
'Eh, apa ini? Dia merampas benda orang lain di siang bolong sendirian tanpa menggunakan senjata, apa gadis ini benar-benar waras?' tanya kakak laki-laki ke-empat dalam hati.
Hati kakak laki-laki dalam kebingungan, baru kali ini dia bertemu perampok yang dengan santainya merampok seseorang dan berjenis kelamin perempuan. Raquel meraih tangan kakak ke-empat untuk keluar dari mobil yang akan dijarahnya, dia menggunakan kekuatan permata untuk mengetahui kondisi tubuh lawannya.
Karena permata sering digunakan kekuatannya kemampuan permata juga meningkat setiap harinya, Raquel memeriksa setiap organ dalam pria itu. Energi permata juga mengalir ke aliran darah si pria memeriksa setiap jalur yang mengarah ke seluruh tubuh.
Raquel terkejut saat mengetahui usia pria yang ada di hadapannya hanya tinggal 20 menit lagi, karena tidak yakin Raquel memeriksa ulang dan hasilnya masih sama. Permata menunjukkan kehidupan pria itu hanya tinggal 20 menit saja, karena iba dan merasa memiliki kesempatan Raquel memilih duduk di samping pria itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pria itu dengan alis terangkat saat dirinya menemukan Raquel tidak jadi menjarah dirinya.
"Mau kukatakan sesuatu tidak? Aku bisa menyelamatkan dirimu tapi kau harus membantu diriku? Bukankah ini sangat adil, kau tidak menderita kerugian dan aku pun juga sama." Raquel tersenyum semringah saat memikirkan ide yang dimilikinya adalah yang paling baik.
Kakak laki-laki ke-empat menaikkan alisnya, dia baru saja mengetahui ada seseorang yang begitu berani dengan dirinya.
'Apa gadis aneh ini tidak tahu siapa aku? Bagaimana mungkin dia bisa bertindak sembarangan tanpa memikirkan akibat ke depannya, ini cukup menarik.' Dia tersenyum gembira di dalam hati tapi tidak menampilkan semua itu di wajahnya.
"Memangnya aku kenapa? Nyawaku baik-baik saja," kilah kakak laki-laki ke-empat dengan cepat.
"Cih, penyakit yang kau derita akan membuatmu mati hanya dalam waktu 20 menit lagi. Jika kau memohon padaku aku bisa menyembuhkan dirimu," ujar Raquel dengan tingkah sombong.
'Hanya dokter yang menangani diriku yang tahu bagian itu sakit saat disentuh, bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Apa dia melakukan semua itu secara acak? Tapi jelas itu tidak mungkin terjadi,' ujarnya di dalam hati dengan raut wajah bingung.
"Apakah kau tahu siapa aku? Apa kau sudah memata-matai diriku dan sengaja mengikuti diriku ke sini? Siapa yang memerintahkan dirimu? Apa yang dia janjikan padamu?" tanya kakak ke-empat dengan santai.
Dia berusaha bersikap tenang saat detak jantungnya semakin meningkat, dia merasa asupan oksigen ke paru-parunya berkurang bahkan dia merasa sangat kepanasan padahal bagian atas mobil jelas terbuka.
"Kau tahu tidak mobil siapa yang kau rampok?" tambah kakak ke-empat pelan namun masih bisa didengar oleh Raquel.
Raquel menggunakan kekuatan permata untuk mencari tahu, setelah mendapatkan nama si pria dengan santai Raquel menyebutkan namanya.
"Rajendra," ujarnya santai.
Rajendra terkejut mendengarnya dengan mulut terbuka lebar, "lalu siapa aku kalau begitu?" tanya Rajendra lagi.
"Kau adalah Dewa Kematian, lalu apa salahnya? Kau sendiri hampir mati sebentar lagi, aku tidak punya banyak waktu. Sudahi bicaramu yang tidak menguntungkan ini!" ujar Raquel dengan wajah kesal.
Saking bosannya Raquel melempar tubuh Rajendra ke belakang dengan ceroboh hingga membuat Rajendra berteriak kesakitan.