The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
67. Musuh Lama



Sayangnya saat Raquel melangkah ke depan lebih jauh lagi beberapa orang menghentikan langkahnya, Raquel sedang tidak berminat untuk ribut sekarang. Dia langsung menendang salah satu pria yang menganggu dirinya ke tong sampah, teman yang lainnya hendak menyerang namun saat melihat baju yang Raquel kenakan mereka langsung meneguk salivanya.


Mereka yang masih baik-baik saja saling pandang dan dengan cepat langsung melarikan diri dengan kecepatan penuh.


"Ampuni kami! Kami berjanji tidak akan melakukan ini lagi, biarkan kami pergi!" teriak mereka dengan keras.


Raquel tertawa, dia menutup mulutnya dengan tangan dan menatap dingin orang- yang melarikan diri itu.


Raquel terus berjalan ke depan, dia mencium aroma harum makanan dan perutnya langsung keroncongan.


"Ah, aku belum memakan apa pun sejak tadi. Bagaimana bisa aku begitu ceroboh, untuk bisa membalaskan dendam dan mengetahui penyebab semua ini terjadi aku kan harus kuat." Raquel mengusap perutnya yang terasa lapar.


Raquel melihat-lihat apakah ada restoran yang sudah buka di jam segitu, saat melihat berkeliling dia menemukan sebuah restoran. Raquel merasa familiar dengan nama restoran ini, dia tanpa sadar melangkahkan kakinya ke depan.


"Ah, bukankah ini restoran milik Tere? Aku penasaran seperti apa keadaannya sekarang? Apa yang telah terjadi padanya setelah aku menghilang?" Raquel melangkah ke dalam restoran itu.


Tempatnya tidak terlalu mewah, ukurannya juga tidak sebesar restoran mewah lainnya. Kursi-kursi tersusun rapi dengan beberapa ornamen dan hiasan murah dipajang di beberapa tempat, ada bunga hidup juga di dalam ruangan namun restoran ini tidak seindah dan semewah restoran yang pernah disinggahi oleh Raquel di kehidupannya yang dulu.


Raquel masuk ke dalam, Raquel memilih tempat duduk yang tidak terlalu menarik perhatian dan mulai melihat makanan yang tersedia di menu. Raquel mengerutkan alisnya karena makanan di sana tidak ada yang populer, semua makanan yang ada adalah makanan membosankan yang sudah pernah ada.


Raquel memesan beberapa makanan, dia menunggu dengan sabar sembari melihat-lihat keadaan di sana. Tidak ada yang terlalu menarik dan semua tampak biasa saja, pantas restoran ini begitu sepi dan tidak disukai oleh banyak orang.


'Betapa bodohnya aku dulu, padahal aku memiliki kemampuan tapi tetap saja aku bisa tertipu dengan wajah polosnya ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk membuat semua ini menjadi menyenangkan,' batin Raquel dengan senyum aneh di bibirnya.


'Aku sudah terlalu banyak membantu keluarganya tapi dia bahkan tidak bisa mengatakan kata terima kasih dan malah menggigit tanganku.' Raquel menyesali tindakan yang dulu.


Dia begitu ceroboh, dia sudah membantu ayah Tere untuk mengembangkan restoran hingga memiliki banyak cabang secara diam-diam. Itu semua dilakukan oleh Raquel karena merasa mereka adalah teman baik.


Saat Raquel larut dalam lamunannya Tere masuk ke dalam restoran dengan wajah cemberut, dia seperti baru saja kehilangan sesuatu. Melihat wajah Tere yang begitu jelas memperlihatkan isi hatinya Raquel kembali mengenang kejadian yang dulu.


Tere adalah wanita biasa tapi dia sangat licin dan pintar memanfaatkan sesuatu, entah m mendapatkan keberuntungan dari mana hingga dia bisa terkoneksi dengan seorang bos dan bisa menjadi putri angkat orang itu dan berhasil merebut pacar Raquel di kehidupannya yang dulu.


Tere berjalan mendekat ke arah Raquel, dia memeriksa pakaian Raquel dan terkejut saat menyadari pakaian yang Raquel kenakan.


'Woah, bagaimana bisa seorang anak dari keluarga kaya berkeliaran di jam seperti ini masih dengan menggunakan seragam sekolahnya. Gadis ini sangat menarik, aku harus bisa menjadi temannya, aku harus mendapatkan keuntungan.' Tere tersenyum lebar menampilkan niat buruk di wajahnya itu.