
Pria tua itu menunduk sembari menendang batu-batu kecil yang ada di bawah kakinya, dia meremas tangannya seperti sedang berpikir untuk melarikan diri dari tempat itu. Dia tidak berniat untuk meminta maaf pada Raquel, dia malah menyalahkan Raquel karena rencananya rusak karenanya.
'Apa yang harus aku lakukan? Gadis kecil ini membuat pekerjaanku rusak akibat ulahnya, aku benar-benar sangat membenci dirinya." Pria itu jelas merutuki apa yang sudah terjadi.
Jauh dari tempat keributan terjadi, di mana tidak ada yang memperhatikan sebuah mobil hitam sedang berhenti dan dari dalam kaca seorang pria tengah melihat keributan yang terjadi. Dia tersenyum semringah dengan rasa ingin tahu yang begitu tinggi, dia puas dengan apa yang dilakukan oleh Raquel.
"Dia begitu hebat, dia mampu membuka kedok pemerasan uang hanya dalam hitungan menit." Pria itu dengan mata bersinar memandang Raquel.
Dia kagum akan kehebatan Raquel, dia yang belum pernah melihat kehebatan Raquel tentu saja menjadi tertarik. Raphael yang saat itu bersama pria itu mendengkus, dia langsung turun dari mobil untuk menemui Raquel.
Raphael berjalan menuju kerumunan, dia langsung mengusir semua orang yang masih berkumpul di sekeliling Raquel.
"Bubar! Pergi dari sini! Apalagi yang kalian tonton? Tidak ada adegan menarik lagi yang bisa kalian dapatkan," usir Raphael dengan wajah dingin dan suara datarnya.
Beberapa orang memutar matanya malas, mereka jelas masih ingin menikmati beberapa adegan lagi sedang alias mereka menanti apa yang akan Raquel lakukan pada pria tua itu.
"Moreno! Kemari lah!" panggil Raphael dengan lantang pada seseorang yang belum pernah dikenal oleh Raquel.
Nama ini begitu asing di telinga Raquel, dia belum pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya. Dia juga belum pernah mendengar ini baik di kehidupan sebelumnya, alis naik Raquel naik sebelah saat melihat orang itu mendekat ke arahnya.
"Apa? Kenapa kau memanggil suruhanmu? Apa kau ingin memberimu pelajaran juga?" tanya Raquel sinis pada Raphael dengan wajah ketus.
"Setelah yang terjadi kemarin kenapa kau kelihatan masih menjaga jarak denganku? Apa yang aku lakukan padamu masih kurang?" tanya Raphael tidak senang berusaha untuk mendekat.
Raphael merasa Raquel masih waspada dirinya dan masih belum memberikan kepercayaan pada dirinya, Raphael merasa jarak yang ada di antara mereka sulit untuk dikurangi.
Raquel menghela napas kasar, "apalagi sekarang? Bukankah aku sudah membayar balas Budi yang telah kau lakukan padaku? Aku sudah tidak ingin memiliki masalah lagi dengan dirimu, apa yang kita lakukan sudah impas."
Raquel tidak ingin memiliki musuh, dia sudah lelah dengan semua kekacauan yang terjadi. Saat ini dia ingin menenangkan diri dan mengumpulkan kekuatan untuk bisa mengalahkan semua musuhnya dan membalas dendam.
"Aku mohon padamu untuk tidak mencari diriku lagi, aku hanya ingin hidup damai dan tidak ingin menambah musuh lagi." Raquel berusaha untuk menjauh.
Raphael sangat tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Raquel padanya barusan.
"Aku tidak ingin hutang budimu usai, ayolah! Apa kebaikan yang aku lakukan padamu masih kurang? Aku berharap kau masih memiliki hutang budi padaku, apa yang harus aku lakukan agar kau dan aku tetap bisa bertemu?" tanya Raphael santai.
Raquel menatap Raphael aneh, alisnya naik sebelah.
"Kau benar-benar sudah gila rupanya," ejek Raquel dengan kepala menggeleng.