
Raquel menggoyang telepon di tangannya, dia memperlihatkan semua orang hasil temuannya hari ini. Alis kanannya naik sebelah dengan senyum anggun, Raquel menunggu dengan tenang rencana apa yang akan dilakukan oleh Yenny selanjutnya.
"Bagaimana? Kalian semua sudah percaya kalau aku berada di sini sebelum jamuan makan kan? Aku tidak berbohong seperti yang dia katakan," ujar Raquel dengan begitu santai.
Raquel melakukan gerakan memutar untuk melihat orang-orang yang ada di sana termasuk para tetua yang terus memojokkan dirinya. Raquel menaikkan alisnya saat melihat Yenny dan Reina, dia tidak bisa bergerak bebas sekarang.
Perubahan yang begitu mendadak di dirinya dapat membuat orang-orang yang menjadi musuhnya berubah waspada, dia belum menemukan siapa saja orang-orang itu dan itu artinya dia harus bertindak hati-hati untuk mengungkap siapa mereka. Raquel yakin di antara tamu yang datang masih ada musuhnya yang bersembunyi, dia merasa beruntung ada kakaknya yang bersedia untuk membantu.
Raquel mengingat kembali beberapa orang yang sudah dia ketahui sifatnya dan dia juga mencoba mengingat apa saja yang tertulis di dalam buku harian itu. Raquel harus menemukan siapa saja yang mencoba membunuhnya dan siapa saja yang ingin melihat dirinya celaka.
Seperti permasalahan surat di dalam tasnya, pasti ada beberapa orang lagi yang terlibat hingga rencana itu berjalan begitu sangat mulus. Hanya saja dia tidak tahu siapa mereka dan bagaimana cara mereka bekerja untuk menjebak dirinya.
Reina menggigit kukunya, hal itu dilakukan saat dia panik. Reina seharusnya menggunakan orang luar untuk mengerjai Raquel, tapi dia baru tahu Raquel datang setelah mereka bertemu di sini, kalau dia tahu dari sebelumnya dia pasti akan membayar orang lain.
Raquel memegang tangan Yenny panik, keringat dingin membasahi telapak tangannya dan dia bahkan bersembunyi di belakang punggung Yenny agar tidak terlihat.
"Apa Bibi sudah percaya kalau aku ada di sini tadi?" tanya Raquel pada Yenny dengan ekspresi menantang.
Yenny tersenyum, dia langsung memikirkan sebuah ide dan memutarnya menjadi sebuah cerita yang sangat meyakinkan semua orang.
"Tidak, bagaimana kalau ada pembunuh yang menghabisi mereka lalu membawa tubuhnya kemari?" Yenny sangat cerdik dalam memutar balikan fakta.
Kalau tidak bagaimana dia bisa bertahan hidup dalam dunia yang keras ini dan terus berada di puncak rantai makanan, dia memegang kekuasaan karena dia bisa memanipulasi keadaan dengan cepat.
Raquel mencibir, apa yang dipikirkan otaknya menjadi kenyataan. Yenny pasti akan berkilah dan tidak akan mengakui kesalahannya, dia sudah banyak menemukan orang seperti Yenny ini, tepatnya saat dia masih menjadi Kimberly.
"Heh, siapa juga yang akan membunuh pekerja lama sewaan ini? Berapa gaji mereka? Apa keuntungan yang akan mereka dapatkan dengan membunuhnya? Status mereka bahkan tidak tinggi sama sekali, orang yang ingin mencelakai mereka pasti akan berpikir beberapa kali." Raphael mendengkus tidak senang.
Bawahan memberikan telepon tadi pada kakek dan kakek pun melihat riwayat panggilan di telepon. Dengan hati-hati kakek memeriksanya satu-persatu dan akhirnya menemukan nomor Reina yang tersimpan di sana.
Kakek meremas telepon itu dan membantingnya dengan keras hingga hancur, dia sangat marah dan melirik pada Reina yang bersembunyi di belakang Yenny. Reina kelihatan sangat panik, kakinya gemeteran hebat dan tidak sanggup untuk berdiri lagi.
Jika bukan karena bersandar pada Yenny dia pasti sudah jatuh terduduk sejak lama, Reina meremas tangan Yenny kuat hingga membuat Yenny meringis kesakitan.
"Tangan Ibu sakit, Sayang!" bisik Yenny pada Reina berusaha untuk menenangkan Reina yang terlihat begitu khawatir.
Yenny menepuk tangan Reina pelan, diremasnya tangan Reina dengan sedikit kekuatan seolah menyalurkan kekuatan pada Reina.
"Apa ini? Kau masih mau menyangkal hal ini? Apa bukti yang tersedia belum cukup ha?" tanya Kakek tidak senang.
Tindakan hari ini benar-benar membuat kakek kehilangan kesabaran dan juga wajahnya, kehormatan yang dia dapatkan dan pertahankan selama bertahun-tahun dirusak oleh tindakan Yenny dan putrinya.
"Jangan marah Ayah! Bisa jadi ini jebakan seseorang untuk merusak hubungan kita semua atau bisa jadi ini rencana licik Raquel." Yenny langsung membantah semua itu.
Yenny memegang tangan Reina memaksa Reina untuk maju ke depan, dia tentu saja bisa memanfaatkan citra baik yang Reina miliki selama ini sebagai dukungan atas kata-kata yang dia ucapkan barusan.
"Ayah, ini semua pasti tindakan Raquel. Dia ingin merusak nama baik putriku, tolong berikan keadilan untuk kami, Ayah tahu sendiri kan betapa baiknya Raquel selama ini?" Yenny bertanya dengan air mata berlinang.
Dia melihat semua orang, dia juga memaksa Reina untuk mengangkat kepala memperlihatkan wajah menyedihkan miliknya agar semua orang iba. Tapi Yenny lupa kalau Raquel yang diketahui semua orang adalah gadis lemah dan mudah ditindas.
"Itu tidak mungkin, Tuan! Raquel gadis lemah, selama ini dia terus disakiti oleh seseorang dan berkali-kali hampir meninggal. Jika dia memang memiliki kemampuan harusnya dia bisa melindungi dirinya sendiri," ujar salah satu tetua.
Dia merasa apa yang dikatakan Yenny tidak bisa diambil hati, Raquel terlalu rapuh untuk bisa membunuh orang-orang ini, apalagi dilihat dari luka yang dialami orang-orang ini mereka jelas mati dalam satu serangan karena tidak ada perlawanan yang terlihat.
"Benar Tuan! Kita sendiri sering melihat kejadian yang dialami oleh Raquel selama beberapa tahun ini, percobaan pembunuhan yang ditujukan padanya bukan hanya sekali dua kali dan dia memiliki keberuntungan untuk terhindar dari itu semua." Tetua yang lain membenarkan ucapan tetua pertama tadi.
Semua orang ikut mengangguk, mereka saling pandang lalu berbisik. Suara gaduh kembali terdengar, beruntung Raquel tidak memindahkan jasad ini tadi.
Kalau dia memindahkan mereka tentu dia akan disalahkan dan tidak mendapatkan dukungan apa pun.
"Saya yakin ada kesalahpahaman di sini Tuan! Lebih baik diselidiki terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, dia tidak memiliki kemampuan itu menurut saya." Tetua lainnya yang berkaitan dengan Yenny bahkan ikut bersuara.
Semua orang saling pandang, mereka mencoba bergosip mencari tahu siapa pelaku pembunuhan pekerja sewaan lama ini. Di lain sisi mereka tidak percaya ucapan Yenny di sisi lain mereka harus menjilat Yenny untuk mendapatkan keuntungan.
Raphael yang mendengar pembicaraan semakin melebar ke mana-mana melangkah maju, dia menatap semua orang dingin dan tidak senang.
"Aku yang membunuh mereka semua lalu kalian mau apa? Apakah ada yang keberatan atau ingin mencobanya juga?" tanya Raphael kemudian dengan tangan di dalam kantong celana.
Dia melirik semua orang menunggu jawaban yang keluar dari bibir mereka.