
Rasa panas yang hebat membuat tubuhnya merasa tidak nyaman ditambah rasa gatal yang menyebar ke seluruh tubuh. Reina mengipasi wajahnya dengan tangan, saat menatap cermin mata Reina membelalak tidak percaya.
Ruam merah menyebar di seluruh wajahnya menghilangkan kecantikan yang selama ini Reina banggakan, Reina memegang wajahnya dengan tangan. Kepanikan tertulis jelas, bengkak mulai menyebar di seluruh tubuhnya hasil dari tangannya yang menggaruk secara sembarangan tadi.
Kepala Reina menggeleng dengan tangisan kuat yang begitu hebat terdengar dari kerongkongan Reina.
"Wajahku! Apa yang terjadi pada wajahku? Kenapa wajahku menjadi seperti ini?" Reina histeris karena kecantikan paripurna miliknya raib begitu saja.
Reina berbalik, dia melayangkan tatapan tajam pada Raquel, dia berpikir semua ini ulah Raquel tapi dia tidak tahu bagaimana caranya Raquel melakukan ini.
"Pasti kau kan? Kau yang menyebabkan wajahku seperti ini? Apa yang kau berikan padaku? Kembalikan wajahku!" tunjuk Reina mengarah ke hidung Raquel.
Raquel tidak merasa bersalah, dia mengangkat bahu dan bergerak menjauh dari sisi Reina seperti takut tertular oleh penyakit Reina. Wajah Reina yang memerah tiba-tiba mengejutkan semua orang, dia langsung dijauhi karena takut penyakit itu berpindah dan menyebar.
"Aku? Kenapa menuduhku? Aku tidak melakukan apa pun, lihat! Di tanganku tidak ada apa-apa," ujar Raquel sembari membuka ke-dua tangannya.
Raquel menampilkan wajah sedih atas tuduhan Reina, dia menunduk lalu tersenyum karena sekarang Reina dapat merasakan apa yang dia rasakan.
Reina gelagapan, dia mencoba mencari dukungan tapi apa yang Raquel katakan memang benar adanya. Tidak satupun dari mereka yang hadir melihat Raquel melakukan sesuatu pada Reina selain dia tersandung dan hampir jatuh tadi.
"Itu kau, aku yakin memang kau yang menyebabkan semua ini terjadi. Hanya kau yang mendekati diriku, periksa dia! Silakan periksa dia dan lihat apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan," suruh Reina dengan mata melotot.
Raquel menatap Reina dengan air mata berlinang, dia juga bisa bermain seperti Reina dan itu tentu saja membuat rasa asam melambung tinggi di tenggorokan Reina. Senjata makan tuan, sepertinya dia mengalami itu sekarang.
"Aku tidak melakukan apa pun, Kak kau juga melihatnya kan? Aku tidak bersalah, kenapa dia terus menyudutkan diriku dan membuat aku seperti seorang pendosa besar?" tanya Raquel pada Richard dengan air mata berlinang.
Richard menganggukkan kepalanya, "ya, kau tidak melakukan apa pun, dia saja yang terlalu jahat dan ingin menjatuhkan dirimu. Abaikan dia! Dia hanya benci dengan keberuntungan yang kau miliki, dia iri dengan kecantikanmu. Bisa jadi dia sendiri yang menyebabkan wajahnya rusak untuk mencari perhatian," ujar Richard yang langsung membela Raquel.
Reina jelas tidak bisa menerima ini, dia yakin kalau Raquel adalah penyebab penyakit ini muncul. Tadi sebelum disentuh oleh Raquel dia merasa baik-baik saja dan sekarang seluruh bintik merah yang mulai membengkak tercipta di tubuhnya.
Reina emosi, dia mengulurkan tangan ke depan bersiap untuk merusak wajah Raquel dengan kuku panjang miliknya. Raquel menghindar ke samping satu langkah membuat Reina terhuyung, Raquel menarik tangan Reina menghalangi Reina untuk jatuh.
Tidak puas karena serangannya meleset Reina mengayunkan tangan bersiap untuk menampar wajah Raquel dan Raquel dengan cepat mundur selangkah. Reina mengangkat kaki kanannya berniat untuk menendang kaki kiri Raquel tapi Raquel mengangkat kakinya cepat membuat Reina hanya bisa menendang udara kosong.
Reina melangkah ke depan, dia mengayunkan tinju ke wajah Raquel tapi langsung ditangkis dengan tangannya oleh Raquel. Reina meradang karena semua serangannya meleset padahal dia sudah berlatih dengan ahli ternama sedangkan Raquel jelas tidak pernah mempelajari ini.
Reina menatap curiga pada Raquel, dia ragu apakah ini murni karena keberuntungan Raquel atau memang benar Raquel dapat memperhitungkan setiap gerakan yang diambilnya.
"Kenapa kau bisa menghindari seranganku?" tanya Reina kebingungan.
"Hanya keberuntungan saja, aku tidak tahu kenapa bisa menghindar, refleks mungkin." Raquel menjawab dengan bahu terangkat.
Richard dan Raffertha saling pandang, gerakan menghindar Raquel jelas begitu alami dan terarah. Jika diperhatikan dengan saksama Raquel seperti sudah belajar gerakan itu selama bertahun-tahun padahal mereka tahu Raquel paling malas untuk belajar.
Reina semakin dibuat meradang mendengar ucapan itu, dilangkahkan kakinya ke depan dengan tinju melayang ke arah dada Raquel gerakan yang cepat dan terarah itu dihindari Raquel dengan mundur dan bergeser ke samping, Raquel meraih tangan itu mengangkatnya ke atas membuat tubuh Reina berbalik lalu mendorong Reina ke depan.
"Wah aku hebat," ujar Raquel dengan gembira.
Dia melompat-lompat senang dengan tawa lembut yang terdengar menyenangkan telinga, jelas kalau Raquel sengaja mengatakan itu untuk membuat Reina panas dan marah.
Richard maju dan hendak melakukan serangan pada Reina namun langsung ditahan oleh Raffertha, gelengan kepala diberikan Raffertha sebagai petunjuk.
"Tidak mungkin kita menyerangnya di depan umum seperti ini, nama baik kita bisa rusak dan aku yakin ini yang diinginkan olehnya." Raffertha mengingatkan Richard agar tidak gegabah dalam bertindak.
Richard mengepalkan tangan, dia marah dan kesal atas apa yang dilakukan Reina pada Raquel. Richard takut Reina berhasil memukul Raquel, dia ingin menghadang serangan itu namun tangannya yang dipegang oleh Raffertha menyebabkan dia tidak bisa bergerak.
"Berhenti! Apa yang kau pikirkan? Ini jamuan makan bukan lapangan tempat bertarung," ujar kakek menghentikan serangan yang akan dilakukan oleh Reina.
Reina yang sudah memasang kuda-kuda langsung berhenti, dia melotot pada Raquel mengarahkan jari telunjuk dan tengahnya ke matanya.
Raquel tersenyum dengan bahu terangkat tanpa merasa bersalah sama sekali, dia terlihat seperti anak baik-baik yang patuh dan bijaksana.
"Apa yang kalian lihat? Kembali ke tempat duduk masing-masing! Bukannya melerai kalian malah menonton, kalian berdua juga! Kenapa tidak menghentikan pertengkaran itu?" tanya kakek dengan tidak senang.
"Kami ingin Kek! Tapi takut nanti ibunya salah paham dan marah pada kami, Kakek tahu sendiri kan ibunya seperti apa!" jawab Raffertha cepat.
Di luar, asisten rumah tangga yang mengatakan Raquel mencuri tadi bertemu dengan ibu Reina. Dia langsung menghentikan langkah kaki ibu Reina dan mengatakan apa yang telah terjadi.
"Nyonya berhenti sebentar! Nona Reina diganggu oleh anak haram itu, dia membuat Nona Reina malu dan terluka, dia juga mempermalukan Nona Reina di depan umum." Asisten rumah tangga itu melebih-lebihkan apa yang dia sampaikan.
Dia sengaja ingin membuat Raquel dalam kesulitan karena hampir saja membuat dia kehilangan pekerjaannya.
"Apa yang dia lakukan pada putriku? Beraninya anak tidak tahu diri itu datang kemari? Lihat saja, akan kuberi dia pelajaran yang tidak akan bisa dia lupakan seumur hidup ini." Ibu Reina meradang marah dengan tangan terkepal.
nah yang dikasih segini dan aku harus merincinya jadi 1000 kata. Jadi jangan protes kalau adegannya lambat dan bertele-tele karena memang dari sananya segitu 🙏🙏🙏🤕🤕🤕.