
Richard dan Raffertha mengusap dada mereka dan tersenyum senang, mereka terlihat lega dengan kedatangan Raquel yang begitu tepat waktu. Richard memperhatikan gaun yang Raquel pakai serta raut wajahnya, setelah memastikan Raquel baik-baik saja Richard dan Raffertha melepaskan kekhawatiran yang bersarang di hatinya.
'Untunglah! Ke mana dia pergi tadi? Bagus tidak terjadi sesuatu padanya,' batin Raffertha saat melihat Raquel kembali dengan utuh dan tidak kekurangan sesuatu.
Richard memandang Raquel dengan penuh semangat, dia melihat lenggak-lenggok Raquel menuju ke dalam ruangan. Begitu anggun dan memesona sehingga semua orang memandang dirinya dengan penuh minat. Raquel melirik ke arah Richard mengedipkan mata dengan senyum penuh makna seolah mengatakan semua baik-baik saja dan tidak perlu ada yang ditakuti lagi.
"Selamat malam Kakek!" sapa Raquel dengan gaya bangsawan yang telah dia pelajari selama berpuluh-puluh tahun ketika menjadi seoranh Kimberly.
Sapaan yang dilakukan Raquel membuat semua orang terkejut bukan main, mata mereka melotot dengan bola mata seperti akan keluar dari tempatnya. Raquel begitu anggun dan terkesan tidak memaksa, dia begitu alami dalam mengambil tindakan hingga membuat semua orang berpikir keras.
"K-k-kau yakin dia kurang didikan dan tata Krama? Kapan dia belajar? Kenapa gerakan yang dia lakukan alami? Dia bahkan memiliki aura bangsawan itu di tubuhnya?" Seseorang yang tadinya mencemooh Raquel berbisik pada temannya.
Richard dan Raffertha saling pandang, jelas mereka berdua yang lebih tahu tentang Raquel. Raquel malas dalam belajar, nilainya selalu tertinggal, dia kekurangan perhatian sehingga selalu membuat masalah yang tidak penting.
Kakek puas dengan gerakan Raquel, dia menganggukan kepala sembari melihat ke sekitar. Kakek seperti sedang pamer tanpa mengatakan dengan mulutnya, gerakan Raquel jelas merupakan standar seorang bangsawan kelas atas, butuh waktu ekstra banyak untuk mempelajarinya dan tidak sembarangan orang bisa melakukan itu.
Aturan untuk cara hormat bangsawan sangat ketat bahkan sudah diajarkan sejak usia dini dan Raquel jelas tidak pernah mendapatkan pelatihan dalam hal itu. Tidak ada yang peduli dengannya selama ini, dia diabaikan dan hanya diasuh oleh perawat yang ada di rumah.
Reina yang melihat ekspresi wajah kakek jelas tidak senang akan hal itu, dia langsung mendekati Raquel dan menyusun sebuah rencana untuk menjebak Raquel dan membuat semua orang berpikir buruk tentang Raquel.
Di tempat lain, Derrick sudah berhasil menyelesaikan desain yang diberikan oleh Raquel padanya hari itu, Derrick tersenyum puas dengan hasil yang diperoleh dan berniat untuk memperlihatkan hal itu pada Raquel.
"Dia pasti akan kagum dengan apa yang berhasil aku capai, aku sudah tidak sabar untuk menunjukkan ini padanya." Derrick mengangkat hasil desain itu tinggi-tinggi mengagumi hasil karya tangannya itu.
Reina berhasil sampai di sisi Raquel, dia berdiri di samping Raquel sembari mengedarkan pandangan matanya ke segala arah. Dia tersenyum mengangguk pada orang-orang yang menyapanya bertindak seramah dan selembut mungkin untuk mempertahankan citra baiknya yang selama ini dilihat orang-orang.
"Kenapa kau bisa selamat ha? Siapa yang membantu dirimu untuk lepas dari tangan orang-orang itu? Cepat katakan? Oh, atau jangan-jangan yang dikatakan oleh teman satu sekolahmu itu benar ya? Kau pasti menyogok mereka dengan menggunakan tubuhmu kan?" tanya Reina mencemooh disertai bisikan lembut yang membuat senyum indah semakin terlihat di bibir Raquel.
Raquel bergeser sedikit mendekati Reina, dia memberikan senyuman manis yang begitu anggun dan terbaik miliknya namun bagi Reina senyum itu lebih seperti mencemooh dirinya.
"Kau mau tahu atau hanya sekedar ingin tahu saja? Mau aku katakan atau kau sendiri yang mencari kebenarannya?" Raquel bertanya dengan suara tak kalah lembut.
Selama ini semua orang berpikir dia lemah dan mudah ditindas, dia menjadi sasaran empuk untuk melampiaskan kekesalan semua orang. Mana mungkin Raquel ingin orang-orang itu tahu kalau dia sudah bukan Raquel yang dulu lagi, Raquel tidak ingin musuhnya menjadi waspada saat melihat perubahannya yang begitu mendadak.
"K-k-kau, apa yang kau lakukan pada mereka ha? Membunuh merupakan pelanggaran hukum, kau bisa di penjara." Reina tersenyum sinis.
Dia merasa ancaman yang diberikannya pada Raquel akan membuat Raquel takut, tapi nyatanya Raquel malah mengabaikan itu dan menatap Reina dengan senyum.
"Pertanyaannya apakah polisi percaya kalau aku yang melakukan semua itu, kau dan mereka tentu tahu kalau selama ini aku sering menderita perundungan, aku tidak memiliki dukungan dan kemampuan. Harusnya kau tahu betul akan hal itu," ejek Reina santai dan tanpa rasa bersalah sama sekali.
'Heh, hal seperti ini sudah merupakan makanan sehari-hari bagiku. Aku sudah sering melakukan hal ini dulu, asalkan tidak meninggalkan jejak tidak akan ada yang percaya kalau aku yang melakukan itu.' Raquel sudah tahu akan resikonya dan tentu saja sudah memikirkan sesuatu sebelum bertindak.
Reina meradang marah, dia lupa akan hal ini. Dia melotot, gerakan tangannya seperti akan memakan Raquel membuat tawa renyah keluar dari bibir Raquel.
Reina balas tertawa, dia meraih tangan Raquel dan melakukan gerakan seperti Raquel mendorong dirinya sehingga dia jatuh tersungkur dengan cara yang sangat menyedihkan.
Melihat hal itu bukannya panik atas pandangan menuduh semua orang Raquel malah tertawa, menyakiti diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan orang lain sangatlah menyakitkan.
Raquel menggelengkan kepalanya, dia merasa iba dengan tindakan Reina yang mencelakai diri sendiri hanya untuk mencari perhatian.
"Menyedihkan," ejek Raquel.
Reina menangis dengan tatapan menyedihkan, dia mengusap tangannya yang menahan dirinya agar tidak terbentur lantai. Reina tampak lemah dan rapuh sesuai dengan apa yang dianggap orang lain tentang dirinya selama ini.
Kakek yang melihat keributan itu berjalan mendekat ke arah mereka berdua yang saat ini dikelilingi oleh beberapa orang, kakek tampak khawatir dan melirik Reina yang masih belum kumjung berdiri juga.
"Kau baik-baik saja? Apakah kita perlu memanggil dokter?" tanya kakek dengan nada khawatir yang begitu jelas.
Reina menggelengkan kepalanya dengan susah payah dia berdiri dan tambak terseok-seok seolah dia bisa jatuh kapan saja.
"Aku baik-baik saja Kek! Aku tidak tahu apa alasan Raquel mendorong diriku, kenapa kau melakukan ini padaku Raquel? Apa yang membuatmu kesal dan marah?" tanya Reina lembut dengan tampang menyedihkan agar orang-orang iba.
Semua orang di sekitar langsung mendukung Reina, mereka bercerita seolah Raquel adalah orang terjahat di dunia. Tapi Raquel terlihat mengabaikan semua itu, Raquel bertindak seolah orang yang dibicarakan oleh mereka bukanlah dirinya.
Pembicaraan buruk tentang Raquel semakin menjadi-jadi tapi orang yang dibicarakan malah terlihat santai dan abai.