
Tanpa mereka sadari, tidak jauh dari depan rumah Raquel seorang pria yang sejak tadi terus mengintai pergerakan Raquel keluar dari sana secara diam-diam. Dia memastikan arah kepergian Raquel barulah mengeluarkan teleponnya dari dalam kantong celananya, dia membuang permen karet yang ada di mulutnya secara asal.
"Halo, Bos! Orang yang kau suruh aku intai telah pergi," jelas orang itu singkat sembari menatap rumah yang Raquel tinggalkan.
"Pergi ke mana? Siapa yang membawanya? Apa kau mendengar percakapan mereka?" tanya orang itu dengan suara yang mengandung keterkejutan yang begitu dalam.
"Entahlah, saya tidak dapat mendengar percakapan mereka. Tapi orang yang membawanya sepertinya memiliki pangkat yang tinggi, dia bertanggung jawab atas tentara ibukota. Ada beberapa tentara yang ikut bersamanya kemari, itu yang menyebabkan saya tidak bisa mendekat." Pria itu menerangkan dengan cepat karena takut akan terjadi kesalahpahaman dan gajinya tidak dikeluarkan.
"Apa katamu? Orang berpangkat tinggi, apa kau melihat rupa pria itu? Siapa dia dan apa jabatannya sekarang?" Bos di telepon sungguh sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.
Dia tidak mengira kalau Raquel akan mengenal orang berpangkat tinggi di ibukota, dari berita yang didengarnya Raquel jelas tidak memiliki sanak saudara dan diacuhkan oleh keluarganya. Dia memiliki perangai yang nakal dan suka membuat keributan untuk mendapatkan perhatian, semua itu jauh dari apa yang baru saja didengarnya barusan.
"Sudah saya katakan pada Anda kalau saya tidak bisa terlalu mendekat pada mereka, pengawasan di rumah itu begitu ketat tadi sehingga pergerakan orang yang lewat saja menjadi pusat perhatian. Senjata yang ada di tangan mereka saja sungguh terlihat sangat menakutkan, wanita itu dan si pria berpangkat tinggi berbicara dalam rumah dengan pintu tertutup." Pria yang tadi bersembunyi menjelaskan lagi.
"Baiklah! Lanjutkan pengintaian dan penyelidikanmu, jika kau memiliki kabar terbaru langsung laporkan padaku jangan sampai kau melupakannya." Panggilan itu diputuskan secara sepihak dan si pria memasukkan telepon ke dalam kantongnya lagi lalu pergi dari sana secepatnya ia bisa.
Raquel terlihat bahagia, dia mengamati jalan yang mereka lalui dengan begitu antusias. Raphael yang melihat itu hanya bisa tertawa di dalam hati. Mereka harus memberikan tepuk tangan yang meriah dan juga hadiah untuk Richard yang sudah berhasil mendapatkan ide untuk menipu Raquel agar mau ikut dengannya tanpa paksaan, hal ini sangat berguna karena Raquel sangat menyukai sesuatu yang ekstrim dan menarik baginya.
"Apakah masih lama? Di mana tempat itu berada? Aku hanya pernah mendengar namanya saja dan sangat penasaran dengan tata letak tempat itu," terang Raquel dengan senyum lebar yang membuat Raphael terpana.
Mengambil keuntungan dari keterpesonaannya Raquel akan tempat yang mereka tuju Raphael mengusap para Raquel dan Raquel membiarkan hal itu begitu saja. Padahal biasanya dia sangat menolak sentuhan Rafael, dia pasti menunjukkan dengan raut wajah dan terkadang mengatakan hal-hal yang bisa memicu perselisihan.
"Moreno akan mengantarmu ke suatu tempat agar kau tidak berlarian sembarangan, kalau kau mau pergi ke tempat rahasia itu maka dengarkan apa yang aku katakan dan jangan membantahnya sedikitpun. Aku kan kepalamu jika kau paham dengan apa yang aku?" Wajah Raphael berubah serius dan suaranya penuh dengan penekanan seperti saat dia berbicara dengan anak buahnya atau dengan para tentara.
Anggukan kepala diberikan oleh Raquel, Jika seperti ini dia jauh dari kata pembangkang dan susah diatur. Raquel begitu penurut sehingga membuat Raphael menjadi cemas, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Raquel.
Atau mungkin dia tidak terbiasa dengan sikap Raquel yang seperti ini, dia harus banyak belajar lagi untuk memahami Raquel.
Moreno yang duduk di depan dan melihat interaksi antara Raphael dan Raquel langsung meneguk salivanya, sudah dua kali ini dia melihat Raphael berbincang dengan seseorang begitu penuh kesabaran dan sering mengalah. Apakah dia harus memberikan Raphael penghargaan atau mungkin dia harus terbiasa dengan interaksi aneh seperti ini untuk ke depannya, gadis yang ada di belakangnya sungguh sangat menakjubkan.
"Aku janji! Pergilah bersama Moreno untuk melihat rumah itu, aku harap kau menyukainya dan betah tinggal di sana daripada di rumah lamamu yang begitu sempit dan menyesakkan." Raphael tidak bisa menghilangkan pikiran tentang tempat tinggal lama Raquel.
"Kalau begitu aku setuju dengan apa yang kau katakan, awas aja jika kau ingkar janji!" ancam Raquel dengan mata melotot yang dibuat-buat.
Moreno yang meminum airnya terbatuk hebat, dia menepuk-nepuk leher bagian belakangnya pelan. Sungguh nada yang keluar barusan dari bibir Raphael benar-benar sebuah kejutan yang tidak terduga.
'Ah, andai saja tadi aku merekam suaranya? Kalau aku berbicara tanpa bukti pasti yang lain tidak akan percaya dan mengatakan aku berbohong, ah besok-besok aku harus menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar momen-momen penting seperti ini dapat diabadikan.' Moreno kecewa dengan gerakan lambat dirinya.
Raphael memilih turun di jalan dan berpindah ke mobil yang ada di belakang sedangkan mobil yang dipakainya tadi bersama Raquel dan Moreno dibiarkan berjalan lebih dulu ke depan.
"Bagaimana hari-harimu belakangan ini?Apakah kau menjalani sesuatu yang menyenangkan belakangan ini?" Moreno berusaha mencari dan memulai percakapan.
Diam, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Raquel dan dia masih sibuk melihat pemandangan yang ada di kaca jendela tempatnya duduk.
"Aku dengar kau bisa mengalahkan Bibimu yang tamak akan harta, kau juga berikan pelajaran pada orang-orang yang sudah menidas dirimu di sekolah. Apakah semua itu benar?" Moreno masih berusaha untuk berbincang dengan Raquel.
Moreno ingin sekali mengajak Raquel untuk berbicara namun sikap Raquel yang begitu dingin membuatnya harus mundur tanpa bisa melakukan perlawanan.
Mobil yang mereka tumpangi masuk ke sebuah vila mewah tempat orang-orang besar dan tinggi tinggal, Raquel mengetahui tempat ini karena dulu dia juga memiliki rumah di sini.
Mobil terus melaju hingga masuk ke dalam lebih jauh lagi, mereka menuju ke bangunan yang ada di bagian pertama masuk di mana di sana adalah tempat untuk mendaftar tinggal di vila mewah ini.
Moreno mengajak Raquel untuk mendaftar, Raquel disebut sebagai Fan Bailian (gadis yang berpegang teguh pada orang-orang kuat dan memiliki posisi yang tinggi) oleh orang-orang sekitar. Jelas semua orang mengarahkan tinju dan mulutnya pada Raquel dan Moreno, sedangkan di sisi lain Raphael terus melanjutkan perjalanannya.