
Raquel berusaha mengendalikan dirinya, dia tidak mau mengacaukan acara ini dan membuat ke-dua kakak yang sudah baik padanya ini malu. Namun hinaan itu semakin menjadi-jadi, berbagai kata yang keluar dari mulut orang-orang itu semakin kasar dan di luar dugaan.
"Kau pernah dengar tidak? Katanya untuk bisa bersekolah di sebuah sekolah elit dia rela menjual tubuhnya pada pria tua, bukan hanya itu saja. Dia menulis surat cinta pada seorang pemuda tertampan di sekolah namun dia malah dipermalukan." Masalah yang menimpa Raquel disebutkan membuat emosinya semakin diuji.
"Ya, aku juga mendengar itu. Dia anak nakal dan tidak tahu aturan, suka keluyuran tidak jelas. Dia selalu pulang malam dan bahkan pakaian yang dikenakannya terlalu seksi untuk ukuran anak seumurannya, kalau bukan menjual diri apa namanya itu?" tanya seseorang dengan bangga pada rekannya.
"Oh, bukankah gadis ini yang dihajar habis-habisan oleh beberapa gadis di depan sebuah bar? Dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk mengangkat kepalanya," ejek seseorang dengan begitu senangnya.
Seolah mengungkapkan aib seseorang itu adalah sesuatu yang wajar dan patut untuk diacungi jempol.
"Abaikan saja mereka! Anggap saja mereka angin lalu, jika didiamkan mereka pasti tidak akan bersuara lagi. Anjing menggonggong kafilah berlalu, biarkan mereka dengan bacotan mereka." Richard menepuk ringan bahu Raquel menyuruhnya untuk terus melangkah ke depan.
Raquel mengangguk, dia berdiri tegak dengan dagu terangkat. Dadanya membusung tidak lagi memedulikan keributan yang terjadi, dia mampu menyesuaikan auranya dengan ke-dua pria yang berjalan beriringan dengannya meski tidak diperhatikan dengan saksama oleh orang-orang itu.
Saat menjadi Kimberly dia sudah terbiasa dipandang seperti ini hanya saja saat itu dia diagung-agungkan dan disanjung, semua orang berusaha menjilat dan mencari muka dengannya.
'Ah apa ini? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang memanggil diriku? Ini sama seperti aku merasakan permata itu, aku akan melihatnya, apakah permata itu ada di sini atau tidak.' Raquel membatin seraya memegang dadanya yang terasa nyeri.
Diedarkannya pandangan matanya ke sekeliling, saat merasa permata itu tidak di sana Raquel sedikit kecewa.
"Kak, aku akan ke kamar mandi sebentar, kalian pergi saja dulu! Nanti aku akan menyusul kalian berdua," ujar Raquel dengan senyum canggung.
Dia membuat gerakan seolah-olah dia sangat ingin ke toilet dan terdesak.
"Kenapa? Apa perlu aku temani?" tanya Richard cepat.
Raquel menggelengkan kepala, "tidak, aku hanya sakit perut biasa, setelah ke kamar mandi itu pasti akan hilang dengan sendirinya. Di mana kamar mandi terdekat kak?" tanya Raquel dengan gerakan aneh.
Richard menunjuk ke arah kanan, "di sana, segera pergi dan cepat kembali! Kami menunggumu di sana, jangan lama-lama atau kami akan menyusul dirimu ke sana."
Raquel mengangguk dan langsung berlari ke arah yang ditunjuk oleh Richard, dia bersembunyi di balik dinding menunggu Richard dan Raffertha menghilang baru berjalan ke sisi lain tempat di mana dia merasa permata itu berada.
Permata itu merupakan barang peninggalan ibunya di kehidupan sebelumnya, permata itu merupakan barang terpenting untuknya. Raquel harus menemukan permata itu dan mendapatkannya kembali, dia tidak akan membiarkan orang lain menggunakannya dengan seenak hati.
Raquel mengikuti kata hatinya, dia menuruti ke mana kakinya melangkah meski tidak tahu ruangan mana yang ia tuju. Hatinya semakin berkata kalau dia sudah dekat dengan permata itu, dan dia memang menemukan seorang wanita seusianya tengah memakai permata itu di bajunya sebagai hiasan.
"Dasar anak haram, beraninya kau datang ke sini! Siapa yang mengundangmu kemari? Kau pasti datang sendiri kan? Apa kau mau mengacau di sini, dasar tidak tahu malu." Wanita itu memarahi Raquel dengan sangat kejam.
Dia tampak seperti burung merak yang bangga akan keindahan bulunya yang menawan.
"Apa? Tidak senang dengan yang aku katakan, iya? Memangnya kau memiliki keberanian untuk melawan diriku ha?" tanya wanita itu dengan bangga.
Dia pikir Raquel masih sama seperti dulu, dia jelas tidak mendengar cerita baru-baru ini tentang Raquel dan dengan sesuka hati menghina dan merendahkan Raquel.
Raquel melipat tangannya di dada, di pandangnya wanita itu dengan alis terangkat sebelah. Raquel mendengar ocehan itu dengan tenang meski telunjuk wanita itu tidak beranjak dari dirinya.
"Kau itu hanya katak dalam tempurung, kau itu tidak bermutu dan hanya bisa bermimpi saja." Wanita itu terus mengoceh tanpa henti.
"Lalu?" tanya Raquel dengan santai sengaja memancing.
"K-k-kau, kau berani menjawab ucapanku?" tanya wanita itu dengan tidak senang.
"Ya, aku berani. Memangnya kenapa kalau aku menjawab ucapanmu? Apa aku akan ditangkap? Apa aku akan diadili? Atau aku akan di penjara, atau hanya kau saja yang boleh berbicara sedangkan aku tidak?" tanya Raquel heran.
Jelas apa yang Raquel katakan menyebabkan wanita itu tidak nyaman, dia tidak ingin dipandang rendah oleh Raquel. Dia tidak ingin diremehkan apalagi dihina karena hanya dia yang bisa menghina orang lain.
"Dasar sampah! Kau datang kemari hanya karena mengincar uang kan? Kau itu gila harta dan rakus, kau mengincar surat wasiat yang akan dibacakan itu kan?" tanya Reina dengan tidak senang.
Raquel tahu wanita di depannya mulai panik akibat perlawanan yang diberikannya, ada senyum tergantung di bibir Raquel saat melihat kekhawatiran itu. Dia suka seperti ini, dia sangat senang akan hal ini.
"Kau sudah tidak waras rupanya," ejek Raquel sinis.
"Aku tidak mengatakan sesuatu yang salah, jangan berpikir orang diam dan tidak melakukan apa pun itu adalah orang lemah. Mengalah bukan berarti kalah dan tidak selamanya orang suka diinjak-injak dan direndahkan," jelas Raquel dengan suara nyaris seperti bisikan.
"Tidak, sejak dulu kamu memang takut denganku kamu tidak memiliki keberanian untuk menentang apa yang aku katakan. Bahkan kau selalu mengambil jalan pintas agar tidak bertemu denganku, apa namanya itu kalau bukan takut?" tanya Reina dengan mata melotot tidak senang.
Raquel menggelengkan kepalanya sembari mengembuskan napas kuat-kuat, Raquel bahkan tidak terpengaruh dengan tatapan orang-orang di sekeliling mereka. Mungkin orang itu berpikir kalau dia memanggil harta dan hanya menginjak wasiat yang akan diumumkan oleh nenek, padahal dia sendiri tidak ingin ke sini.
"Itu bukan karena aku takut denganmu tapi karena aku tidak ingin membuat masalah, sayangnya kau menyalah artikan semua itu, kau terlalu menganggap dirimu tinggi hingga memandang rendah semua orang dan berharap mereka menjilatmu secara terus-menerus." Raquel mengatakan apa yang sesuai dengan yang dihadapinya selama ini.