The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
31. Tidak Sesuai



Reina mengendap-endap di antara puluhan tamu, dia mencari sudut yang tidak terlalu diperhatikan dan bersembunyi di sana agar tidak ketahuan. Hati Reina berbunga-bunga, terlalu cepat bagi Dimaz untuk menghubungi dirinya yang menandakan kalau Raquel sangat tidak berkutik.


Reina terlalu menganggap remeh Raquel, dia hanya tahu Raquel penakut dan mudah menangis. Dia juga tidak pernah mendengar Raquel mengikuti keterampilan beladiri, bahkan nilai Raquel yang begitu jelek membuat semua orang di keluarga ini malu.


"Kau sudah berhasil?" tanya Reina begitu lembutnya.


Dia berusaha menyembunyikan kegembiraannya namun raut dan lekuk alisnya menunjukkan hal yang berlainan, jika bisa mungkin saat ini Reina akan melompat kegirangan. Reina melirik pada ke-dua kakak Raquel yang tadi datang bersama Raquel, ke-duanya tampak sibuk menjawab sapaan dari para tamu yang datang.


Meski hanya dengan anggukan kepala tanpa senyuman tapi orang yang mendapat jawaban tampak puas, ke-duanya menjadi pusat perhatian karena pekerjaan masing-masing. Apalagi dengan wajah tampan yang begitu menggoda, siapa saja pasti akan tertarik untuk melirik ke arah mereka.


Perempuan di sekitar mereka berbisik sembari mendekat dan tersenyum, ada yang berbasa-basi sekedar menawarkan minuman dan ada juga yang sengaja memperlihatkan bentuk seksi tubuh mereka untuk menggoda.


"Itu Nona!" Dimaz melirik Raquel panik, dia ingin menjelaskan seperti apa yang diinginkan Raquel untuk membalas namun Selena langsung menyela ucapan Dimaz.


"Bagus, jangan bilang dia sudah mati di tangan kalian? Tapi tidak masalah sih, hidup pun tidak ada gunanya, siapa yang mau dengan barang sisa yang dipakai beramai-ramai? Kuburkan jasadnya!" Selena memberikan perintah.


Dia menatap sekeliling dengan waspada takut apa yang dikatakannya terdengar oleh orang lain meski itu tidaklah mungkin, semua orang pasti akan memanfaatkan momen ini untuk menjilat petinggi yang datang. Mereka pasti akan memperlihatkan pada siapa mereka menaruh suara dan dukungan.


"Taman itu sepi, kau kuburkan saja di sana! Oh ya, lenyapkan barang bukti yang kalian pakai! Jangan sampai ada orang yang tahu tentang apa yang telah kalian kerjakan," perintah Reina tak kala dirinya mengingat sesuatu.


"Ta-ta-tapi, bu-buka-bukan itu yang ingin saya katakan pada Anda," gagap Dimaz panik karena dirinya tidak diizinkan berbicara oleh Reina.


"Tidak masalah, oh ya pastikan tidak ada yang bisa menemukan tubuhnya setelah pesta usai nanti. Setidaknya jangan sekarang, orang-orang tahu aku berselisih dengannya dan mereka pasti akan menuduh diriku jika dia hilang sekarang." Reina tentu saja tidak mau nama baik keluarganya rusak.


Karena tengah diliputi bahagia dan karena dia juga berada di tengah keramaian Reina tidak mungkin berbicara banyak hal.


"Aku akan memberikan hadiah itu setelah jamuan makan selesai, jaga rahasia ini selagi kalian masih menginginkan nyawa kalian." Reina memberikan ancaman lalu memutuskan sambungan telepon.


Raquel yang rencananya tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan tadi tersenyum puas, setidaknya Reina sendiri yang masuk dan membuat jebakan untuk dirinya. Raquel menyimpan rekaman suara yang didapatinya barusan.


Raquel tersenyum aneh pada Dimaz yang membuat bulu kuduk Dimaz berdiri, padahal tadi rencananya dia akan membawa Reina ke sini agar Reina sendiri yang mengalami apa yang dia usulkan akan dilakukan pada Raquel.


"Kau tahu apa artinya ini? Itu artinya aku belum bisa melepaskan dirimu sesuai janji, kalau kau ingin aman dan keluargamu baik-baik saja maka ikuti permainan ini hingga selesai. Aku tidak pernah ingkar janji," jelas Raquel dengan senyum menawan namun menakutkan bagi Dimaz.


Dimaz dengan ragu menganggukkan kepalanya, dia menelan ludah dan terpaksa mengikuti keinginan Raquel. Raquel akan menahan Dimaz serta bukti yang dia dapatkan untuk merusak nama baik Reina, dia akan membuat semua orang tahu seperti apa lotus putih penjilat itu.


Hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang pemula, Raphael tersenyum senang sembari memegang dagunya. Tidak sia-sia dia datang kemari, Raphael mengusap dagunya saat melihat Raquel mengancam dan menakuti Dimaz yang memiliki tubuh kekar dan kuat.


"Semakin membuatku penasaran, aku ingin tahu kemampuan apalagi yang dia miliki dan dia rahasiakan dengan sangat baik itu. Ini menjadi sangat menarik sekarang, aku harus bisa mendekatinya dan mencari tahu apa saja yang belum diketahui oleh orang lain." Raphael tersenyum senang dan bahagia.


Dia melihat punggung Raquel yang menjauh, entah ke mana Raquel akan pergi dia tidak tahu. Tapi sepertinya Raquel sudah menyiapkan hadiah besar untuk seseorang, dan orang yang menjadi incarannya akan mengalami kerugian besar.


Jamuan makan yang ditunggu-tunggu semua orang akhirnya dimulai, Richard dan Raffertha sudah mencari keberadaan Raquel namun tidak jua kunjung ditemukan. Mereka berdua juga sudah menggeledah seisi rumah namun hasilnya nihil, tidak ada yang bertemu ataupun melihat Raquel.


"Bagaimana ini? Acara sudah dimulai namun batang hidungnya tak juga terlihat, apa dia baik-baik saja? Apakah terjadi sesuatu padanya? Ke mana kita harus mencarinya." tanya Richard frustasi sembari mengusap wajahnya.


Dia menyesal meninggalkan Raquel sendirian.


"Harusnya tadi salah satu dari kita menemani dia pergi ke kamar mandi tadi, kalau tersesat pasti ada yang melihat dirinya. Jangan-jangan seseorang mencoba mencelakai dirinya lagi?" Raffertha melotot dengan mata terbuka lebar begitu juga dengan mulutnya.


Ke-duanya semakin panik saat memikirkan kemungkinan itu, banyak orang yang ingin mengambil nyawa Raquel karena dianggap sebagai sebuah aib dan saingan berat.


Suasana meriah tidak membuat hati ke-duanya tenang, mereka malah semakin gelisah saat kehadiran semua tamu undangan sudah terlihat namun Raquel juga belum menunjukkan tanda-tanda keberadaan.


"Bagaimana dengan anak buahmu? Apakah mereka menemukannya?" tanya Raffertha pada Richard.


Mereka berdua berdiri di dekat pintu menunggu Raquel di sana, Richard menggelengkan kepalanya. Dia mengeluarkan teleponnya dan melihat apakah ada panggilan masuk namun semua tidak sesuai dengan yang dia harapkan.


"Belum ada, ke mana menurutmu dia pergi? Apakah dia baik-baik saja atau tidak siapa yang tahu? Siapa yang berani mengusik dia di jamuan makan ini? Orang itu mencari mati, awas saja jika aku tahu siapa orangnya. Akan kupastikan dia menyesal seumur hidupnya," ancam Richard dengan mata tajam penuh permusuhan.


Dia benar-benar kesal sekarang, dia yang mengajak Raquel ke sini dan sekarang dia juga yang membiarkan Raquel menghilang tanpa jejak.


Saat ini kakek memasuki aula dengan aura agung dan perkasa miliknya, Richard dan Raffertha menyusul dari belakang meski tanpa kehadiran Raquel bersama mereka.


"Mana dia? Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya di sini? Apa dia tidak datang?" Kakek bertanya pada Richard tanpa melirik sama sekali.


Saat Richard hendak memberikan jawaban dia terkejut menemukan kedatangan Raquel yang berjalan dengan anggun ke hadapan mereka. Reina yang melihat itu melotot tidak percaya, tangannya meremas gaun yang dia pakai.