The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
61. Kakak Ke-empat



Saat Riana tengah mengalami kesakitan yang hebat Raquel langsung melompati pagar dan meninggalkan sekolah dengan kecepatan penuh, Raquel terus berjalan ke depan hingga dia mencapai sebuah gunung yang berada tidak jauh dari sekolah.


"Aish, mereka sudah membuang waktuku. Aku penasaran dengan apa yang akan terjadi pada Riana, aku juga ingin tahu seperti apa anak-anak itu akan melihatnya. Sayang sekali aku tidak memiliki kesempatan itu," ujar Raquel dengan raut wajah kesal.


Dia berjalan lurus ke depan dan mengeluarkan teleponnya untuk mengecek lokasi yang akan ditujunya, zaman yang semakin canggih membuatnya tidak perlu menghitung secara manual dan kebingungan untuk menentukan arah yang akan ditujunya.


"Masih 500 kilometer lagi, aku harus mencari kendaraan, tidak lucu jika aku berjalan kaki untuk sampai ke sana. Kendaraan apa yang harus aku tumpangi sekarang," ujar Raquel sembari menggosok dagunya yang indah.


Sedangkan di sisi lain, tujuh anak laki-laki berusia sekitar 20 tahun akan mengadakan lomba lari cepat, mereka sudah mengambil ancang-ancang untuk maju lebih dulu. Ke-tujuh orang itu memiliki wajah rupawan tersendiri, mereka tampak berasal dari keluarga kaya karena penampilan mereka begitu mencolok.


"Hehehe, aku akan memenangkan lomba ini. Siapa yang kalah harus mencium wanita pertama yang mereka temui di sini," ujar seorang anak dengan senyum bangga.


Dia terlihat begitu bersemangat, wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang begitu luar biasa seolah dia sudah menantikan semua ini sejak lama.


"Baik, tidak peduli dia jelek atau cantik bahkan gelandangan sekalipun." Yang lain menjawab dengan tegas.


Seorang pria tampan dengan setelah mahal turun dari mobilnya, dia terlihat sedang banyak pikiran. Wajahnya sayu dan kekurangan gairah, dia berdiri bersama yang lain dengan ekspresi wajah sedih yang tidak dibuat-buat sama sekali.


"Hei, kau sepertinya akan kalah hari ini. Apa yang tengah kau pikirkan ha? Apa ini soal berita yang kau baca hari ini?" Temannya tampak prihatin namun karena mereka sedang berada dalam taruhan yang merugikan tidak tepat rasanya jika dia mengkhawatirkan lawannya begitu saja.


"Ya, aku sangat terkejut dengan berita yang begitu mendadak itu." Jelasnya dengan wajah masam tidak bersahabat.


Dia seperti pohon yang belum disiram selama beberapa hari, sudah layu dan hampir tidak bisa diselamatkan lagi.


Raquel di sisi lain terus berjalan menerobos semak belukar, merasa bagian gunung belakang ini tidak terlalu dalam dan menyeramkan serta adanya jalan setapak yang sudah biasa dilalui sebagai jalan pintas membuatnya merasa aman meski hanya berjalan sendirian di dalam hutan seperti ini.


Kembali ke sisi kakak ke-empat Raquel, tiba-tiba memiliki adik bahkan berjenis kelamin perempuan dan harta warisan milik mereka juga dibagikan secara merata padanya membuat kakak ke-empat Raquel kehilangan semangat hidupnya.


"Aku tidak mengira kakek akan melakukannya begitu saja tanpa berpikir," gumam kakak ke-empat Raquel dengan ujung jari menggosok bagian pelipisnya yang berdenyut.


Akibat tidak fokus dengan pikiran bercabang kakak ke-empat Raquel kalah dalam pertandingan kali ini, dia tampak lebih kecewa dari sebelumnya. Kedua bahunya merosot dan dia seperti sedang kehilangan semangat hidupnya, dia mendecakkan lidahnya sembari menatap teman-temannya dengan ekspresi kesal.


Raquel yang kebetulan keluar dari hutan menemukan sebuah mobil di depan matanya, dengan cepat Raquel menghadang mobil itu membuatnya berhenti secara mendadak di tengah jalan. Beruntung dia dapat menghentikannya tepat waktu jika tidak sudah dipastikan namanya akan tersandung masalah.


" Serahkan mobilmu padaku! Aku akan mengembalikannya lagi nanti jika tidak aku akan memberikan sejumlah uang padamu," teriak Raquel dengan lantang dan begitu berani.