
Harapan tidak sesuai dengan kenyataan, bukannya memberikan hukuman pada Raquel sesuai dengan yang diinginkan murid lainnya guru matematika malah memilih duduk di kursinya dan memberikan tatapan dingin berisi peringatan pada semua orang.
"Apa yang kalian tunggu? Cepat bereskan meja dan kursi yang berantakan ini! Rapikan semua seperti semula dan jangan membuat keributan, atau jangan-jangan kalian ingin menunda jam pelajaran saya?" tanyanya dengan raut wajah datar sembari mengetuk meja dengan menggunakan jari telunjuknya.
Semua orang terdiam dengan mulut terbuka lebar serta mata melotot, untuk memastikan pendengaran mereka saling pandang satu sama lain.
"Apa yang kalian tunggu? Kalian ingin saya mengulangi apa yang saya katakan barusan ya?" tanyanya dengan tidak senang.
Tangannya memukul meja hingga suaranya menyebar ke seluruh ruangan dengan cepat, murid laki-laki langsung bergerak cepat mengangkat meja yang jatuh berserakan. Anak perempuan mengambil kursi dan buku yang berserakan, ada juga yang mengambil sapu untuk membersihkan lantai yang kotor.
Keributan terdengar memenuhi seluruh ruangan, semua orang sibuk bekerja berbeda dengan Raquel yang memilih duduk di kursinya. Dia menatap orang-orang yang membersihkan ruangan kamar dengan tangan menopang dagunya, dia juga sudah mengeluarkan buku pelajaran yang akan mereka laksanakan sebentar lagi.
Meja telah selesai dibersihkan, semua orang duduk di kursi masing-masing. Beberapa orang yang tadi disakiti oleh Raquel berbisik satu sama lain dengan pandangan tajam tertuju pada Raquel, mereka seperti sedang merencanakan sesuatu untuk membuat Raquel menyesal.
"Nanti saat jam istirahat datang kita hajar dia tanpa ampun, aku yakin terjadi sesuatu antara dia dan guru matematika. Kalau tidak bagaimana mungkin guru matematika membela dirinya?" Wanita yang tadi kepalanya dilempar pena berbisik dengan tangan terkepal.
"Kau benar, ayo kita berikan pelajaran yang menyenangkan pada anak yang tidak diinginkan itu." Wanita yang teleponnya dirusak Raquel berniat untuk balas dendam.
Dia tersenyum jahat, sudut matanya terus mengarah pada Raquel. Dia sangat ingin menghabisi Raquel saat ini juga karena sudah mempermalukan dirinya dan membuat dia menerima hukuman dan kehilangan harga dirinya.
Pelajaran pun di mulai, semua orang menyimak apa yang diajarkan oleh guru matematika dan dengan cepat menulis di atas kertas apa yang tidak mereka pahami. Semua tatapan tertuju pada papan pelajaran, mereka sibuk mendengarkan penjelasan demi penjelasan rumus yang dan contoh yang diberikan oleh guru matematika.
Pada saat ini Derrick yang tengah berada di ruangan kerjanya mengambil telepon miliknya, dia mencari nomor Raquel.
"Saya sudah menyelesaikan apa yang Anda perintahkan, hasilnya juga sudah keluar." Derrick mengirimkan pesan itu pada Raquel dan dengan cemas menunggu Raquel membalas pesannya.
Raquel merasakan getaran teleponnya, dia langsung mengeluarkan teleponnya untuk mengecek pesan dari siapa itu. Ada senyum menggantung di bibirnya sebelum perlahan dengan begitu cepat, dia menyimpan kembali teleponnya dan melanjutkan mendengar penjelasan sang guru yang terasa sangat membosankan.
"Pak!" panggil Raquel dengan suara datarnya yang khas.
Guru matematika menengok ke belakang, dia menatap Raquel dengan perubahan raut wajah yang begitu kentara.
"Saya izin ke kamar mandi sebentar!" pinta Raquel dengan wajah tidak menunjukkan kebohongan sama sekali.
Raquel berputar-putar mencari tempat yang bagus untuk melarikan diri, dia akhirnya sampai di pagar belakang sekolah yang terbuat dari tembok. Saat akan melompat pagar beberapa anak perempuan datang menghampiri Raquel dan langsung membentuk lingkaran, mereka tersenyum sinis dengan raut wajah menyebalkan yang membuat Raquel menjadi kesal.
"Hei anak tidak tahu diri! Kau masih ingat aku kan?" tanyanya dengan wajah datar dan senyum sinis.
Ya, yang berdiri di depan Raquel saat ini adalah orang yang menyebarkan foto-foto tidak senonoh dengan wajah Raquel sebagai pameran utamanya. Raquel tersenyum kecut dengan wajah masam yang membuat wajahnya kesal, sejujurnya dia ingin segera pergi dari sini namun orang-orang menghalangi langkahnya secara terus-menerus.
"Apalagi yang kau inginkan? Apa hukuman kemarin belum cukup bagi dirimu dan keluargamu? Kau ingin mendapatkan hukuman lain ya?" tanya Raquel dengan tangan terlipat di dada.
Wanita itu tentu saja kesal, dia sudah mendengar cerita semalam dari orang tuanya dan juga kakaknya. Dia sangat marah namun berusaha untuk menahan dirinya namun karena keadaan kakaknya semakin memburuk dia menjadi semakin kesal.
"Kau sudah membuat kami tercoreng dari daftar warisan, apa yang aku lakukan pada dirimu belum seberapa dibandingkan yang telah kau lakukan pada kakak dan ibuku." Wanita itu berteriak dengan penuh semangat mengeluarkan isi hatinya yang terpendam.
"Urusannya denganku apa? Oh ya, apakah kalian sudah menemukan dokter untuk merawat lukanya? Jangan biarkan lama-lama atau lukanya akan semakin parah, bisa-bisa dia tidak mendapatkan jodoh." Raquel mengatakan itu dengan santai tanpa rasa bersalah sama sekali.
Wajah wanita itu memerah dengan tangan terkepal, dia sangat marah dan ingin memakan Raquel hidup-hidup sekarang.
"Kau kan yang sudah merusak tubuhnya? Apa yang kau lakukan? Kenapa dia bisa seperti itu? Racun apa yang kau berikan padanya?" Wanita itu maju ke depan berniat untuk memegang bahu Raquel namun Raquel langsung menghindar ke samping.
Dia hampir saja tergelincir, dengan cepat dia berbalik menatap Raquel dengan wajah merah padam.
"Apa matamu rusak? Atau kau bisa membuktikan apa yang sudah aku lakukan padanya? Jangan menyebar gosip sembarangan jika kau tidak ingin dituntut oleh seseorang," ejek Raquel dengan begitu berani.
Senyum dengan dagu terangkat itu menjelaskan semua isi hatinya, hal ini tentu saja membuat si wanita kesal.
"Kau, apa yang kalian tunggu ha? Cepagt habisi dia! Berikan dia pelajaran yang tidak pernah dilupakannya seumur hidup ini," ujar wanita itu dengan teriakan keras yang penuh semangat.
Raquel tertawa, beberapa orang yang tadi sudah diberi pelajaran di kelasnya tentu saja langsung mundur dengan keringat dingin mengalir di tubuhnya. Mereka jelas takut dengan gerakan tangan Raquel yang lincah dan tepat sasaran, hanya mereka yang tidak ikut serta yang berani maju mengepung Raquel.
"Kau pasti puas kan? Kau pasti senang sainganmu berkurang, kau hanya beruntung saja kali ini. Andai saja aku datang kemarin maka sudah dipastikan kau akan terusir dari keluarga." Wanita itu percaya diri dengan penampilannya dan kecerdasan otaknya.
"Cih, semuanya akan tetap sama. Kau dan keluargamu tidak akan pernah menang melawan diriku, bukankah aku sudah mengatakan kalau aku bukan lagi Raquel yah dulu?" tanya Raquel dengan dagu terangkat.