
Nenek memandang semua orang dan tersenyum dengan begitu manisnya, dia terbatuk beberapa kali namun masih berusaha untuk berdiri dengan tegak. Matanya melirik pada Raquel yang sibuk bermain dengan kukunya, setelah membuat keributan besar dia tampak tidak merasa bersalah.
Kakek memegang nenek dengan erat, dia masih setia menemani istrinya di ruangan itu.
"Warisan sudah dibagikan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kalian sudah mendapatkan pembagian yang sesuai dengan hak kalian," ujar nenek dengan begitu lirih.
Raut wajahnya berubah, dia tidak seperti semula lagi. Matanya terlihat lelah dengan wajah sayu, dia seperti tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Seseorang yang berada di kerumunan terkejut, dia maju ke depan dengan wajah tidak senang lalu melirik Raquel yang terus menguap. Ada sisa air mata yang menggantung di pelupuk matanya, dia tahu pasti dirinya akan dibawa serta lagi.
"Apakah dia juga mendapatkan pembagian? Apa anak haram berhak untuk itu? Bukankah ini sangat aneh dan lucu?" Pria itu bertanya dengan raut wajah tidak suka.
Apalagi dari berita yang dia dengar kehidupan Raquel sangat kacau dan tidak terurus, Raquel terlalu beruntung untuk bisa mendapatkan semua itu tanpa melakukan usaha apa pun.
"Masalahnya denganmu apa? Aku tidak akan mengambil yang bukan hakku, aku hanya akan meraih kembali apa yang sejak awal sudah menjadi milikku. Selain itu aku tidak butuh," jawab Raquel dengan santai dan tenang.
Dia menatap pria itu tajam dan mendominasi, tatapan itu membuat pria itu ketakutan dan langsung melangkah mundur dengan wajah memucat. Aura yang diberikan Raquel benar-benar sangat tidak menyenangkan, dia tidak bisa menahan kakinya untuk tidak bergetar.
"K-k-kau, beraninya kau menjawab ucapanku! Dasar anak tidak tahu diri," celoteh pria itu bersembunyi di belakang tetua.
Kekejaman yang melintas di kedalaman mata Raquel membuatnya mati kutu, apalagi Raquel bahkan sudah berhasil menyingkirkan ibu dan anak yang bahkan memiliki kekuasaan dan kemampuan.
"Memangnya kau siapa? Apa kau memberiku makan? Tidak kan? Kenapa aku harus peduli dengan dirimu? Apa yang perlu aku takutkan?" tanya Raquel lagi dengan mulut mencebik kesal.
Beruntung sejak tadi kakek terus memegang nenek sehingga tubuhnya tidak terhempas ke lantai, dengan cepat kakek membaringkan tubuh nenek di sofa panjang yang ada di sana. Dia melihat sekeliling ruangan dengan raut wajah panik, bibir nenek sudah begitu pucat, wajahnya kehilangan rona dengan napas yang terlihat begitu lemah.
"Siapa di sini yang pernah belajar kedokteran?" tanya Kakek panik sembari mengecup dan mengusap tangan nenek yang perlahan berubah dingin.
Kekhawatiran tertulis jelas di wajahnya yang tadi menunjukkan kelicikan dan kejahatan, kakek memandang wanita yang sudah menemaninya selama beberapa puluh tahun itu. Kecemasan di wajahnya membuat Raquel cukup percaya kalau cinta memang mampu mengubah seseorang.
Suasana di sekitar begitu hening, tidak ada yang mampu memberikan jawaban, mereka semua diam membisu dan tidak bisa mengatakan apa pun. Terkadang ada yang saling lirik seolah menyuruh salah satu dari mereka untuk maju, namun di sana memang tidak ada seorang dokter pun.
"Pergi dan carilah dokter yang hebat dan berpengalaman! Berapa pun yang yang dia minta akan aku berikan asal dia bisa membuat istriku bangun dari tidurnya," perintah kakek dengan suara keras menggelegar.
Beberapa orang langsung berlari cepat ke depan, mereka mencoba melakukan yang terbaik untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh kakek. Melihat ekspresi wajah nenek yang kesakitan Raquel yang tadinya cuek menjadi iba, di bawah tatapan semua orang dia melangkah ke depan.
"Biarkan aku mencobanya!" ujar Raquel dengan raut wajah meyakinkan.
"Apa kau bisa?" tanya yang lain dengan ragu begitu juga dengan kakak-kakaknya yang lain.
Mereka memang tidak terlalu dekat dengan Raquel tapi mereka yakin Raquel tidak pernah belajar ilmu kedokteran, hanya Raphael yang menunjukkan wajah biasa saja.
"Jika aku tidak memeriksanya bagaimana aku bisa tahu seperti apa keadaannya? Jangan meremehkan orang lain di saat kau sendiri tidak mampu dan tidak berniat untuk berusaha," ejek Raquel dengan mata memutar malas.
Di sisi lain, kakek memberi ruang untuk Raquel maju dan mencoba. Dia tahu di sini tidak ada dokter sama sekali yang bisa membantu mereka.