
Pria itu berdiri dari duduknya dan langsung mengulurkan tangan ke depan berharap Raquel menerima dirinya, Raquel tersenyum canggung namun dengan patuh menyambut uluran tangan itu.
"Kapan kau datang Raffertha? Kenapa kau tidak memberitahu diriku kau sudah menunggu di sini?" tanya Richard dengan mata memicing.
Padahal tadi malam, Raffertha mengatakan dirinya tidak akan datang karena memiliki banyak kesibukan. Sekarang bukan hanya datang dia juga merebut Raquel dari tangannya yang membuat Richard mendengkus tidak senang.
"Ah itu, pekerjaanku memang banyak tapi sudah selesai dikerjakan. Aku datang karena mendapat kabar Raquel datang kemari, kalau tidak aku juga tidak akan ke sini. Kapan lagi aku melihat adikku yang cantik dan manis ini," puji Raffertha dengan senyum menawan.
Richard mencebik, meski begitu dia tetap memberikan tangan Raquel pada Raffertha. Raffertha tersenyum senang, dia melihat Raquel dari atas ke bawah menilai penampilan Raquel yang jauh berubah dari terakhir kali mereka bertemu.
Seorang pelayan datang mendekat ke arah ke-tiganya, dia menunduk hormat pada Richard dan Raffertha tapi dia melihat dengan sinis pada Raquel.
"Tuan Richard dan Tuan Raffertha, generasi tua sudah menunggu Anda berdua di aula. Mereka ingin Anda segera datang ke sana karena beliau akan mengatakan sesuatu yang penting," jelas pelayan itu dengan wajah datar tanpa ekspresi saat melirik Raquel yang berdiri di antara Richard dan Raffertha.
Jelas sekali kalau pelayan itu menggangap remeh Raquel, mungkin karena status Raquel sebagai anak haram dan dia juga wanita jadi si pelayan berpikir kalau Raquel tidak akan bisa membalik keadaan.
"Saya harap Anda tidak bergaul dengan rakyat jelata ini, dia hanya gadis lemah dan cengeng. Dia tidak memiliki kekuatan maupun kemampuan, dia hanya akan membuat Anda kesusahan. Lebih baik Anda berdua menjauh darinya sebelum Anda menderita kerugian yang besar," ejek pelayan ini dengan hidung terangkat sebelah pada Raquel.
Raquel menatap tajam pelayan itu, ingin rasanya dia maju ke depan memberikan tamparan hebat pada si pelayan namun dia masih menahan diri karena tidak ingin membuat ke-dua kakaknya curiga dan bertanya.
Richard jelas tidak senang mendengar penuturan si pelayan, diliriknya pengawal yang mengikuti dirinya diberikannya kode pelayan itu untuk bergerak ke depan. Pengawal yang mengerti akan kode itu melangkah ke depan melayangkan tamparan keras di pipi si pelayan membuat pelayan itu jatuh tersungkur.
Pipinya memerah dengan sidik lima jari tercipta di sana sedangkan Raffertha mengeluarkan sarung tangan bersiap untuk melakukan itu sendiri namun setelah melihat semua itu dia menyimpan kembali sarung tangan yang dipakainya.
"Kau pikir kau siapa ha? Beraninya kau berbicara seperti itu pada majikanmu, siapa yang memberimu keberanian sebesar itu ha? Kau ingin mati ya? Keluar dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi di sini, kehadiranmu tidak diperlukan, banyak yang menginginkan pekerjaan selain dirimu." Richard membentak si pelayan membuat bahu si pelayan menciut dan dia menyembunyikan wajahnya.
Dia malu, awalnya dia berniat untuk menjilat ke-dua tuan muda ini namun sekarang dia malah kehilangan pekerjaannya gara-gara itu. Dia tidak tahu kalau kedua tuan mudanya ini sangat menyukai sampah seperti Raquel dan rela memecat dirinya hanya karena Raquel.
Pelayan itu berdiri sembari memegang pipinya yang memerah, ada bercak darah di bibirnya yang menjelaskan kalau tamparan itu tidak lunak sama sekali. Raquel menatap pelayan itu sinis dan langsung menyembunyikan senyumnya itu, takut ketahuan oleh kedua kakaknya.
"Sa-sa-saya minta maaf Tuan! Saya tidak berniat mengatakan itu, saya hanya ingin mengingatkan Anda, maafkan saya! Tolong jangan pecat saya Tuan! Saya membutuhkan pekerjaan ini!" pinta pelayan itu memohon dengan air mata mengalir deras.
Ke-tiganya pergi ke jamuan bersama, para pelayan kiri dan kanan yang mereka temui menyapa Richard dan Raffertha tapi mereka tidak melayangkan pandangan pada Raquel sama sekali, Raquel dianggap tidak ada dan bahkan orang-orang yang melihatnya hanya mengalihkan pandangan ke arah lain.
Raquel mencoba untuk tidak peduli, dia mengabaikan tatapan semua orang padanya dan terus melangkah mengikuti lenggak-lenggok Richard dan Raffertha. Beberapa orang berbisik-bisik tentang kehadiran Raquel di sana, mereka tidak senang dengan kehadirannya yang dianggap mengganggu suasana.
"Eh, kenapa anak haram itu ikut datang? Siapa yang membawanya kemari? Beraninya dia menginjakkan kakinya di sini?" Suara tidak senang itu dapat didengar oleh Raquel.
Orang-orang yang pernah mendengar tentang kisah hidup Raquel tentu saja menghina dirinya begitu terang-terangan. Apalagi Raquel adalah anak haram dan hampir dibunuh oleh ibunya sendiri.
"Yap kau benar, berani sekali dia menampakkan mukanya di sini. Dasar tidak tahu diri, jelas-jelas tidak ada yang menganggapnya tapi dia masih saja datang! Benar-benar tidak tahu aturan," ejek suara lain dengan sedikit lebih keras.
Mereka hanya tahu Raquel tidak memiliki dukungan, Raquel bahkan hampir mati beberapa kali dan tidak ada yang mencoba untuk mengusut tentang masalah itu.
"Lihat pakaian yang dikenakannya!" tunjuk seseorang dengan senyum sinis.
"Benar! Lihat dandanan murahannya itu, aku dengar untuk bisa bersekolah di sekolah ternama dia bahkan menjual tubuhnya pada pria tua. Bukankah itu sangat menyedihkan?" tanya seseorang dengan tawa lebar yang begitu membahana.
"Benar, anak yang tidak dididik dengan baik tentu saja akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." Kata-kata kasar itu semakin menjadi namun Raquel mengabaikan semua itu menganggapnya sebagai angin lalu yang tidak perlu untuk didengarkan.
'Terus saja hina aku, sekarang aku mungkin belum bisa bertindak tapi lihat saja nanti! Aku akan membuat kalian semua menyesal dan bersujud di kakiku, akan kubuat kalian semua menyesal sudah menghina diriku sedemikian rupa seperti ini." Raquel sakit hati dan kecewa mendengar apa yang dilontarkan orang-orang ini.
Beginilah rasanya tidak memiliki dukungan dan kekuasaan, kita akan dihina, direndahkan, dicaci-maki dan juga dianggap sebagai kotoran. Beginilah manusia, yang mereka tahu hanya keuntungan saja.
Mereka tidak akan mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain yang mereka hina, mereka tidak tahu kalau kata-kata yang mereka ucapkan dapat menghancurkan mental seseorang, merusak kehidupannya dan membuat orang itu menjadi berdarah dingin.
'Akan ada saatnya mereka semua akan menjilat diriku, bersujud di kakiku memohon pertolongan. Saat itu tiba aku tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk bangkit,' batin Raquel saat matanya menangkap senyum cemoohan di bibir beberapa orang.
Sakit hati, tentu saja dia merasakan semua itu. Tapi sekarang dia harus menahan diri, dia bukan Kimberly yang memiliki dukungan dan kekuatan. Dia Raquel , gadis lemah yang mudah ditindas oleh seseorang.