
Raphael melenggang dengan santai tanpa rasa bersalah di wajahnya, dia bahkan tidak merasa sudah membunuh satu nyawa. Dia melewati Yenny dan senagaja menyenggol bahu Yenny dengan cukup keras membuat Yenny mendelik tidak senang.
"Wah, bukankah kalian tadi begitu penuh semangat? Kenapa sekarang diam?" Raphael bertanya dengan wajah menengok ke segala arah.
"Kau, tadi aku melihatmu sangat antusias menyebutkan kejelekan yang telah dia lakukan. Apa kau melihatnya secara langsung?" tunjuk Raphael pada seorang wanita yang tampaknya seumuran dengan Yenny.
Wanita itu melirik Yenny, dia diminta oleh Yenny tadi melalui pesan untuk memojokkan Raquel. Ada imbalan yang akan Yenny berikan, apalagi jika semua rencana Yenny malam ini berhasil.
Yenny memberikan kode lewat mata yang langsung dimengerti oleh wanita itu, dia berdiri dengan tubuh tegap menatap Raphael meski keringat dingin menetes di pipinya.
"Memang benar dia seperti itu, anak-anak satu sekolah dengannya juga tahu apa yang sudah dia lakukan. Kenapa kau membela dirinya jelas-jelas dia sudah merusak nama baik keluargamu, gadis seperti dia tidak pantas untuk mendapatkan dukungan." Wanita itu berbicara dengan napas memburu.
Saat mendengar itu pendukung Yenny langsung menganggukkan kepala, mereka setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh si wanita.
Di lain sisi, ada beberapa orang yang datang ke tempat lokasi Raquel membunuh tadi. Mereka terkejut melihat kondisi mayat yang tergeletak apalagi saat melihat bekas luka yang tercipta di leher setiap orang, rambut-rambut halus mereka berdiri, mereka bergidik dengan wajah menunjukkan perubahan yang jelas.
Luka menganga yang ada di leher semua orang menjelaskan kalau mereka mati hanya dalam satu serangan Sajam, tidak ada bukti yang mereka temukan selain daun yang berdarah.
"Dengan apa gadis itu membunuh mereka? Periksa tempat ini? Temukan senjata yang dia pakai untuk menjadi barang bukti, aku tidak percaya dia membunuh mereka semua dengan daun ini." Pria yang tampak seperti pemimpin kelompok itu memberikan perintah.
Satu-persatu semak-semak belukar, rumput, pot bunga dan pohon-pohon yang berjejer di tempat itu diperiksa dengan begitu teliti. Mereka bahkan memeriksa selokan yang ada di dekat sana namun tidak menemukan apa yang mereka cari.
Semua orang berkumpul kembali di tempat semula didekat para mayat itu dengan kepala menggeleng dan wajah kecewa.
"Kami tidak menemukan apa pun untuk menjerat dirinya, jika kita menggunakan daun ini sebagai alat bukti pasti tidak akan ada yang percaya dan menuduh kita semua gila." Pria itu meletakkan jari telunjuknya di bibir.
Dia tampak berpikir, dia menatap mayat-mayat yang tergeletak.
"Periksa mereka, coba lihat senjata apa yang mereka bawa. Kita bisa menggunakan itu sebagai barang bukti," ujar pria itu.
Dia merasa ini adalah ide yang tepat, mereka semua mulai memeriksa setiap tubuh itu tapi tidak menemukan apa yang mereka inginkan.
"Hanya ada tali dan pisau ini bos, tapi mereka tidak memiliki sidik jari gadis itu. Apa menurutmu dia membuang senjata itu jauh dari sini?" tanya salah satu pria dengan raut wajah penasaran.
Luka di leher setiap mayat jelas rapi dan terlatih, sedangkan mereka tahu Raquel tidak memiliki kemampuan apa pun. Jangankan untuk beladiri, untuk belajar biasa saja dia sangat malas.
Nilainya terlalu jelek, reputasinya sangat buruk dan tidak ada yang mau berteman dengannya. Dia sering menjadi korban perundungan, bahkan terakhir kali nyawanya hampir melayang di tangan gadis-gadis nakal itu.
"Cari lagi di sekitar sini! Aku yakin dia menggunakan sesuatu, bisa jadi itu pecahan kata atau pisau kecil yang susah untuk ditemukan sebagai senjata rahasia." Sekali lagi dia memberikan perintah yang langsung diangguki oleh semua orang.
Mereka mencari apa yang diminta, walau sudah menyisiri tempat itu mereka tetap tidak menemukan apa yang dicari. Tanpa disadari oleh orang-orang itu ada mata yang melihat gerakan mereka, apa yang mereka lakukan tengah diawasi dengan teliti tanpa terlewatkan satupun.
Di tempat jamuan makan Yenny tampak tidak berniat untuk melepaskan Raquel, dia terus menyebutkan hal-hal buruk tentang Raquel demi mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitar.
"Apa yang kalian tunggu? Wanita kotor dan tidak memiliki otak ini tidak layak di sini, usir dia dari sini karena dia hanya akan mengotori tempat ini saja." Yenny menghasut para tetua yang datang untuk mengusir Raquel dari sana.
Seperti yang Yenny lakukan, para tetua mengangguk setuju. Mereka berdiskusi satu sama lain diiringi anggukan kepala, Raquel masih berdiri dengan tenang. Dia juga sudah bosan dengan acara ini dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
"Wah ini sungguh sangat hebat," ujar Raphael sembari bertepuk tangan dengan wajah menunjukkan sebuah keterkejutan.
"Kalian hanya bisa berbicara buruk di hadapan seorang gadis kecil, berapa umur kalian semua tahun ini? Apa kalian tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah? Apakah aku perlu membantu kalian semua?" tanya Raphael dengan senyum manis.
Semua orang terdiam, tidak ada yang berani membantah ucapannya. Bahkan Yenny sendiri tidak berani, Yenny mengepalkan tangannya. Jika ini di negeri dongeng maka semua orang dapat melihat asap putih keluar dari kepalanya, bibirnya mengatup rapat dengan gigi menyatu.
"Ke mana kau sebelum masuk ke jamuan makan ini?" Yenny maju selangkah ke depan, dia tersenyum manis pada Raquel dengan mata bersinar begitu cerahnya.
Yenny tampaknya sudah mengatur sesuatu dengan serapi mungkin dan berpikir kalau rencana yang dia susun sudah sangat rapi dan tidak akan berantakan. Dia melihat pada asisten rumah tangga yang tadi melaporkan semua orang-orang itu, ada sebuah kode yang diberikan oleh asisten itu yang berhasil menerbitkan senyum cerah di bibir Yenny.
Raphael ikut tersenyum, dia tidak memberikan komentar apa pun dan lebih ingin melihat seperti apa reaksi Raquel. Tapi orang yang dituduh malah terlihat bosan dan mengantuk, dia berdiri dengan asal-asalan terkesan malas.
Dia juga melirik ekspresi para tetua dan tamu yang datang, dia yakin banyak rekan Yenny di sini. Dan dia juga ingin tahu hal besar apa yang Yenny rencanakan dengan membawa orang sebanyak itu ke acara seperti ini.
Raphael menunggu kejutan dari Yenny sekaligus ingin melihat seperti apa permainan Raquel untuk menghadapi Yenny.
"Ah aku?" tunjuk Raquel ke arah hidungnya.
Yenny mengangguk cepat, dia ingin melihat reaksi dan raut wajah Raquel namun Raquel terlalu pintar menyembunyikan ekspresinya sekarang.
"Ya, kau ke mana tadi? Kau tidak melakukan hal-hal aneh kan? Jangan-jangan kau melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan!" tuduh Yenny dengan senyum lebar memikat.