The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
23. Bertemu Lagi



Raquel berhenti beberapa saat, dia hendak pergi meninggalkan tempat itu. Tapi memikirkan betapa menderitanya tubuh ini dulu dia berbalik lagi dengan mata memerah dan tangan terkepal, dia merasa pelajaran yang diberikan pada kedua orang di depannya belum sebanding dengan apa yang pernah dia jalani.


Tendangan keras mendarat di tubuh Rico, hal ini lebih kuat dari tendangan pertama yang dia berikan tadi. Di dalam tendangan kali ini ada perasaan kuat dari yang namanya sakit hati dan kebencian, rasa penyesalan yang hebat serta amarah yang menggebu-gebu.


"Kenapa?" Satu pertanyaan dilontarkan oleh Raquel tanpa bisa dia cegah.


Ini jelas bukan keinginannya melainkan berasal dari hati Raquel yang terdalam, dia sepertinya bertanya alasan Rico memilih Selena dibandingkan dirinya yang jelas sudah berteman sedari kecil dengannya.


"Kau pantas mendapatkan ini, ini belum sebanding dengan apa yang sudah aku terima." Raquel terus meluapkan kekesalannya pada Rico.


Puas dengan keadaan Rico yang tidak bisa bangun lagi Raquel berjalan mendekat ke arah Selena, mata cerahnya menatap Selena intens bak seekor elang yang sedang menunggu mangsanya lengah.


Selena bergerak mundur, dia menarik pantatnya agar bisa menjauh dari Raquel yang seperti sedang kerasukan.


"Kau, kau penyebab semua ini terjadi." Raquel berbisik di telinga Selena dengan senyum menakutkan yang membuat bulu kuduk Selena berdiri tegak.


Ditamparnya lagi Selena dengan lebih kuat, dipaksanya Selena berdiri. Raquel ingin Selena mendapatkan luka yang sama seperti yang dia terima beberapa hari yang lalu, Selena merintih kesakitan saat rambutnya ditarik oleh Raquel.


"Sakit? Aku lebih sakit dari ini kemarin, darah mengucur deras dari tubuhku. Aku hampir mati di tangan mereka dan kau pasti bahagia dengan itu kan? Aku ingin kau merasakan hal yang sama denganku kemarin tapi saat ini belum tepat waktunya," ungkap Raquel sembari melepaskan semua beban di hatinya.


Raphael tersenyum kecil melihat itu, dia merasa apa yang dilakukan oleh Raquel sangat lucu di matanya.


Puas dengan tindakannya Raquel berlalu pergi meninggalkan kerumunan yang begitu heboh disertai kacau itu, dia mendengkus sebelum pergi bahka menyempatkan diri untuk meludah menghina pasangan drama di depannya.


"Jika kita bertemu lagi kau harus mengambil jalan memutar atau kau akan menerima akibat yang lebih pedih dari ini. Camkan itu!" tegas Raquel dengan mata melotot.


Raquel melangkah meninggalkan tempat itu diikuti oleh Raphael, setelah agak menjauh Raquel berhenti lalu berbalik.


"Maaf atas apa yang kau lihat tadi! Oh ya, kenapa kau di sini? Apakah ada masalah atau kau masih membutuhkan bantuanku?" Raquel bertanya dengan mata menyipit.


"Aku ada urusan di depan, aku melihat orang ribut-ribut dan berkumpul, aku menjadi penasaran dan mendekat ternyata itu malah dirimu." Raphael menjawab dengan santai seolah dia memang kebetulan hanya lewat saja di sana.


'Tidak mungkin aku mengatakan padanya aku sengaja ke sini untuk mencarinya dan berniat untuk membantu dirinya keluar dari masalah.' Raphael berbicara di dalam hati masih dengan tampang datar miliknya.


Raquel menggerakkan mulutnya seperti sedang mengatakan huruf o.


"Aku tidak suka berhutang Budi pada seseorang jadi ini sebagai imbalannya," ujar Raquel sembari menyerahkan setumpuk permen pada Raphael.


"Terima kasih, oh ya, kau mau ikut makan denganku? Kebetulan tempat yang aku tuju adalah sebuah restoran yang menjauh makanan laut, toko ini terkenal di ibukota dan aku yakin kau pasti akan suka dengan rasanya." Raphael mengajak Raquel untuk ikut makan bersama dirinya.


"Maaf tapi hari ini aku tidak bisa, aku sudah ada janji dengan kakakku. Lain kali saja, semoga hari itu aku tidak berhalangan." Raquel menolak dengan cepat tawaran Raphael karena dirinya akan pulang cepat hari ini.


Raphael tampak kecewa namun tetap memberikan senyum, dia mengangguk setuju sembari melihat ke arah Raquel yang berlalu pergi. Dia tidak beranjak dari tempat itu sebelum melihat punggung Raquel menghilang, setelah Raquel tidak terlihat lagi dia langsung pergi menjauh juga.


Raquel berjalan menyusuri lorong sempit yang digunakan sebagai jalan pintas, dia akan berhenti sejenak di toko yang ada di tepi jalan untuk membeli minuman dingin menghalau rasa haus yang datang melanda.


"Ah, hari-hari seperti ini cukup melelahkan. Kenapa juga aku harus masuk ke tubuh ini? Apa tidak ada tubuh lain ya? Tubuh ini mengalami nasib tragis dan melelahkan, semua orang hanya bisa menyakiti dirinya tanpa memberikan perlindungan." Raquel mendesah.


Cukup kecewa dengan keadaannya sekarang, Raquel terlalu lelah dengan keadaan ini. Dia terus melangkah menuju ke rumah mengabaikan hiruk-pikuk lalu lalang orang maupun kendaraan.


Raquel menghitung dengan jari orang-orang yang sudah menyakiti dirinya, dia menandai orang-orang itu berniat untuk membalaskan dendam suatu hari nanti. Rasa sakit ini harus dibalaskan pada orang-orang itu, Raquel mengingat kehidupannya yang dahulu.


Dia mendapatkan semua fasilitas terbaik dan juga pendidikan terbaik. Dia mendapatkan perlindungan dan kasih sayang yang luar biasa, dia tidak perlu mengemis dan memohon sesuatu seperti yang didapatkan tubuh ini.


"Hah," desah Raquel.


Kakinya terus melangkah menuju ke rumah yang dia tempati, dia menendang batu-batu kecil yang menghalangi jalannya.


Kadang dia akan memetik bunga ataupun apa saja yang dia lihat untuk menghalau rasa bosan yang datang. Pada akhirnya dia menapakkan kakinya di rumah, dia melirik segerombolan orang dengan pakaian hitam yang tengah berjaga.


Raquel memasuki rumah dengan santai tidak sedikit pun merasa terintimidasi dengan keberadaan orang-orang beraura suram dan dingin itu. Di dalam ruangan juga ada beberapa orang yang tengah berjaga, ditatapnya orang-orang itu dengan alis terangkat.


Di sofa ada kakaknya yang sedang duduk, pria tampan dengan aura bangsawan itu melirik Raquel dengan pandangan dingin yang membuat Raquel sedikit takut.


Raquel tidak tahu harus mengatakan apa, dia mencoba mengingat isi diary dengan cermat untuk mengetahui seperti apa sikap kakaknya yang ini.


Raquel meletakkan tasnya di sofa, dia ikut duduk di depan sang kakak agar mereka bisa berbicara dengan serius dan benar. Pria itu menatap Raquel dalam dan lama, hal ini membuat suasana tidak menyenangkan.


Raquel enggak untuk memuoia percakapan karena tidak tahu harus membahas apa, yang terjadi hanyalah saling pandang tanpa percakapan. Pengasuh yang selama ini merawat Raquel berdoa di dalam hati, dia takut rahasianya akan dibongkar oleh Raquel dan dia akan kehilangan pekerjaannya.


Bekerja di sini gajinya cukup besar daripada di tempat lain dan jujur saja dia tidak sanggup untuk kehilangan pekerjaan ini.


"Kenapa kau meninggalkan sekolah hari ini?" tanya kakaknya datar. "Ke mana kau pergi seharian ini dan baru pulang sekarang?"