The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
57. Marah



Orang-orang berkerumun untuk melihat foto yang ada di dalam layar telepon itu, mereka sangat penasaran dengan berita yang tersebar itu. Di dalam sana Raquel terlihat berpakaian sangat seksi dan terbuka, tapi yang lebih menarik perhatian adalah pose yang dilakukan oleh Raquel dalam berbagai macam bentuk itu.


Ada yang dia duduk dengan kaki terbuka lebar hanya dengan bikini saja, ada juga dia tengah berbaring dengan keadaan yang begitu memalukan.


"Kita tidak boleh melihat penampilan seseorang untuk menilai orang lain, bahkan wanita penggoda pun akan seperti seorang dewi jika dikemas dengan sangat baik dan apik." Seorang teman Raquel mengejek Raquel setelah melihat foto itu.


Tentu saja kesempatan ini digunakan oleh orang-orang ini untuk menjatuhkan Raquel semakin dalam lagi, mereka tidak percaya kalau anak haram yang memiliki keluarga dengan foto di blurb tadi adalah Raquel sehingga mereka merasa akan baik-baik saja menghina dirinya.


Raquel berjalan ke arah wanita yang memegang telepon itu, direbutnya telepon itu dalam satu gerakan. Wanita yang teleponnya diambil oleh Raquel tentu saja tidak bisa menerima semua itu, dia dengan cepat mengambil telepon itu kembali namun sayang kalah cepat dari Raquel.


"Kembalikan telepon milikmu, sialan!" umpatnya pada Raquel saat dia tidak bisa mendapatkan miliknya itu.


"Kau mau ini? Coba ambil," ejek Raquel dengan senyum sinis.


Wanita itu bergerak ke depan, dia berusaha untuk menjangkau namun Raquel yang berpindah dengan cepat membuatnya hampir tersungkur.


"Ayo! Katanya kau hebat," ejek Raquel lagi dengan senyum sinis.


Raquel melihat isi berita itu, dia menemukan bahwa pengirimnya tidak dikenali dan dalam sekali lihat dia sudah tahu siapa yang mengirimkan semua ini. Ini pasti dikirim oleh orang yang membencinya, Raquel tersenyum sinis.


Tanpa menunggu lama Raquel langsung menjatuhkan telepon itu seolah-olah tangannya tergelincir, dia membungkuk berniat untuk mengambil telepon itu namun kakinya bergerak menendang telepon itu hingga hancur berantakan.


"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak sengaja melakukannya," ucap Raquel dengan wajah polos tidak bersalahnya.


Raquel mengambil telepon yang sudah rusak itu melemparnya dengan kasar pada teman wanitanya tadi, dia juga menendang beberapa teman sekelasnya dengan santai ke tengah ruangan kelas untuk melampiaskan kekesalan yang dia miliki. Raut wajah lembut dan polos tadi berganti datar dan tidak bersahabat, dia terlihat susah untuk dijangkau.


Orang-orang berhamburan ke tepi kelas, mereka merapat ke dinding takut terkena serangan Raquel, meja dan kursi berserakan. Buku-buku dan tas sudah terlempar ke mana-mana, ruangan menjadi sepi.


Hening, tidak ada suara, mereka takut menjadi sasaran kemarahan Raquel.


"Kalian mengaku berpendidikan, berkelas dan hebat tapi cara bicara kalian jelas tidak menunjukkan semua itu. Kalian tidak bisa menilai diri kalian sendiri, dasar sampah." Raquel mengucapkan semua itu dengan penuh penekanan.


Tidak ada yang berani menentang ucapan Raquel, mereka semua menunduk.


"Jika hal ini terjadi lagi maka jangan salahkan aku lebih kejam pada kalian, aku tidak pernah memberikan ampun pada orang yang menyakiti diriku." Raquel mengingatkan semua orang untuk tidak main-main dengan dirinya lagi seperti dulu.


"Raquel yang kalian kenal penakut dan mudah ditindas sudah mati, yang ada sekarang adalah Raquel pendendam dengan kesabaran yang begitu tipis. Jika kalian tidak percaya teruslah menantang diriku dan kalian akan tahu seberapa gilanya aku," ancam Raquel.


"Pak guru tolong bantu kami, Raquel menindas kami. Dia yang membuat semua kekacauan ini," adu salah satu murid dengan suara yang begitu keras.


Dia tampak bersemangat, 'semoga pak guru membantu kami seperti guru lainnya dulu, aku yakin Raquel pasti akan dimarahi.'


Guru matematika itu melirik ke arah Raquel dengan yang mengenali Raquel sebagai orang yang membantunya memecahkan soal matematika yang sulit saat itu.


"Jika kalian tidak bertindak lebih dulu mana mungkin dia akan melakukan sesuatu yang berlebihan, tidak ada asap jika tidak ada api." Guru matematika berbicara dengan dingin sembari melayangkan tatapan tajam pada anak-anak yang mengadu pada dirinya.


Di tempat lain, seorang wanita tengah tertawa bahagia melihat berita yang tersebar itu. Dia yakin sektansh Raquel tengah menangis sedih melihat foto-foto dirinya dalam keadaan yang tidak senonoh itu.


"Bagaimana Raquel, kau sudah bersikap sombong dan angkuh. Ini baru pelajaran kecil untukmu, aku akan memberikan banyak pelajaran lagi. Kita lihat sampai di mana kau akan bertahan," ejek wanita itu dengan cepat menyembunyikan teleponnya lalu pergi dari tempatnya berdiri.


Sedangkan di rumahnya Reina yang melihat berita itu tertawa senang, dia gembira karena ada seseorang yang melampiaskan sakit hatinya pada Raquel.


"Bu lihat ini! Akhirnya seseorang membalaskan dendam kita pada anak haram itu, aku yakin saat ini dia sedang menangis di sudut ruangan dan malu untuk bertemu dengan orang lain lagi." Reina tersenyum gembira namun karena luka yang dialaminya dia terlihat sangat mengerikan.


Yenny melihat telepon itu, dia ikut senang saat melihat semua itu.


"Anak kurang ajar itu sudah membuat kepercayaan ayah hilang padaku, ini belum seberapa. Dia pantas untuk mendapatkan yang lebih kejam dari ini," ujar Yenny dengan gembira.


Kilatan jahat di matanya dibalut dengan kebencian dan kebengisan, dia tampaknya tidak akan membiarkan Raquel hidup bahagia. Orang-orang yang sakit hati pada Raquel dengan gembira mengejek Raquel, mereka senang atas kemalangan yang menimpa Raquel.


Seluruh murid di kelas itu bersaksi untuk menjatuhkan Raquel agar Raquel mendapatkan hukuman.


"Itu benar, Pak! Raquel marah-marah tidak jelas, dia melempar temannya dengan pena. Melempar telepon temannya hingga rusak, dia juga mengacau dan membuat kelas ini berantakan." Teman yang lain berusaha untuk mendapatkan perhatian si guru.


"Ya Pak! Itu benar, Raquel seperti kesetanan. Dia mengamuk tidak jelas, Anda harus memberikan hukuman padanya." Yang lain dengan lantang menyuarakan isi kepalanya.


"Benar, Pak! Kami sudah berusaha untuk melarangnya tapi dia tidak mau mendengarkan kami, dia malah semakin mengamuk dan merusak meja dan kursi." Mereka jelas sangat membenci Raquel.


Raquel diam, dia hanya mendengkus tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membantah tuduhan itu. Sepertinya Raquel memiliki sesuatu atau mungkin dia juga ingat kalau guru di depannya adalah orang yang dibantunya saat itu.


Mereka ingin guru mengambil tindakan terhadap Raquel, memberikan hukuman yang sepadan hingga Raquel tidak berani lagi menyakiti mereka.


Semua orang menunggu dengan sabar sembari merapikan meja dan buku yang berserakan, mereka ingin melihat hukuman apa yang Raquel terima sebentar lagi.