
Apa yang dikatakan oleh Raphael membuat semua orang mengarahkan pandangan kepadanya, lidah mereka kelu. Tidak ada yang berani mengatakan apa pun lantaran di antara semua tuan muda di keluarga ini dia yang paling misterius dan tersembunyi.
Raphael menegakkan tubuhnya dia ingin semua orang tahu seberapa besar pengaruhnya bahkan tanpa harta warisan si kakek dia tetap hidup dan menerobos dunia ini. Raphael menunggu orang-orang berbicara tapi tampaknya mereka tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
"Ayolah! Mana suara kalian? Tadi kenapa begitu berani? Apa karena dia tidak memiliki dukungan? Atau karena dia tidak pernah membalas kalian ya," ejek Raphael kehabisan kesabaran.
Dia melirik Raquel yang tidak banyak bicara, kebetulan Raquel juga melirik ke arah dirinya.
"Maafkan aku!" bisik Raquel pelan.
Raquel tahu Raphael melakukan semua ini untuk melindungi dirinya, Raphael bahkan rela menanggung tuduhan pembunuhan ini padahal jelas kalau dia tidak di sini saat dia menghabisi nyawa orang-orang ini. Ada perasaan aneh membuncah dirasakan Raquel, perasaan yang bukan berasal dari dirinya melainkan dari pemilik tubuh asli.
Perasaan dilindungi ini belum pernah dirasakan oleh pemilik tubuh, tentu saja dia merasa terharu dan bahkan hampir meneteskan air mata. Lega, itulah yang dia rasakan beberapa jam ini setelah dia mendatangi pesta yang dibuat oleh kakeknya.
Raquel mengucapkan terima kasih pada Raphael lewat kode mata.
Raffertha jelas tidak senang dengan hal ini, dia melangkah maju memasang badan untuk membela Raquel.
"Maaf aku menyela Kakek! Tapi bagaimana caramu menghukum Reina? Kau tidak akan membebaskan dia setelah ia melakukan hal-hal seperti ini kan?" tanya Raffertha tidak senang akan hal ini.
Suaranya jelas naik dari yang biasanya, hal itu tentu saja membuat Reina panik dan menggelengkan kepala.
Yenny yang melihat semuanya tidak berjalan dengan semestinya tertawa, dia menarik Reina ke belakang lalu melirik semua orang dengan senyum sinis.
"Padahal aku sudah repot-repot menyusun semua trik ini, aku juga sudah mengerahkan beberapa orang agar rencanaku lancar tapi gadis sialan ini membuat semua itu rusak dan kacau." Yenny menunjuk ke arah Raquel.
Matanya melotot dengan wajah beringas sangat tidak bersahabat, Yenny awalnya sudah berpikir dia akan menang dan dapat menguasai harta milik kakek untuk dirinya seorang. Yenny melirik asisten pribadi kakek yang berdiri tidak jauh darinya saat ini.
"Apalagi yang kau tunggu? Bertahun-tahun kau berdiri di sampingnya apa Yang Kau dapatkan? Tidak ada kan, sekarang waktu yang tepat untuk kau membalaskan rasa terima kasih hari itu." Yenny melirik pria paruh baya itu dan tersenyum.
Dia menggerakkan tangan di lehernya dengan posisi memotong, seruan panik keluar dari bibir semua orang. Mereka tidak mengira kalau Yenny yang sudah merencanakan semua ini, bahkan sampai menuduh gadis lemah seperti Raquel berkali-kali.
"Kau menghianatiku? Bantuan apa yang dia berikan padamu sehingga kau berpaling padanya? Apa kebaikanku selama ini tidak berarti untukmu?" Kakek bertanya dengan lirih.
Raut wajah sedihnya begitu jelas dan alami sehingga orang-orang tidak bisa menebak apa isi hati kakek sebenarnya, meski mereka dekat dan telah bersama sejak lama tapi pasti kakek memiliki kecurigaan terhadap asisten pribadinya. Pasti juga ada beberapa hal yang tidak akan diucapkan kakek ketika mereka bersama, tidak mungkin sepenuhnya kakek akan percaya kepada orang luar.
"Jawab aku! Kenapa kau diam saja? Apa kebaikanku selama ini tidak cukup untukmu?" Kakek masih berusaha berkomunikasi dengan asisten pribadinya berharap pria itu tidak melakukan apa yang sudah diperintahkan padanya.
Asisten ingin melakukan serangan lagi, dia itu sudah bersiap dengan senjata tajam yang dipegang di tangan kanannya. Dia berlari ke depan namun belum sempat dia sampai ke arah kakek orang-orang kakek sudah berhasil menangkapnya.
Meskipun dia memberontak dan berusaha untuk lepas semua itu percuma, kekuatannya jauh berbeda dengan orang-orang ini yang sudah terlatih siang dan malam.
Orang-orang yang disiapkan oleh Yenny sudah bersiap dengan senjata mereka masing-masing, mereka menunggu instruksi dari Yenny dengan begitu sabar. Orang-orang yang tidak terlibat langsung melarikan diri takut terkena imbas dari perebutan kekuasaan ini.
Yenny tertawa semakin besar saat melihat semua itu.
"Siapa yang berani melawanku? Ayo maju! Aku tidak akan segan-segan menyakiti kalian yang berani menentang diriku," teriak Yenny lantang tanpa merasa takut.
Yenny menganggap remeh ketiga tuan muda yang ada di depannya, menurut Yenny mereka tidak memiliki keberanian untuk melawan dirinya atau menyuarakan isi hati mereka. Yenny berbalik untuk melihat kakek, alisnya naik sebelah dengan senyum mengejek dan dada membusung.
Dia memperlihatkan tingkah sombong dan pongahnya seolah dia akan menang dan tidak akan terkalahkan lagi, tentu saja Yenny mungkin tidak tahu kalau di atas langit masih ada langit lain.
"Mengalah saja Yah! Kau sudah tua, tidak pantas untuk memegang tampuk kekuasaan lagi. Serahkan semua padaku berjanji tidak akan menyakiti dirimu begitu pula dengan istrimu," ujar Yenny dengan suara lembut namun penuh dengan ancaman.
Kakek mengepalkan tangan marah, wajahnya pun memerah dengan gigi menyatu menimbulkan suara gesekan satu sama lainnya. Taman yang tadinya ramai kini terlihat agak sepi, yang tersisa hanya anggota keluarga dan para tetua.
Orang-orang ini sepertinya masih syok dengan tindakan nekat Yenny, mereka ragu akan memilih siapa. Di antara ke-duanya ada hal-hal yang tak terduga, Yenny menggerakkan tangannya di udara dan dalam hitungan detik suara orang lain terdengar.
Saat ini mereka semua dikepung oleh bawahan Yenny yang memiliki senjata lengkap di tangan mereka, orang-orang ini tampak percaya diri membuat nyali mereka yang ingin menyuarakan kemarahan pada Yenny langsung menciut.
Mereka tidak memiliki senjata di tangan berbeda dengan bawahan Yenny, jika terjadi pertempuran mereka jelas kalah dan tidak akan mendapatkan kemenangan yang diharapkan.