
Raquel tertawa dengan tangan menutupi mulutnya, dia melirik dari atas ke bawah. Memperhatikan tampang ke-duanya yang begitu saling melengkapi satu sama lain, cocok dan jelas sama-sama memiliki sifat yang tidak baik.
'Apa yang dilihat oleh gadis ini? Kenapa dia begitu bodoh dalam memilih teman dan pasangan? Entah apa isi otaknya aku tidak tahu, karena sekarang aku yang menempati tubuh ini maka dendam yang dia miliki aku yang akan membalaskan.' Raquel membatin.
Ditatapnya pasangan yang penuh kasih yang bermesraan tanpa malu itu, tidak ada rasa bersalah di wajah ke-duanya. Raquel tersenyum, dia bersandar dengan tangan terlipat menikmati tontonan drama gratis yang sedang tayang di depan matanya.
"Salahkan dia yang bermental keripik, kenapa menyalahkan aku? Aku tidak melakukan apa pun padanya, lagipula dia yang terlalu manja." Raquel mengejek ke-duanya dengan pandangan meremehkan.
"K-k-kau, kau berani?" tanya si pria dengan telunjuk mengarah ke hidung Raquel.
Biasanya Raquel akan menunduk malu saat melihat dirinya, jangankan membantah ucapan Ronald melihat Ronald dengan rasa bersalah saja Raquel tidak pernah.
"Dasar anak tidak tahu diuntung, lihat kehidupanmu sekarang? Betapa menyedihkannya menjadi dirimu, tidak memiliki orang tua dan dukungan bahkan kau tidak memiliki isi otak sama sekali. Bagaimana rasanya cintamu ditolak? Kau pasti malu kan?" ejek Rico mencibir.
Rico tertawa lebar atas kemalangan yang menimpa Raquel, dia bahkan tidak merasa kasian atas apa yang sudah menimpa Raquel.
Raquel mengangkat dagunya, dia menatap Selena dan Rico dengan sebelah alis terangkat. Tangannya masih terlipat di dada dengan kepala teleng ke arah kanan, dia tampak tidak mengambil hati ucapan Rico.
"Untung aku sudah putus denganmu dan tidak memiliki hubungan apa pun lagi sekarang, aku bisa kehilangan wajah ini akibat tindakan tidak tahu malumu itu." Lagi, Rico melemparkan hinaan yang menyakitkan pada Raquel.
"Kau makan apa sih tadi? Mulutmu pedas sekali, bahkan kau mengalahkan ibu-ibu di pasar yang menjajakan jualannya. Tapi tidak apa-apa sih, kalian berdua cocok satu sama lain, yang satu penjilat dan yang satu lagi bermuka dua. Benar-benar pasangan yang ditentukan oleh Tuhan," puji Raquel dengan senyum memikat miliknya sembari menggerakkan tangan seperti sedang memperagakan.
Rico terdiam dengan mata melotot, dia terkejut dengan apa yang Raquel katakan. Dia benar-benar sudah tidak mengenal Raquel yang sekarang, Raquel yang mudah ditindas dan patuh sudah menghilang dan tidak ditemukan lagi.
Rico melepas tangannya yang memeluk Selena, dia maju ke depan berniat untuk memberi pelajaran pada Raquel. Rico mengangkat tangannya bersiap untuk menampar Raquel namun tangannya langsung dihentikan oleh Raphael tepat waktu.
Raphael mendorong dengan kasar membuat tubuh Rico terhuyung ke belakang dan hampir saja jatuh tersungkur, kakinya tersandung sesuatu namun dia berhasil menyeimbangkan diri.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Rico dengan wajah memerah dan bola mata seperti ingin keluar dari tempatnya.
Dia merapikan baju yang dipakainya, melirik Raphael dengan tidak senang. Dia benci tindakan Raphael, padahal dia ingin mendapatkan pujian dari Selena.
Raphael berdiri tegap di samping Raquel, dia menengok ke segala arah melihat kekacauan yang berhasil dibuat oleh Raquel. Dia juga melirik pada anak perempuan yang terluka akibat tindakan Raquel namun tidak ada rasa iba atau simpati sama sekali dari wajahnya.
"Kau sepertinya salah paham di sini, semua salah Raquel. Dia yang mulai mengacau di sini," tunjuk Rico menjelaskan apa yang tengah terjadi.
Aura tidak bersahabat yang Raphael keluarkan membuat Rico takut untuk mendekat, dia tahu kalau Raphael bukanlah orang sembarangan dan tidak ingin memiliki masalah dengan Raphael sama sekali.
Begitulah penjilat bekerja, mereka akan berusaha untuk mencari dukungan dari status orang-orang yang dirasanya dapat membantu mereka menaiki status sosial yang lebih tinggi.
"Ya betul, gadis itu yang memulainya terlebih dahulu. Kami hanya mengatakan kebenaran saja, dia memang menjual tubuhnya untuk dapat bersekolah di tempat ternama itu, jika tidak bagaimana dia bisa masuk ke sana? Otaknya saja tidak pernah dia gunakan dengan baik," angguk yang lain membantu Selena.
"Itu benar, dia membuat semua kekacauan ini terjadi. Dia bahkan tidak bisa berbicara baik-baik dan langsung menggunakan kekerasan, anak tanpa orang tua dan didikan yang baik memang seperti ini." Teman Selena langsung ikut berbicara.
Mereka kompak berniat menjatuhkan Raquel, semua orang yang tadinya ketakutan akan tindakan Raquel langsung menjadi berani. Satu-persatu dari mereka maju ke depan untuk mengatakan isi pemikiran mereka yang tidak berani mereka ucapkan.
"Dia sangat kasar sekali! Lihat akibat tindakan tidak manusiawinya itu! Teman kami menjadi korbannya, dia terluka akibat sikap kejam Raquel jangankan meminta maaf, dia malah bersikap sombong dan tidak tahu aturan." Berbagai kata-kata kasar terlontar keluar menyalahkan Raquel tanpa mau disalahkan.
Raquel berdiri diam memperhatikan keributan itu dengan tangan menggosok telinganya, bola matanya berputar-putar dengan bibir mencebik. Raquel tampak bosan dengan keadaan itu namun tidak bersuara untuk membantah atau melawan ucapan itu.
Keributan semakin menjadi-jadi di sana, tidak ada yang mau kalah dalam menyuarakan keluhan mereka. Mereka berlomba-lomba untuk mencari muka, menjilat satu sama lain demi keuntungan pribadi masing-masing.
"Suruh dia meminta maaf! Tindakannya sudah sangat keterlaluan, apa yang kami katakan tentangnya memang fakta dan kebenarannya terpampang jelas di depan mata." Sorak riuh terdengar memekakkan telinga saat mereka menuntut Raquel menurunkan egonya dan tidak bertindak sombong lagi.
Mereka berpikir Raphael berpihak pada mereka karena diam saja atas kata-kata kasar yang mereka lontarkan pada Raquel. Kata-kata kasar menyakitkan tentang Raquel semakin menjadi-jadi, mereka dengan sangat gembira meluapkan isi hatinya tanpa tahu situasi.
Raphael menatap semua orang dingin, dia mendengkus samar tapi belum mengeluarkan sepatah katapun. Tidak ada ekspresi tertulis di wajah Raphael, tidak ada yang bisa membaca isi pikirannya saat ini.
Selena bersandar lemah pada Rico, dia berpura-pura terlihat lembut untuk menarik perhatian semua orang. Air matanya mengalir dan dia terlihat cukup menyedihkan, sayangnya tidak ada dari satu pun tatapan Raphael yang hinggap ke arah Selena.
Rico memeluk Selena erat takut Selena akan terjatuh, dia khawatir dengan Selena dan takut sesuatu terjadi pada Selena. Selena tampak rapuh dan tidak bertulang, hal yang membuat dirinya tertarik pada Selena.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rico lembut pada Selena yang dibalas Selena dengan anggukan kepala.
Dia mencuri perhatian pada Raphael dengan senyum malu-malu.