
Raquel memasang sabuk pengaman, dia langsung menekan pedal gas tanpa melihat apakah pria yang dilemparnya baik-baik saja atau tidak. Raquel mengendarai mobil itu dengan kecepatan penuh, gerakan tangannya serta cara dia melakukan kendaraan jelas seperti orang yang sudah sangat berpengalaman.
"Hei! Kalau kau ingin mati jangan bawa orang lain untuk ikut bersamamu, bisakah kau menjalankannya sedikit lebih lambat? Aku sungguh tidak ingin mati muda," ujar Rajendra berusaha untuk duduk dengan baik.
Dia memakai sabuk pengaman, tubuhnya ikut bergerak saat mobil dibelokkan oleh Raquel. Bahkan ditikungan Raquel tidak menurunkan kecepatannya, beruntung tidak ada pengemudi lain di depan sehingga sesuatu yang tidak berbahaya tidak terjadi.
Rajendra mengusap dadanya, dia mengembuskan napas kasar saat melihat Raquel tidak menurunkan kecepatannya sedikitpun. Umpatan, cacian dan makian terdengar jelas memasuki telinga Rajendra yang berasal dari pengemudi lain yang mobilnya hampir kena.
"Tenanglah! Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan menyelamatkan dirimu kan? Kau duduk manis saja dan lihat apa yang akan aku lakukan," ujar Raquel dengan senyum manis tapi terlihat menakutkan.
Dia terus memacu kendaraan itu hingga hampir mencapai kaki gunung, di bawah sudah bersiap-siap beberapa orang yang tampaknya memiliki rencana yang buruk. Beberapa paku dengan kilau yang indah berserakan di atas aspal.
"Bagaimana persiapannya? Apakah sudah selesai? Jangan sampai saat Rajendra datang perangkap maut yang kita siapkan belum juga terpasang, aku tidak mau kesempatan emas ini hilang begitu saja." Seorang pria dengan rambut kuning bertanya pada bawahannya yang masih memegang sekotak paku di tangannya.
Bawahan pria itu mengangkat tangan membentuk tanda ok, dia tersenyum dengan mata menyipit. "Semua sudah selesai, Tuan! Saat dia melintas dengan kecepatan penuh nanti sudah dapat dipastikan dia akan mati."
Mereka tertawa saat mendengar apa yang baru saja dia ucapkan, mereka menatap jauh ke depan berharap sebentar lagi Rajendra akan sampai.
Rajendra menelan ludahnya, dia tidak mengira kalau salah satu anggota akan membunuh dirinya. Padahal mereka tidak memiliki dendam ataupun kebencian satu sama lain, dia tidak pernah melakukan sesuatu yang dapat menyakiti sesama anggota.
Tadi saat akan mencapai turunan Raquel memberhentikan mobil yang dikendarainya, dia mengajak Rayendra untuk ikut dengannya. Awalnya dia tidak mau ikut namun Raquel terus memaksa hingga mau tidak mau dia mengikuti di belakang.
Saat sampai di tempat persembunyian ini dia mendengar semua percakapan orang-orang ini, dia benar-benar tidak mengira akan ada seseorang yang dia percaya berniat untuk membunuh dirinya.
"Maafkan aku yang sudah meragukan niat baikmu, berkat dirimu aku tidak jadi mati." Rajendra menurunkan egonya dan langsung meminta maaf pada Raquel.
Dia pikir Raquel hanya membual tapi dia tanh sudah salah menaruh kepercayaan, Raquel yang sejak tadi bersembunyi tersenyum senang.
Dia langsung berdiri dan melompat keluar, dalam satu serangan dia langsung berhasil menjatuhkan pria berambut kuning itu. Matanya membelalak kaget saat melihat tiba-tiba saja ada yang muncul dari balik semak-semak.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyerang diriku ha? Kita tidak memiliki urusan dan tidak pernah bersinggungan, siapa yang memerintahkan dirimu untuk menyerang diriku ha?" tanya pria berambut kuning tidak terima.
Dia memegang perutnya yang terasa sakit akibat serangan mendadak ini, Raquel mengangkat bahu. Dia mulai menjatuhkan anak buah pria berambut kuning dengan santainya dan hanya menyisakan pria berambut kuning saja dan itu dalam keadaan babak belur.