
Raquel duduk di kursinya, dengan santai dia mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas kemudian menaruhnya di atas meja. Dia mengabaikan semua tatapan tidak senang yang tertuju padanya, Raquel sibuk membaca isi buku itu.
Walau begitu percakapan yang terjadi di dalam ruangan dapat dengan jelas memasuki telinganya, Raquel tahu pasti kejadian semalam sudah sampai ke telinga anak-anak di kelas ini. Bukan hanya anak kelasnya saja, pasti semua sudah mendengar tentang apa yang terjadi hari ini dan dia tidak ingin mencari masalah yang tidak penting dengan ikut keributan yang tidak bermanfaat ini.
Raquel membalik buku yang sedang dibacanya, dia dengan teliti mulai membalik halaman perhalaman tanpa menghiraukan tatapan mencurigakan dari salah satu teman laki-lakinya.
Pria itu mengangkat teleponnya, dia melirik foto yang di blurb di dalam sana dengan rupa Raquel yang telah dia temui sehari-hari. Dia merasa gadis yang fotonya disamarkan itu begitu familiar dan jelas seperti Raquel, dia terus membanding-bandingkan foto itu berharap apa yang ditemuinya adalah kebohongan.
"Kalian lihat! Bukankah gadis di dalam foto itu menyerupai Raquel?" Pada akhirnya dia tidak bisa menahan diri dan menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat itu juga.
Semua orang melihat ke arah Raquel dan anak laki-laki itu, pandangan sinis Raquel terima dari beberapa anak perempuan yang tidak menyukai dirinya.
"Bagaimana mungkin itu dia? Kau tidak tahu apa berpura-pura bodoh ha?" ejek teman wanita sekelas Raquel dengan sinis.
"Gadis di depan kita ini memang anak haram, tapi dia tidak memiliki siapapun di dunia ini selain dirinya sendiri." Hinaan itu semakin menjadi saat Raquel masih memilih diam dan enggan untuk berkomentar.
"Yap kau benar Lilis, kehidupan Raquel sangat kacau dan amburadul. Dia ini tipe orang yang berpura-pura polos dan suci, hanya tahu cara menangis dan membuat masalah. Apa kau pikir mereka sama?" cemooh yang lain dengan senyum arogan.
Tangannya diletakkan di dada dan dia duduk di atas meja memandang Raquel bagai sampah yang tidak berarti, Raquel menggosok tekingan santai lalu melanjutkan membaca buku pelajaran itu sebentar. Jelas kalau Raquel tidak menganggap apa yang dikatakan oleh temannya itu sebuah masalah, dia hanya ingin tenang untuk sehari saja tanpa ada masalah yang berarti.
'Astaga, apa gadis kecil ini tidak takut dengan kejadian kemarin? Kenapa mereka sangat suka mencari masalah?' tanya Raquel di dalam hati.
Raquel mengeluarkan telepon miliknya, dia melihat di pencarian teratas beberapa media besar dan dia sekarang adalah berita utama di setiap media itu. Raquel merasa kepalanya berdenyut, padahal dia tidak ingin apa yang terjadi kemarin diketahui oleh orang lain selain keluarganya.
"Kenapa? Kenapa anak haram itu bisa terkenal hanya dalam hitungan menit saja? Dia sudah merusak citraku, dia menghancurkan semua yang kubangun dengan susah payah selama bertahun-tahun ini dengan waktu semalam saja." Reina mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.
Kukunya yang panjang menerobos masuk hingga ke dagingnya, dia merasa sangat kecewa dan marah namun harus menahan diri sekuat mungkin.
Di sekolah tiba-tiba ada seorang siswi yang mendekati tempat Raquel duduk, dia menyatu dengan kelompok lain.
"Heh, wajahmu tebal sekali ternyata, setelah semua kekacauan yang kau buat kemarin kau masih berani datang ke sekolah ha? Benar yang dikatakan orang-orang, kau tidak memiliki otak." Gadis itu berbicara dengan penuh semangat.
Layak untuk anak-anak seumurannya yang begitu menggebu-gebu dan tidak terkendali, Raquel masih diam karena merasa itu masih di batas wajar.
Tawa lepas terdengar setelah kata-kata tidak berperasaan itu sampai ke telinga Raquel, mereka dengan tidak berperasaan.
"Benar, anak yang tidak memiliki ayah dan ibu seperti dirinya kenapa bisa masuk ke sekolah ini ya? Apa benar gosip yang beredar di luar sana kalau dia menjual tubuhnya?" tanya seseorang dengan begitu antusias.
Kali ini Raquel merasa hinaan ini sudah sangat keterlaluan, dia mengambil pena yang ada di atas meja melempar pena itu keras hingga mengenai dahi orang yang berbicara. Mata semua orang melebar dengan sempurna, dia seperti tidak percaya kalau Raquel mampu melakukan semua itu hanya dalam hitungan detik saja.
"Kenapa kau marah ha? Apa yang dia katakan memang tidak salah, kemarin saja kami mendengar berita yang lebih besar tentang dirimu. Kami semua sudah melihatnya dan yakin kalau orang itu memang dirimu, apa salahnya mengakui semua itu? Toh kau tidak akan mengalami kerugian apa pun kan karenanya?" ejek wanita itu sembari mengeluarkan teleponnya.
Dia memperlihatkan pada Raquel apa yang sudah dilihat oleh semua orang, Raquel mengamati foto-foto itu dengan saksama. Tangannya terkepal erat dengan kemarahan yang begitu luar biasa, dia jelas tidak senang dengan apa yang sudah dilihatnya barusan.