The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
37. Sama Jahatnya



Ibu Reina mengepalkan tangan, wajahnya memerah menahan semua amarah yang siap meledak kapan saja. Dia menatap pelayan yang melapor tadi menunggu penjelasan lebih lanjut tentang apa yang sudah Raquel lakukan pada Reina, pelayan yang merasa ada kesempatan untuk menjilat tentu saja akan memanfaatkan itu semua dengan baik.


"Dia bahkan melumuri wajah anak Anda dengan kue Nyonya! Dia mempermalukan Nona Reina di depan umum, dia bahkan dengan sengaja mengatakan kebohongan untuk merusak reputasi Nona Reina." Pelayan itu mengatakan kebalikan dari apa yang terjadi.


Dia senagaja memutarbalikkan fakta agar ibu Reina semakin marah pada Raquel dan menghajar Raquel habis-habisan, dia tahu rencana tersembunyi ibu Reina dan dia juga tahu paha siapa yang harus dia peluk agar bisa sukses dan kaya.


Yenny mengepalkan tangan karena amarah itu semakin memuncak, dia saja tidak pernah main tangan terhadap Reina dan Raquel seenak hatinya saja memukuli putrinya tanpa ampun.


"Itu belum seberapa Nyonya, dia memberikan sesuatu pada Nona membuat wajah Nona Reina rusak dan gatal. Sekarang beberapa ruam merah dan bengkak muncul di wajah Nona Reina membuatnya terlihat sangat menakutkan." Pelayan itu bergidik saat membayangkan apa yang terjadi pada wajah cantik Reina.


Apa yang disampaikan oleh pelayan diikuti raut wajahnya membuat Yenny yakin sesuatu yang sangat tidak diinginkan terjadi pada putrinya. Yenny berlari ke dalam rumah untuk bisa menemukan keberadaan Reina, dia sudah mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik untuk Reina namun semua malah dihancurkan dalam semalam oleh Raquel.


"Anak haram itu benar-benar membuatku marah, berani-beraninya dia mempermainkan putriku. Lihat saja! Akan kubuat dia menderita malu seumur hidup ini," ujar Yenny dengan penuh kebencian.


Dia sudah membuat citra Reina begitu baik di hadapan semua orang, dia juga sudah melakukan berbagai upaya agar kejahatan dan perilaku buruk yang Reina lakukan tidak tersebar ke media. Tapi dalam beberapa jam semua sudah runtuh oleh Raquel yang selama ini terlihat lemah dan tidak diacuhkan oleh semua orang.


Dia memeriksa setiap ruangan untuk bisa menemukan Reina namun yang dia dapatkan hanyalah orang lain maupun ruangan kosong, langkah kakinya semakin cepat menuju ke arah ruang jamuan yang dianggap sebagai tempat Reina berada sekarang.


"Putriku pasti sangat menderita di dalam sana, wajahnya yang cantik sudah dirusak oleh Raquel. Aku akan merusak dan merobek wajah anak haram itu sebagai gantinya, dia tidak akan kuberi ampun lagi kali ini." Yenny berceloteh sepanjang jalan meluapkan segala kekesalan dan kebencian yang tersimpan di hatinya untuk Raquel.


Terburu-buru Yenny masuk ke dalam ruang jamuan, banyaknya meja dan orang-orang yang berlalu lalang mengambil makanan atau hanya sekedar berbicara dengan rekannya membuat Yenny kesulitan untuk menemukan keberadaan Reina.


"Apa kau melihat putriku?" tanya Yenny pada rekan sosialita yang dekat dengan dirinya.


Wanita itu menunjuk ke tengah-tengah ruangan di mana Reina tengah duduk di sebuah meja dengan wajah menunduk dan tangan menggaruk seluruh tubuhnya. Rambut panjang Reina menutupi wajahnya membuat wajah penuh ruam dan bengkak itu tidak terlihat.


Yenny langsung berlari ke arah Reina, hal itu tidak luput dari perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Begitu juga dengan Raquel dan kedua kakaknya, Raquel yang melihat dukungan Reina datang mendesah kecewa dan wajahnya menunjukkan kelelahan yang begitu kentara.


"Ah, masalah yang satu belum selesai datang lagi yang lain. Akan ada drama baru lagi tercipta, ya sudahlah! Mungkin kita bisa membuka kedok dan rencana mereka sekalian," ujar Raquel lelah.


Dia merasa kasihan pada tubuh ini yang selalu mengalami penindasan, padahal saat menjadi Kimberly dia selalu mendapat apa yang dia mau hanya dengan menggerakkan jarinya.


Yenny langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah Reina, ditepuknya bahu Reina lembut penuh kasih. Diangkatnya tangan Reina ke atas, betapa terkejutnya Yenny melihat goresan berdarah di tubuh Reina ditambah ruam dan bengkak yang semakin melebar.


"Aku kesakitan Ibu!" rintih Reina dengan mata berair.


"Siapa yang melakukan ini padamu? Kenapa bisa? Apa yang sudah terjadi? Jika seperti ini kau akan kesulitan mendapatkan pasangan hidup yang sempurna," Yenny meradang marah penuh emosi.


Dia kesal dengan apa yang sudah dialami oleh Reina, dia tidak terima putrinya diperlakukan buruk seperti ini.


"Itu Raquel, dia yang melakukan semua ini padaku. Aku tidak tahu apa yang sudah diberikan padaku tapi aku merasa gatal setelah dia menyentuh diriku, Bu!" adu Reina dengan air mata mengalir deras tak tertahan lagi.


Dia menunjuk ke arah Raquel yang duduk di meja berlawanan dengannya, Raquel yang ditunjuk mengulurkan lidahnya menantang Yenny untuk mengamuk dan mencari masalah dengannya.


'Akan ku selesaikan kalian di pesta ini, akan kubuat malu ibu dan anak ini. Beraninya mereka mencari masalah denganku,' ejek Raquel membatin.


Yenny terbatuk melihat ini, dia yang biasanya ditakuti oleh Raquel sekarang malah ditatap oleh Raquel dengan berani dan mata melotot.


Sebuah siasat melintas di benak Yenny untuk menghancurkan Raquel, dia melihat ke sekeliling lalu memanggil seseorang dengan gerakan tangannya.


"Hei kemarilah!" perintahnya dengan keras mengalahkan musik yang diputar.


Orang yang dipanggil Yenny langsung mendekat, dia membungkuk hormat dengan senyum indah terlukis di bibirnya menunggu Yenny memberikan pesanan padanya.


"Bawa putriku ke kamar tamu! Biarkan dia istirahat sejenak, panggil juga dokter untuk memeriksa kondisinya. Aku tidak mau semua ini meninggalkan bekas luka di wajah putriku," perintah Yenny lagi dengan senyum aneh diberikan pada Reina.


Setelah Reina dibawa pergi, Yenny mendekati Raquel yang duduk di sebelah ke-dua kakaknya.


"Kau tunggu saja! Akan kubuat kau mengalami apa yang sudah kau perbuat pada putriku bahkan lebih dari itu berkali-kali lipat, kau akan menyesal telah lahir ke dunia ini." Yenny menunjuk hidung Raquel dan mengatakan semua itu terang-terangan.


Bahkan dia tidak mempermasalahkan kehadiran kedua kakak Raquel di sana, Yenny menganggap keduanya tidak memiliki kekuatan untuk menjaga dan melindungi Raquel karena selama ini semuanya hanya diam saat Raquel mendapatkan perlakuan buruk dari sekitarnya.


"Aku tunggu, aku penasaran dengan apa yang akan kau lakukan padaku." Raquel menjawab dengan begitu santainya dengan senyum manis di mana gigi putihnya terlihat.


Yenny terbatuk melihat itu, dia tidak mengira kalau Raquel akan seberani ini menjawab ucapannya.


Setelah itu pandangan dingin tidak bersahabat diberikan oleh Raquel pada Yenny, dingin datar dan tidak bersahabat. Raquel seperti iblis yang keluar dari neraka, dia begitu kejam dan tidak berperasaan.