
Raquel yang terus dibicarakan oleh Rajendra merasa terganggu dan akhirnya menoleh ke sana, Yeni yang melihat itu langsung meraih tangan Rajendra dan dengan sengaja mengangkat tangan itu untuk dilihat oleh Raquel.
'Heh, kau pasti kesal kan kalau aku pamer seperti ini. Aku memiliki dukungan sedangkan kau sendirian di sini,' ejek Yeni di dalam hati.
Dan sebenarnya Raquel tahu isi hati Yeni karena semua itu jelas terlihat dari wajahnya, senyum sombong dengan dagu terangkat dan sudut mata melengkung menjelaskan bahwa hatinya sedang tertawa gembira saat ini.
Yeni dengan sengaja meraba-raba bagian pergelangan tangan Rajendra dia sepertinya juga ingin pamer dan memberitahu Raquel kalau dirinya belajar ilmu kedokteran. Cara tubuh Yeni bergerak yang dibuat seanggun mungkin malah terlihat aneh dan lucu di mata Raquel.
Rajendra yang melihat itu merasakan firasat yang buruk, dia tahu kalau penyakit nenek bukanlah sesuatu yang biasa ditemui oleh Yeni di luar sana.
"Kakak tolong percayalah padaku! Adikku yakin diriku bisa menyembuhkan penyakit nenek, kau tahu kan aku sudah belajar ilmu kedokteran di sebuah kampus yang bagus dan juga dengan guru yang hebat." Yeni membujuk Rajendra untuk percaya pada dirinya.
Dia juga sengaja mengeraskan suaranya agar bisa didengar oleh Raquel, sayangnya orang yang ingin disindirnya malah terlihat abai. Raquel terus berjalan ke depan meski suara di belakangnya makin menjadi-jadi, Yeni terus meyakinkan Rajendra dengan rayuan manisnya.
"Ayolah Kak! Biarkan aku membuktikan diri di depan Nenek, aku ingin membuat nenek terkesan padaku. Kau tahu kan untuk datang kemari aku sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik dari yang baik, Jangan membuatku patah semangat!" Yeni menggoyang-goyang tangan Rajendra yang dipegangnya.
Dia berusaha bersikap manja dan imut di mana biasanya saat di rumah Jika dia sudah seperti ini semua orang akan menuruti keinginannya, tidak akan ada bantahan dan dia selalu menang. Rajendra membuang napas kasar dan akhirnya menganggukkan kepala pertanda setuju akan keinginan Yeni.
"Kakak tenang saja aku pasti akan membuat nenek menyukai diriku, Aku sungguh tidak akan menyia-nyiakan kesempatan besar yang sudah Kakak berikan padaku. Aku memiliki Kakak terbaik di dunia ini," puji Yeni secara berlebihan.
'Kita lihat apakah gadis ini masih bisa sombong saat melihat dengan mata kepalanya sendiri aku berhasil mendiagnosis penyakit Nenek. Aku akan memanfaatkan hal ini untuk membuat nenek tidak menyukainya dan dia tidak diizinkan untuk datang kemari lagi.' rencana licik sudah tersusun rapi di benaknya.
Setelah Raquel masuk dia melihat nenek terbaring di atas tempat tidur dengan wajah pucat, meski tidak lemah waktu itu tapi matanya jelas sayu dan tidak bersemangat.
Melihat kedatangan Raquel ke sana nenek tersenyum hangat, dia berusaha memperbaiki posisi duduknya walau bibirnya menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan.
Di dalam ruangan ternyata bukan hanya nenek seorang, ada beberapa kerabat yang mengelilinginya dan mengajak nenek untuk berbicara. Suasana di dalam ruangan cukup hangat walau aku akan merasa tidak nyaman dengan adanya banyak orang di sana, melihat ada orang yang datang semua mata tertuju ke arah Raquel dengan rasa ingin tahu yang begitu tinggi.
Raquel membungkukkan badannya sedikit sebagai bentuk formalitas saat bertemu dengan para tetua berbeda dengan Yeni yang langsung berlari masuk mendekati nenek dengan bibir menunjukkan senyum yang luar biasa bahagia. Seolah-olah mereka sudah sangat akrab, Yeni begitu ceria.
"Halo, Nenek! Aku datang kemari dengan membawakan nenek banyak sekali hadiah, karena aku tidak tahu apa yang nenek sukai makanya aku bawa semuanya saja ke sini." Yeni langsung menyebutkan perihal oleh-oleh yang dibawanya dan dengan sengaja meninggikan suara agar terdengar oleh semua orang.
Nenek menganggukan kepalanya,"terima kasih!" Hanya dua kata itu yang keluar dari bibir nenek yang itu juga sangat perlahan.