
Wanita itu tersentak mundur dengan raut wajah terkejut yang begitu kentara, bola matanya yang melebar ditambah dengan detak jantungnya yang begitu cepat membuat dia sadar akan sesuatu.
'Sejak kapan aku takut dengan tatapan anak sialan ini? Kenapa rasanya ada perubahan besar yang terlihat di kedalaman mata itu? Cara dia memandang diriku, cara dia berbicara dan menanggapi setiap masalah jelas sangat berbeda dengan sebelumnya.' Riana merasa ada yang salah tapi dia tidak tahu itu di mana..
Dia mengembuskan napas kasar lalu tersenyum pada Raquel setelah menekan ketakutan yang dirasakannya, dia yakin kali ini dia tidak akan kalah seperti yang terjadi pada ibu dan kakaknya. Dia tidak akan memberikan kesempatan untuk Raquel menghina dan menjatuhkan harga diri mereka, beruntung setelah namanya dihapus dari daftar warisan kakeknya.
"Ah, mungkin kau tidak tahu tapi sekarang kami tidak membutuhkan warisan dari kakek. Terima kasih kau sudah membantu kami keluar dari keluarga tanpa mencari alasan yang tidak masuk akal," ucap Riana dengan senyum tulus yang anggun namun mencurigakan.
Riana meletakkan tangannya di bibir, dia memandang Raquel dengan sebelah mata. Tidak terlihat dia menganggap Raquel lawan yang tangguh dan tidak terkalahkan, dia jelas belum mengerti tentang kelemahan dan keunggulan yang dia miliki.
"Ayahku baru saja naik pangkat, dia mendapatkan penghargaan yang luar biasa dari perusahaan tempatnya bekerja. Sedangkan kau, kau hanya mampu bergantung dan memeluk paha kakak ke-dua. Tapi itu sesuai dengan dirimu sih, memangnya apa yang kau miliki? Tidak ada, kau tidak memiliki harga diri untuk dibanggakan. Kau itu sampah," hina Riana dengan senyum bangga.
Raquel mencoba untuk mengabaikan ucapan Riana karena dia sangat ingin meninggalkan tempat itu, lebih tepatnya dia sedang tidak ingin mencari masalah karena itu akan menghalangi tujuannya.
"Apa yang kau harapkan dari kakak kedua, apa karena dia bos dalam bisnis itu sebabnya kau berpegang teguh pada dirinya? Tapi kau tidak tahu sesuatu kan? Jangan-jangan kau memang tidak tahu ya kalau pemilik saham terbesar di sekolah ini adalah keluarga Kimberly." Riana tertawa lebar dengan tangan menutup mulutnya dan punggung dan perut yang bergerak serentak.
Di sisi lain, kesehatan nenek berangsur membaik. Dia yang kelihatannya hampir mati saat itu sudah bisa duduk bersandar pada kepala ranjang walau masih terlihat sedikit pucat.
"Aku tidak mengira kalau obat yang diberikan anak itu akan semanjur ini, apakah akan ada kemungkinan aku untuk sembuh?" Nenek bertanya pada kakek dengan raut wajah serius.
Kakek terdiam, dia melihat ke arah istrinya yang seperti mendapatkan harapan kembali. Ya, mungkin saat ini dia merasa penyakit yang dideritanya setiap hari perlahan membaik dan mulai membuatnya beraktivitas sebentar lagi.
"Aku juga sama seperti dirimu, tampaknya anak itu menyembunyikan dirinya dengan sangat baik. Aku yakin masih ada kejutan lain yang akan diperlihatkannya pada kita," ujar Kakek dengan senyum aneh.
Kembali ke sekolah Raquel, saat ini sedang melihat ke arah pagar. Dia seperti memikirkan cara yang tepat untuk kabur dan meninggalkan kerusuhan yang tidak berarti itu, sayangnya masih ada gangguan yang harus dia lewati agar bisa segera pergi.
"Apa menurutmu kau bisa sederajat dengan kami ataupun Riana? Kau itu berbeda, kau tidak diinginkan, kau itu hanya sebuah masalah yang akan menghambat semua orang." Pengikut Riana berbicara dengan begitu lantangnya.