
Reina mengeluarkan teleponnya, ditekannya nomor di telepon itu untuk menghubungi seseorang yang patuh akan perintahnya.
"Halo Dimaz bantu aku melakukan sesuatu," ujar Reina setelah panggilan terhubung.
Matanya menatap tajam ke dalam cermin dengan senyum yang terlihat menakutkan, dia seperti sedang memikirkan sebuah rencana jahat untuk Raquel.
"Ya, Nona ada apa?" tanya Dimaz lembut seraya bersembunyi ke arah yang sepi.
Dilihatnya orang di sekitar, dia takut apa yang dikatakan oleh Reina terdengar oleh orang lain.
"Sayat muka Raquel, buat dia malu karena wajahnya hancur!" Reina tertawa saat membayangkan betapa hebatnya semua itu.
"Apalagi Nona? Apakah hanya itu saja? Bolehkan kami mencicipi tubuh molek itu, setidaknya kami ingin bersenang-senang dengannya. Meskipun liar dan mempunyai kehidupan yang tidak jelas setidaknya tubuhnya masih bisa dinikmati bersama-sama," ujar Dimaz dengan berbisik lembut.
"Bagus, itu ide yang cemerlang. Oh ya, jangan lupa ambil videonya dan kirimkan padaku sebagai bukti. Jangan sampai ada orang yang tahu tentang semua itu atau kalian akan tahu akibatnya," ancam Reina lagi dengan mata memicing.
Dia menunggu jawaban dari Dimaz, dia tidak mau terseret kasus yang berat dan kehilangan wajahnya. Dia bisa saja melimpahkan semua ini pada orang lain membuat orang itu menjadi kambing hitam atas kasus ini.
"Keuntungan apalagi yang bisa kami dapatkan darimu Nona?" tanya Dimaz dengan mata melirik pada Raquel yang terlihat berjalan ke arah taman.
"Aku akan memberikan kalian ciuman dan juga uang 200 juta itupun kalau kalian berhasil, jika kalian tidak berhasil jangankan uang kalian akan kukirim ke neraka." Reina mengingatkan.
Pria itu bahagia saat mendengar ucapan Reina, dia yang sejak dulu mengagumi tubuh molek Reina tentu saja menjadi antusias. Apalagi saat bibir merah delima Reina menempel di bibirnya, dia sudah tidak sabar untuk melakukan apa yang Reina inginkan.
"Baik Nona! Sesuai dengan apa yang Anda inginkan, saya tunggu hadiahnya." Pria itu ingin memutuskan sambungan namun langsung terhenti akibat ucapan Reina selanjutnya.
"Jangan sampai ketahuan apalagi sampai menyeret namaku, kau tahu kan apa yang bisa dilakukan keluargaku padamu dan yang lainnya." Reina menekankan setiap katanya.
Reina tidak ingin pengikut kecilnya itu salah mengambil langkah.
Panggilan terputus, Dimaz dan beberapa teman-temannya yang lain langsung berjalan menyusul Raquel. Raquel yang ingin menuju ke tempat pesta terhenti di tengah jalan.
Saat ini dia di kelilingi oleh orang-orang suruhan Reina yang memakai topeng sebagai alat kamuflase, senyum cabul terukir jelas di wajah masing-masing saat mereka melihat kemolekan tubuh Raquel. Air liur mereka seperti jatuh, mereka tertawa buas membayangkan Raquel memohon ampunan di bawah tubuh mereka.
"Apa-apaan ini? Minggir!" usir Raquel dengan mata melotot.
Satu kaki Raquel melangkah ke depan dengan gerakan kuda-kuda siaga, dia bersiap untuk menyerang orang yang akan menyentuh dirinya.
Mereka tertawa, berpikir Raquel takut akan kedatangan mereka. Satu-persatu menggosok tangannya dan terlihat sudah tidak sabar untuk mencicipi tubuh Raquel, di tangan mereka ada tali dan pisau.
Gelapnya malam membuat orang tidak akan memperhatikan taman di tengah meriahnya pesta, apalagi beberapa orang penting datang ke sana. Tentu saja orang yang hadir lebih memilih untuk menjilat petinggi yang berdatangan demi mendapatkan keuntungan yang memuaskan.
"Berteriaklah! Tidak akan ada yang membantu dirimu, kau hanya seonggok sampah yang tidak bermutu. Kau hanya angin lalu yang dianggap tidak ada oleh orang-orang itu," ejek yang lain dengan tawa khasnya.
Raquel bergerak cepat, ditariknya tangan pria yang paling dekat dengannya lalu dihempaskannya ke depan dengan suara gedebuk yang begitu keras. Pria itu merintih kesakitan, dia tidak mengira Raquel yang bertubuh mungil dapat melakukan gerakan itu dengan sangat mudahnya.
Belum puas, Raquel menendang pria di sebelahnya membuat pria itu mengaduh dengan mata berair. Dia memegang tulang lututnya yang ditendang oleh Raquel dengan sepatunya, pria itu berlutut karena tidak tahan dengan rasa sakit yang diberikan oleh Raquel padanya.
Raquel tersenyum, dilihatnya beberapa orang yang masih berdiri di sekitarnya, diambilnya daun yang ada. Dilemparnya daun itu hingga menyayat leher orang-orang itu menyebabkan mereka jatuh tanpa tahu apa penyebab kematian mereka.
Dimaz yang melihat itu kakinya gemetar hebat, dia tidak tahu kalau daun bisa dijadikan senjata untuk membunuh. Dia melotot dengan jari telunjuk mengarah ke hidung Raquel yang saat ini melihat dirinya dengan senyum indah.
Pria yang dilemparnya diinjak di bagian leher hingga jatuh lunglai tidak bergerak lagi sedangkan si pria yang kakinya ditendang sudah jatuh tersungkur dengan darah mengalir di lehernya.
"Sebenarnya aku ingin menghajar kalian hingga tewas tapi aku harus cepat karena aku perlu masuk ke ruangan itu, jangan meremehkan orang karena belum tentu apa yang kalian lihat sesuai dengan isinya." Raquel menepuk tangannya mencoba menghilangkan debu tidak kasar mata itu.
Raquel menunjuk pada Dimaz menyuruhnya untuk mendekat namun mana mungkin Dimaz berani mempertaruhkan nyawanya. Dimaz hendak kabur untuk menyelamatkan nyawanya tapi dia langsung dihentikan oleh Raquel.
Tangannya memegang pisau mengarahkan pisau itu ke leher Dimaz, "bertindak tanpa memikirkan kemampuan kalian hanya untuk menjilat wanita seperti itu? Bukankah kalian terlalu meninggi-ninggikan kemampuan kalian?" tanya Raquel dengan senyum tenang.
Pisau itu mengarah dan bersiap untuk memotong leher Dimaz, kaki Dimaz gemetar hebat. Keringat dingin menetes dengan cepat, dia tidak berani bergerak takut sayatan itu melekat di lehernya.
"A-a-a-aku hanya diperintahkan oleh seseorang, kau yang salah. Kau sudah menyinggung orang yang seharusnya tidak kau sentuh, dia marah dan menyuruh kami untuk menyayat lukamu dan membentuk gambar bunga di sana." Dimaz yang ketakutan menyebutkan apa yang diperintahkan padanya.
"Apalagi setelah itu?" tanya Raquel dengan suara lembut nyaris seperti bisikan.
"Hanya itu," jelas Dimaz dengan ekspresi takut.
Raquel tidak percaya, dia mendekatkan pisau lebih dekat lagi membuat Dimaz menangis.
"Hanya itu, tapi kami berencana untuk mencicipi tubuhmu. Kami ingin bersenang-senang, ta-ta-tapi kami sudah dikalahkan oleh dirimu." Dimaz mengatakan yang sebenarnya.
Raquel mengambil telepon Dimaz, dia melihat riwayat panggilan terakhir di telepon Dimaz dan menemukan nama Reina di sana.
Diteleponnya Reina oleh Raquel menggunakan nomor Dimaz, dia menunggu panggilan itu terhubung agar bisa mendengar dengan jelas apa yang akan dikatakan oleh Reina.
Di tempat jamuan makan telepon Reina berdering, melihat nama si pemanggil Reina langsung mencari posisi yang bagus untuk mengangkat telepon itu.