The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
45. Meracuni Nenek



Yenny merasa bangga atas rencana utama yang berhasil disusunnya, dia tersenyum gembira dengan dada membusung serta dagu terangkat tinggi. Asisten pribadi kakek yang tertangkap memberontak, dia berusaha melepaskan diri.


Tangannya meronta-ronta dan kakinya menendang di udara berusaha untuk lepas dari kekangan yang menahan dirinya.


"Lepaskan aku! Aku akan membunuhmu," desis pria itu dengan napas kasar.


Yenny mengenang kejadian beberapa hari yang lalu, saat dirinya merencanakan semua ini. Malam itu dia dan Reina beserta orang kepercayaannya duduk di ruang kerja membahas apa yang harus dilakukan.


"Ergo baru saja memberitahu diriku kalau kakek dan nenekmu mengadakan jamuan makan sekaligus mengumumkan pewaris, kita harus memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan hak kita." Yenny duduk dengan tangan menampung dagunya.


Dia memandang Reina dan orang kepercayaannya silih berganti dengan senyum dan raut wajah yang menunjukkan isi pikirannya saat ini.


"Maksud Ibu? Apakah ibu merencanakan pemberontakan? Menurutku itu bagus, Ibu sudah memperjuangkan keluarga itu tapi mereka tidak pernah menganggap Ibu penting." Reina duduk bersandar di sofa menatap ini dengan senyum yang sama.


Tangan kanan Yenny mengangguk tanda paham, "itu ide yang bagus, sudah saatnya tampuk kekuasaan dipindahkan pada Anda Nyonya! Apa yang Anda perbuat sudah lebih dari cukup tapi Anda sama sekali tidak dihargai."


Tangan kananyanya menghasut Yenny untuk melakukan kudeta.


"Awalnya kita datang seperti tamu biasa, kita campurkan sesuatu ke dalam minuman Nyonya tua sebelum dia mengumumkan siapa pewaris lalu memaksa mereka untuk menandatangani surat pengalihan harta warisan Dnegan anak buah yang Anda miliki." Anak buahnya itu memberikan ide yang sangat menarik dan patut untuk diacungi jempol.


Yenny tersadar dari lamunannya, dia melangkah ke tengah-tengah lingkaran agar bisa dilihat oleh semua orang.


"Kau sudah tua, Ayah! Sudah saatnya kepemimpinan dialihkan pada yang lain, kau hanya perlu duduk diam di rumah dan biarkan aku mengerjakan sisanya." Yenny meminta kakek menyerahkan tampuk kekuasaan kepada dirinya.


Hal yang diinginkan dan diincar oleh semua orang, kakek geram sekaligus marah mendengar ocehan Yenny.


"Tidak, jangan harap kau bisa mendapatkan semua itu. Aku tidak akan menyerahkannya padamu," tolak kakek cepat tanpa berkompromi.


Yenny terkejut mendengar penolakan ayahnya, matanya melotot tidak senang dengan wajah perlahan menunjukkan perubahan yang begitu besar.


Reina yang tadinya terlihat takut langsung melangkah maju dan tertawa, wajah menyedihkan miliknya menghilang berganti dengan wajah percaya diri.


"Tapi maaf Kek! Aku sudah menambahkan sesuatu pada makanan Nenek, kalau kau ingin Nenek mendapatkan penawarnya maka kumpulkan semua orang di sini dan umumkan kami sebagai pewaris keluarga." Reina tertawa dengan penuh semangat.


Dia mengangkat sesuatu yang sejak tadi dipegangnya menggoyang benda itu beberapa kali menunjukkan pada semua orang kalau mereka berkuasa kali ini. Mata semua orang melotot melihat betapa tersusun rapinya rencana Yenny dan beraninya mereka bermain-main dengan kakek yang sudah berpengalaman.


"Kenapa? Bukankah ini sebuah kejutan besar bagi kalian? Aku dan Ibu melakukan semua ini karena Kakek bersikap sangat tidak adil pada kami." Reina tidak merasa bersalah sama sekali.