hal yang harus dipastikan, takutnya mereka berhasil mendapatkan sesuatu." Raphael terlihat lelah.


Di depan pintu tentara kekaisaran yang tersisa tampak cemas dan tidak sabar, mereka takut rahasia negara diketahui oleh orang lain. Mereka takut hal itu akan digunakan untuk menyerang sistem pemerintahan.


Seseorang menguping pembicaraan yang terjadi antara Raquel dan Raphael dan dia terlihat sangat penasaran sebab selama ini Raphael jarang melakukan tindakan aneh seperti ini.