The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
51. Pulang



Raquel tersenyum puas atas hasil yang diperolehnya, dia senang karena telah berhasil membuat semua orang kagum pada dirinya. Ini dilakukan untuk mendapatkan rasa hormat dan juga kepercayaan, dia akan mengubah pandangan semua orang padanya sedikit demi sedikit.


Nama buruk yang sudah terpasang pada dirinya sejak lama tidak bisa diubah begitu saja, perlahan dan butuh waktu namun dia akan terus berusaha hingga semua orang memberikan rasa hormat itu tanpa diminta.


Raquel mundur dan kembali berbaur dengan semua orang sedangkan kakek begitu penuh semangat menggenggam tangan istrinya, rasa cinta yang begitu meluap-luap membuatnya tampak lebih muda dari yang biasanya.


"Kau hebat! Kau harus berbuat lebih baik lagi agar semua orang percaya padamu," ujar Richard bangga menepuk bahu Raquel pelan takut menyakiti Raquel.


Raquel tersenyum, "aku harus melakukan ini, Kak! Aku tidak ingin orang-orang mengenalku karena sifat yang tidak pernah mereka lihat langsung. Aku akan membuat mereka kagum padaku dan memujaku," ujar Raquel bangga sembari menepuk dadanya ringan.


Richard mengangguk mengiyakan ucapan adiknya itu, Raffertha di sisi lain menatap wajah cantik Raquel lama. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu namun memilih untuk diam, dia ikut senang jika Raquel senang seperti ini.


"Kakek! Nenek! Aku izin pamit pulang lebih dahulu, ada sesuatu yang ingin aku kerjakan." Raquel pamit pulang sembari membungkukkan tubuhnya sedikit.


Kakek yang tadinya tengah berbahagia langsung mengubah raut wajahnya, dia melihat Raquel lama.


"Kenapa terburu-buru? Kita belum makan malam, apa yang perlu kau kerjakan? Lebih baik di sini saja, kita dapat berkumpul bersama-sama." Kakek langsung menahan Raquel untuk tidak pergi.


"Ini semua karena ulah anak haram itu, Bu! Jika bukan karena dia semua rencana yang kita susun pasti sudah berhasil, dia penyebab kegagalan kita hari ini. Lihat saja! Aku akan membalas semua yang telah dia lakukan pada kita, aku tidak akan mengampuninya." Reina mengepalkan tangannya.


Yenny mendengkus dan tertawa, "dia pikir dia mampu melawan kita, heh, biarkan dia sombong untuk sementara waktu setelah itu kita hempaskan dia dengan sangat kejam dan tanpa ampun. Dia sudah menghancurkan nama baik keluarga kita dan merusak citra baik yang sudah aku buat selama bertahun-tahun."


Yenny mengepalkan tangannya marah, dia diusir secara tidak terhormat. Dia dilecehkan dan dipandang rendah dan sekarang dia dibenci oleh kakek, sudah jelas dia tidak akan mendapatkan harta warisan sama sekali.


"Bagaimana dengan wajahku, Bu? Apakah ini bisa disembuhkan? Aku yakin dia yang sudah merusak wajahku, walau aku tidak tahu bagaimana dia melakukan ini tapi aku yakin memang dia yang telah merusak wajahku." Reina menyentuh wajahnya yang rusak.


Dia menangis keras saat melihat bintik-bintik dan bengkak yang tersebar di seluruh tubuhnya, matanya memancarkan dendam yang begitu besar terhadap Raquel.


Kembali ke tempat jamuan makan, Raquel memandang kakek dengan raut wajah bersalah.


"Maaf Kek tapi aku tidak bisa, aku benar-benar harus pergi. Urusan ini tidak bisa aku tunda lagi, aku pamit pergi pulang dulu, Kek! Selamat tinggal semuanya!" pamit Raquel dengan cepat.


Dia melangkah keluar rumah dengan cepat, Raquel tentu saja menolak semua itu karena dia sudah tidak tahan berada di sana lagi. Raphael mengejar dari belakang, dia dengan cepat menahan tangan Raquel menyebabkan Raquel tidak bisa pergi ke mana-mana lagi.